Mungkin
aku yang bisa dikatakan gagal mengendalikan perasaanku, hingga setiap kali kau
di dekatku aku tak kuasa membendung debaran yang seharusnya tak lagi ada.
Bukankah sudah dengan sangat nyata kalau kau tak lagi memiliki perasaan apapun
padaku, selain teman dekat mungkin? Atau teman yang hanya kau ingat saat kau
membutuhkannya.
Dengan bodohnya aku masih merasakan perasaan melambung ketika
kau menelponku, menanyakan kabarku, mengajakku makan siang, bercerita hal
konyol yang kau lakukan sepanjang hari. Lalu dengan tak tahu malu perasaan
sakit bak ditikam trisula tak kasat mata itu hadir saat kau mulai bercerita
tentang dia. Dia yang mungkin telah menggantikan kedudukanku di hatimu.
Mengapa hanya aku yang dimanja harapan semu? Sedangkan kau telah melangkah maju dari halaman kitab masa lalu. Bagian mana yang salah? Ketidakmampuanku untuk mengajak hati berdamai agar tak terpengaruh dengan perhatian-perhatianmu lagi, atau memang sejak dulu perasaanmu tak cukup kuat untukku?
Bisakah sekali saja kau peka pada perasaanku? Memahami untuk pertama sekaligus terakhir kali bahwa aku terluka, namun aku kehilangan kata untuk mengungkapkannya padamu.
Kau begitu bersemangat untuk memahami bahasa tubuhnya, sedangkan bahasa diamku selalu kau artikan bahwa aku baik-baik saja.
---------------------------------------------------------------------
Tulisanku? Bukan...
ini milik Aya untuk cerpen barunya. Tapi entah kenapa aku seperti ditampar
hingga menangis.

Inilah tulisan yang bahkan terlupakan oleh sang penulisnya sendiri, hahaha
BalasHapus