Kutelungkupkan tubuhku di atas sofa besar di ruang tengah yang berdinding dan berlantai kayu. Kubuka lembaran buku tebal bersampul biru dan membaca setiap halamannya dalam diam.
"Jangan bilang kalau Eri lagi yang membuatmu serius seperti itu."
Aku langsung menolehkan kepalaku dan melihat separuhku, gadis mungil dengan rambut pendeknya yang diikat seadanya, juga kaos longgar yang selalu menutupi tubuhnya, sudah berdiri di sampingku.
"Bukan, Ayy.. tapi sosok lain yang hadir setelahnya," jawabku sambil beranjak duduk. Buku tebal bersampul biru yang tadi kubaca kudekap di dadaku.
Aya mengernyitkan keningnya, "Apa kau sudah pernah bercerita tentang dia padaku?" tanyanya.
Aku ikut mengernyitkan kening, mencoba mengingat-ingat, "Mmmh... mungkin sudah, tapi hanya sekilas."
Gadis berparas ayu itu segera duduk di sampingku. "Ayo ceritakan. Ini akan menjadi dongeng kala hujan kita yang baru, setelah dongeng tentang Eri-mu dan Shin-ku dulu."
Tangan kecilnya mendekap lenganku dengan erat, entah untuk merayuku atau untuk menghangatkan tubuhnya dari udara dingin akibat hujan yang turun lebat di luar.
Aku tertawa melihat senyumnya, separuhku ini sedikit tomboi, tapi dia selalu bersikap manja dan menggemaskan. Sifat yang selalu mampu menghapus segala dukaku.
"Ayo cepat...!!!" paksanya.
"Baiklah, bawel...!" candaku, dan aku kembali tergelak melihat bibir merahnya yang langsung cemberut.
Aku menghela napas panjang, "Oke... dengarkan, ya?" mulaiku. "Namanya Thomas. Dia hadir beberapa tahun setelah kepergian Eri. Awalnya dia hadir hanya sebagai kolega bisnis saja. Dia bekerja di perusahaan lain yang menjalin kerjasama dengan perusahaan tempatku bekerja."
Aya menyimak ceritaku dengan seksama. Mata beningnya yang sedikit besar tampak berbinar. Kali ini tak ada komentar, dia benar-benar diam seakan tak ingin dongeng yang kumulai ini terputus.
"Dari pertemuan-pertemuan rutin yang selalu membahas pekerjaan, akhirnya kami menjalin hubungan yang lebih dalam lagi," lanjutku.
"Kami mulai mengenali satu sama lain. Mulai berbagi cerita tentang hal-hal yang pribadi. Dan dia mulai membuatku nyaman dengan segala perhatian dan kebaikannya. Lalu kami memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai kekasih."
Aku sedikit memberi jeda pada ceritaku sembari mengingat hal-hal yang ingin aku ceritakan.
"Usia Thomas terpaut lima tahun di atasku. Dia lucu, supel, tapi agak slengean. Sifat terakhirnya kerap kali membuatku darah tinggi. Dibilang dewasa itu juga enggak, tapi dia selalu menjagaku. Terkadang dia begitu baik, begitu perhatian. Tapi pada saat berbeda dia begitu tak peduli. Bersamanya seperti bermain Roller Coaster," aku kembali memberi jeda sembari menerawang.
"Apa dia menyakitimu?" tanya Aya dengan hati-hati. Mungkin dia takut menyinggungku.
Aku tersenyum sembari mengusap tangannya yang masih melingkari lenganku, "Mungkin justru akulah yang menyakiti diriku sendiri, Ay.." jawabku lirih. Bisa kurasakan tangan Aya menegang.
"Aku selalu mencoba tak menghiraukan sifatnya yang seperti itu. Setiap kali aku marah atau kesal, dia selalu mampu membuatku memaafkannya. Dia pandai merayu. Bukan... bukan gombal," ralatku.
"Saat aku sedang kesal... dia selalu punya cara untuk kembali membuatku tersenyum, bahkan tertawa. Dia tahu semua kesukaanku, hal-hal yang mampu membuatku bahagia."
"Dia pernah menjagaku semalaman di kantor saat aku harus lembur dan tak bisa pulang," aku melanjutkan cerita. "Dia pernah menerobos hujan saat malam hari ketika mendengar aku mengalami kecelakaan kecil, lalu memaki dirinya sendiri karena terlambat menjemputku. Dia pernah, bahkan selalu memelukku di saat aku merasa begitu lelah. Dan di satu sisi dia juga pernah membiarkanku sendiri saat malam tahun baru. Malam dimana dia pernah berjanji untuk menemaniku hingga pagi. Berjanji untuk menyambut matahari pertama di awal tahun, berdua. Tapi dia menghilang dan tak ada kabar, bahkan smspun tak kuterima."
