Kamis, 27 Juni 2013

Rindu Itu...

Rindu itu...
Adalah saat dimana kamu merasa tak nyaman melakukan apapun
Dimana kamu enggan beranjak dari tempatmu duduk atau berbaring
Saat dimana kamu merasa kalau semua tak baik-baik saja.

Rindu itu...

Kadangkala membuatmu tersenyum simpul
Membuatmu tenggelam dalam sebuah debaran halus
Membuatmu memilih di antara dua pilihan
Bernyanyi... atau berteriak 

Rindu itu...

Terkadang mungkin menyakitkan
Tapi kenapa tak dibuat indah saja?
Bukankah rasanya menyenangkan masih memiliki rindu?

Dan rindu bagiku...

Adalah ketika hujan turun dengan derasnya 
Menyejukkan kulit hingga ke hati
Dimana aku masih mampu menari di bawah rinainya
Dengan iringan musik dari bisikanmu yang mengalun di antara tetesannya





Rabu, 26 Juni 2013

Dilema

Tak ingin melihat, tapi terlihat.
Tak ingin merasa, tapi terasa.
Enggan melepas, tapi ingin terlepas.

Adakalanya ingin menghilang,
dan adakalanya tak mampu pergi.

Dilema...
Serba salah yang mengikat
antara ada dan tiada
antara butuh dan tak butuh
antara suka dan benci.

Kosong...
Justru pada saat otak terisi ribuan penghuni.
Tak mampu berpikir,
atau tak ingin berpikir,
hanya diam dan menatap pasrah.

Ingin kembali pada garis awal,
memutar waktu hingga ke titik semula,
dimana hanya ada aku...
Bukan kita.




The Lost Power

Terkadang rasa kesal itu begitu melelahkan. Tapi tetap saja tak mampu bersikap tak peduli. 
Ingin menolak, bersikap tegas dengan mengatakan TIDAK, tapi hanya omong kosong yang terucap, yang pada akhirnya mengikat diri dengan penyesalan.

Ah Stupid... 

Mencoba jujur saja beratnya selaksa memanggul karang. Harusnya fungsi hati bisa diminimalisir lagi. melatih hati untuk tidak terus merasa kasihan, melatih perasaan untuk mengurangi rasa tak tega. Lebih keras lagi berusaha untuk menghargai diri sendiri.

Ikatan ini memang tak kuat, simpulnya pun terkesan lemah. Tapi ada rasa tak berdaya untuk melepas tali yang sudah menjelma menjadi belenggu. Hanya membutuhkan sepatah kata untuk mengakhiri semua, tapi lidah terasa kelu dan kaku. 

Lalu dimana kuatku? 




Rabu, 19 Juni 2013

Tawa kita

Dalam bilangan angka yang terus bergulir, entah berapa ribu tawa yang kita bagi, berapa ribu tetesan airmata yang tercurah dan lebur bersama hujan? Berapa lembar bukuan hari yang bercerita tentang badai? Tapi pada akhirnya selalu ada pelangi di akhir kisah. 

Kau, Puan Hujanku... yang selalu melangkah bersamaku... 
Terkadang jalan yang kita tempuh tak begitu halus, tak jarang kerikil kecil bahkan karang terjal menghadang di depan. Tapi kita tetap berjalan, entah itu dengan tertatih ataupun terseok. Kita tetap memandang ke depan, tersenyum pada matahari senja yang hampir terbenam di ufuk barat. 

Kita berlari, dan berhenti saat kita lelah. Mengistirahatkan raga juga jiwa letih kita. Bersandar pada sebuah pohon rindang yang menjaga kita dari panasnya kemarau. Hingga kita kembali segar dan mampu melanjutkan perjuangan kita, bukan untuk menyerah.

Tak peduli berapa banyak peluh membanjiri wajah dan tubuh kita. Darah yang mengalir akibat luka pun tak kita hiraukan sakitnya. Kita tetap tersenyum, mensyukuri semua yang terjadi, entah itu suka ataupun duka.

Kenapa kita bisa? Walau ribuan rintihan juga keluhan kerap mengalun dari bibir-bibir kita. Kenapa kita mampu? Kita masih bisa bernyanyi dan tertawa di bawah hujan, menari di bawah derasnya sembari mengarang bentuk dan warna pelangi milik kita sendiri saat hujan reda nanti. 

Karena kita bersama, sayang... karena aku dan kamu tak pernah sendiri, karena tangan-tangan kita terus bertautan. 

Karena kekuatanmu mengalir ke dalam tubuhku melalui jalinan jemari kita :) 

Tetaplah tersenyum, Puan Hujan-ku... bersamaku.