"Kejam..." desis Aya yang semakin erat memeluk lenganku.
Aku menyandarkan punggungku pada sofa dan menatap langit-langit yang juga terbuat dari kayu. Lembar kenang itu semakin terbuka lebar dan menorehkan perih yang dulu juga pernah aku rasakan. Suara gemuruh badai dan halilintar di luar seakan menjadi musik pengiring yang pas untuk hati yang mulai terasa memanas.
"Berkali-kali aku diingatkan oleh seorang teman untuk tak selalu mempercayai Thomas, tapi cinta membutakanku. Aku selalu menanggapi nasehat temanku dengan senyum, dan tetap menaruh kepercayaan besar terhadap laki-laki itu. Terus kucoba memahami alasan-alasan yang dikatakannya, entah itu sedang sibuk, tugas luar kota, atau apalah lagi. Hingga suatu hari..." aku menghentikan sejenak ceritaku untuk menyiapkan hati agar tak merasakan luka seperti dulu lagi, walau sisa kecewa mulai muncul di permukaan.
Aya menyandarkan kepalanya pada bahuku, memeluk lenganku semakin erat, seakan ingin memberikan sedikit kekuatannya padaku. " Lalu?" bisiknya.
Aku tersenyum tipis, "Suatu hari aku menelponnya karena dia tak juga datang pada malam itu, malam Valentine pertama kami. Dia tampak gugup saat kutanya dia sedang dimana, sementara aku sudah siap sejak satu jam yang lalu. Dia bilang mendadak dia ada tugas kantor yang tak bisa ditinggalkan. Sekali lagi aku mencoba untuk memahaminya, hingga tiba-tiba seseorang merebut ponselnya, seorang perempuan."
aku kembali menghentikan ceritaku untuk menarik napas panjang.
"Siapa perempuan itu?" tanya Aya penasaran.
Aku mencoba mengeja irama jantungku, dan sedikit lega karena apa yang aku kuatirkan tak terjadi. Aku baik-baik saja, dan aku siap melanjutkan kisahku.
"Perempuan itu memakiku dengan kasar, dia langsung menyebutku perempuan ga benar karena telah merebut kekasihnya."
Bisa kudengar napas Aya yang tercekat, jarinya yang memeluk lenganku sedikit bergetar.
"Entah makian apa saja yang terlontar dari perempuan itu, aku tak ingat lagi karena saat itu juga aku merasakan kosong pada kepala dan dadaku. Kututup sambungan telponnya dan aku mengurung diri di dalam kamar. Menangis? Ya... aku menangis semalaman. Rekaman sejak awal bersamanya kembali terputar di kepalaku. Nasehat-nasehat temankupun kembali terngiang."
Tangan Aya kini tak melingkari lenganku lagi, tapi justru memeluk erat bahuku sambil mengusapnya dengan lembut.
"Keesokan harinya aku bercerita pada temanku. Temanku begitu marah dan geram. Temanku bilang kalau dia sudah mendengar berita miring tentang Thomas yang memiliki banyak kekasih, dan berusaha untuk mengingatkanku. Dia bilang kalau banyak kebohongan pada alasan-alasan lelaki itu saat mengingkari janjinya. Dan dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, hanya saja aku terlalu tuli untuk mendengarkan nasehatnya. Akhirnya aku hanya bisa membesarkan hatiku sendiri."
Aya tetap diam, dia tak berkata apa-apa, tapi usapannya tak berhenti.
"Beberapa hari kemudian Thomas menemuiku," lanjutku. "Dia meminta maaf dan mengatakan kalau apa yang dikatakan perempuan di telpon itu adalah bohong. Dan mengatakan ribuan alasan yang mulai tak masuk akal. Karena sudah terlalu lelah oleh semua kebohongannya selama ini akupun tak mampu meluapkan amarahku. Aku hanya bisa diam tanpa mendengarkan apa saja yang diucapkannya," kataku sambil menyandarkan kepalaku pada kepala gadis yang kuduga tengah menahan tangis itu. Gadis yang selalu ikut merasakan apa yang aku rasakan. Separuhku yang begitu berharga.
"Dan hari itu juga aku memutuskan ikatan kami, walau dia menolak. Dia berusaha menahanku, tapi saat itu hatiku benar-benar mati rasa. Kutinggalkan dia dengan senyum. Aku tak ingin memiliki musuh, oleh karena itu aku memaafkannya lagi, tapi bukan untuk kembali."
Aya menghela napas panjang, sepertinya dia lega karena saat itu aku tak menangis. "Lalu kenapa kau buka lagi buku itu? Kenapa tak kau bakar hangus saja dan membiarkannya menjadi abu?" tanyanya.
Aku tersenyum pada gadis yang memandang marah pada buku yang kudekap, "Dia memang bukan mantan terindah, tapi dia pernah membuatku bahagia walau hanya sebentar, dan semu," jawabku.
"Aku bertemu dengannya lagi kemarin, setelah beberapa tahun aku hilang kabar akannya."
Aya tampak terkejut, "Terus?"
"Shock? Iya pasti. Aku merasakan getar walau tak sehebat dulu. Pertemuan kami kemarin mau tak mau membuka lagi lembar kenang yang sudah kututup. Tapi aku senang bisa memaafkannya dulu, sehingga tak ada lagi dendam saat berbincang dengannya kemarin," kataku dengan senyum lebar.
"Dasar laki- laki kurang ajar, kalau aku bertemu dia pasti sudah kumaki habis-habisan," gerutu Aya yang membuatku tergelak dan memeluk separuhku itu seeratnya.
"Aku tak pernah berhasil dalam cinta, Ayy.. bahkan saat inipun kau tahu kalau aku menaruh harapan pada lelaki yang salah, bukan?" bisikku.
Aya membalas pelukanku, "Tapi kau akan selalu memilikiku, Hunny... aku tak akan pernah pergi, sejauh apapun jarak memisahkan kita nantinya," ucapmu yang segera meluruhkan tetesan airmata di pipiku.
Aku mengangguk dalam diam. Aku sadar, dan sangat sadar. Aku kuat dan mampu bertahan selama ini karena ada dia di sisiku, Aya-ku.
"Dia pernah menjagaku semalaman di kantor saat aku harus lembur dan tak bisa pulang," aku melanjutkan cerita. "Dia pernah menerobos hujan saat malam hari ketika mendengar aku mengalami kecelakaan kecil, lalu memaki dirinya sendiri karena terlambat menjemputku. Dia pernah, bahkan selalu memelukku di saat aku merasa begitu lelah. Dan di satu sisi dia juga pernah membiarkanku sendiri saat malam tahun baru. Malam dimana dia pernah berjanji untuk menemaniku hingga pagi. Berjanji untuk menyambut matahari pertama di awal tahun, berdua. Tapi dia menghilang dan tak ada kabar, bahkan smspun tak kuterima."
"Kejam..." desis Aya yang semakin erat memeluk lenganku.
Aku menyandarkan punggungku pada sofa dan menatap langit-langit yang juga terbuat dari kayu. Lembar kenang itu semakin terbuka lebar dan menorehkan perih yang dulu juga pernah aku rasakan. Suara gemuruh badai dan halilintar di luar seakan menjadi musik pengiring yang pas untuk hati yang mulai terasa memanas.
"Berkali-kali aku diingatkan oleh seorang teman untuk tak selalu mempercayai Thomas, tapi cinta membutakanku. Aku selalu menanggapi nasehat temanku dengan senyum, dan tetap menaruh kepercayaan besar terhadap laki-laki itu. Terus kucoba memahami alasan-alasan yang dikatakannya, entah itu sedang sibuk, tugas luar kota, atau apalah lagi. Hingga suatu hari..." aku menghentikan sejenak ceritaku untuk menyiapkan hati agar tak merasakan luka seperti dulu lagi, walau sisa kecewa mulai muncul di permukaan.
Aya menyandarkan kepalanya pada bahuku, memeluk lenganku semakin erat, seakan ingin memberikan sedikit kekuatannya padaku. " Lalu?" bisiknya.
Aku tersenyum tipis, "Suatu hari aku menelponnya karena dia tak juga datang pada malam itu, malam Valentine pertama kami. Dia tampak gugup saat kutanya dia sedang dimana, sementara aku sudah siap sejak satu jam yang lalu. Dia bilang mendadak dia ada tugas kantor yang tak bisa ditinggalkan. Sekali lagi aku mencoba untuk memahaminya, hingga tiba-tiba seseorang merebut ponselnya, seorang perempuan."
aku kembali menghentikan ceritaku untuk menarik napas panjang.
"Siapa perempuan itu?" tanya Aya penasaran.
Aku mencoba mengeja irama jantungku, dan sedikit lega karena apa yang aku kuatirkan tak terjadi. Aku baik-baik saja, dan aku siap melanjutkan kisahku.
"Perempuan itu memakiku dengan kasar, dia langsung menyebutku perempuan ga benar karena telah merebut kekasihnya."
Bisa kudengar napas Aya yang tercekat, jarinya yang memeluk lenganku sedikit bergetar.
"Entah makian apa saja yang terlontar dari perempuan itu, aku tak ingat lagi karena saat itu juga aku merasakan kosong pada kepala dan dadaku. Kututup sambungan telponnya dan aku mengurung diri di dalam kamar. Menangis? Ya... aku menangis semalaman. Rekaman sejak awal bersamanya kembali terputar di kepalaku. Nasehat-nasehat temankupun kembali terngiang."
Tangan Aya kini tak melingkari lenganku lagi, tapi justru memeluk erat bahuku sambil mengusapnya dengan lembut.
"Keesokan harinya aku bercerita pada temanku. Temanku begitu marah dan geram. Temanku bilang kalau dia sudah mendengar berita miring tentang Thomas yang memiliki banyak kekasih, dan berusaha untuk mengingatkanku. Dia bilang kalau banyak kebohongan pada alasan-alasan lelaki itu saat mengingkari janjinya. Dan dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, hanya saja aku terlalu tuli untuk mendengarkan nasehatnya. Akhirnya aku hanya bisa membesarkan hatiku sendiri."
Aya tetap diam, dia tak berkata apa-apa, tapi usapannya tak berhenti.
"Beberapa hari kemudian Thomas menemuiku," lanjutku. "Dia meminta maaf dan mengatakan kalau apa yang dikatakan perempuan di telpon itu adalah bohong. Dan mengatakan ribuan alasan yang mulai tak masuk akal. Karena sudah terlalu lelah oleh semua kebohongannya selama ini akupun tak mampu meluapkan amarahku. Aku hanya bisa diam tanpa mendengarkan apa saja yang diucapkannya," kataku sambil menyandarkan kepalaku pada kepala gadis yang kuduga tengah menahan tangis itu. Gadis yang selalu ikut merasakan apa yang aku rasakan. Separuhku yang begitu berharga.
"Dan hari itu juga aku memutuskan ikatan kami, walau dia menolak. Dia berusaha menahanku, tapi saat itu hatiku benar-benar mati rasa. Kutinggalkan dia dengan senyum. Aku tak ingin memiliki musuh, oleh karena itu aku memaafkannya lagi, tapi bukan untuk kembali."
Aya menghela napas panjang, sepertinya dia lega karena saat itu aku tak menangis. "Lalu kenapa kau buka lagi buku itu? Kenapa tak kau bakar hangus saja dan membiarkannya menjadi abu?" tanyanya.
Aku tersenyum pada gadis yang memandang marah pada buku yang kudekap, "Dia memang bukan mantan terindah, tapi dia pernah membuatku bahagia walau hanya sebentar, dan semu," jawabku.
"Aku bertemu dengannya lagi kemarin, setelah beberapa tahun aku hilang kabar akannya."
Aya tampak terkejut, "Terus?"
"Shock? Iya pasti. Aku merasakan getar walau tak sehebat dulu. Pertemuan kami kemarin mau tak mau membuka lagi lembar kenang yang sudah kututup. Tapi aku senang bisa memaafkannya dulu, sehingga tak ada lagi dendam saat berbincang dengannya kemarin," kataku dengan senyum lebar.
"Dasar laki- laki kurang ajar, kalau aku bertemu dia pasti sudah kumaki habis-habisan," gerutu Aya yang membuatku tergelak dan memeluk separuhku itu seeratnya.
"Aku tak pernah berhasil dalam cinta, Ayy.. bahkan saat inipun kau tahu kalau aku menaruh harapan pada lelaki yang salah, bukan?" bisikku.
Aya membalas pelukanku, "Tapi kau akan selalu memilikiku, Hunny... aku tak akan pernah pergi, sejauh apapun jarak memisahkan kita nantinya," ucapmu yang segera meluruhkan tetesan airmata di pipiku.
Aku mengangguk dalam diam. Aku sadar, dan sangat sadar. Aku kuat dan mampu bertahan selama ini karena ada dia di sisiku, Aya-ku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar