Sabtu, 23 April 2016

IMPIANKU, KITA.

"Via... Apa keinginan kamu? Sesuatu yang selalu hadir dalam impian kamu?" Tanyanya.

Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum, memejamkan mata dan membayangkan sebuah tempat yang luar biasa indahnya, "Aku bermimpi tinggal di sebuah rumah kayu di atas bukit hijau yang tak terlalu tinggi dan menghadap pantai. Dimana setiap pagi akan kuhabiskan waktuku berjalan di atas rerumputan dan menikmati matahari terbit dari balik bukit tinggi di belakang rumah, lalu sore hatinya turun ke bawah dan duduk di tepian pantai untuk menyaksikan matahari terbenam," jawabku masih dengan memejam.

Kudengar tawanya yang pelan dan renyah, "Indah," bisiknya. Bisa kurasakan tangannya yang kemudian menggenggam dan mengusap lembut punggung tanganku. 
"Dengan siapa kamu ingin tinggal di sana?" Tanyanya lagi.

Kubuka mataku perlahan dan bertemu mata teduhnya yang memandangku dengan begitu lembut. Tak mampu kutahan senyumku saat perasaan hangat menjalari dadaku, "Jika tidak bersamamu maka aku akan tinggal sendiri," jawabku, dan bisa kulihat senyumnya mengembang sempurna, senyum yang selalu mampu membuatku memberikan segalanya untuknya.

"Sendiri? Yakin? Kamu kan penakut?" Godanya sambil menarik hidungku dengan tangannya yang tak menggenggamku. Tawanya terdengar begitu renyah, seperti suara ombak yang baru saja kubayangkan.

Aku langsung terbelalak mendengar ejekannya. Segera saja kutegakkan kepala dan posisi dudukku, "Baiklah... kalau kamu tak mau tinggal bersamaku maka aku akan memelihara seekor anjing Siberian Husky berwarna putih abu-abu. Dia yang akan menemaniku kemanapun aku pergi, sehingga tak akan ada orang jahat atau hantu yang berani menggangguku," jawabku lagi penuh keyakinan.

Kali ini dia tergelak lalu memelukku dengan begitu eratnya, aku yang sempat cemberut pun luluh dan ikut tertawa bersamanya. Kunikmati kehangatan tubuhnya yang menyelimutiku, mendengarkan gemuruh dadanya yang riuh oleh bentuk suara yang sudah menjadi candu bagiku. Tahukah dia kalau aku rela menukarkan apa saja agar dapat membuatnya bahagia? Bahkan mungkin akan kutukar bahagiaku demi dia.

“Kamu tak ingin bertanya apa mimpiku?” tanyanya setelah tawa kami reda.

Kujauhkan sedikit tubuhku dari dekapannya untuk melihat matanya yang sudah kembali menatapku dengan penuh rasa, “Apa impianmu?” tanyaku akhirnya.

Bibirnya yang sedikit merah dan tipis tersenyum lagi, matanya tak lepas menatapku, “Aku memiliki impian agar di kehidupan berikutnya aku bisa mewujudkan semua mimpimu yang mungkin tak bisa kuwujudkan di kehidupan kita saat ini,” bisiknya lembut dan membuatku hanya mampu membuka sedikit mulutku seakan tak percaya. 
“Tentu saja dengan ada aku di dalamnya, bersamamu... juga Siberian Husky kita.”

Bisikan terakhirnya tak mampu membendung airmataku. Ya... masih banyak waktu dimana kehidupan akan terus berganti. Semoga takdir mau mendengarkan doa kami sehingga pada kehidupan berikutnya dia tak mempertemukan kami pada waktu dan tempat yang salah lagi. 

Semoga.



Sabtu, 09 April 2016

Sebelas Tahun Yang Entah

Ri...
Happy Birthday. Selamat untuk hari lahirmu.
Terima kasih telah menemaniku walau hanya beberapa tahun saja. Tahukah kau kalau tahun-tahun bersamamu adalah yang terindah?

Ini tahun ke-sebelas dimana kuucapkan ini tanpa kamu. Apakah kamu merindukan kebersamaan kita? Canda tawa dan semua pertengkaran kita? Tak rindukah kau memelukku kala aku bersedih? Andai kau tahu betapa saat ini aku membutuhkanmu, merindukanmu.

Ri... Aku masih belum tahu bagaimana makna bahagia yang sesungguhnya. Atau mungkin aku saja yang terlalu buta? Bahkan mungkin aku juga belum mampu memahami seperti apa makna cinta yang sebenarnya.

Aku terlalu sibuk dengan perasaan yang tak tentu arah, sibuk menentukan jalan yang HARUS kupilih, bukan yang SEBAIKNYA kupilih.

Ri... Sudahkah kau menjadi bintang di atas sana? Tak inginkah kau mengajakku duduk di antara gugusan Bima Sakti lalu mengiringi laguku lagi dengan petikan gitarmu seperti dulu? Hei... jangan-jangan para Bidadari itu telah menggantikan tempatku di sisimu? Haruskah aku cemburu? Secantik apa mereka? Apakah suaranya lebih merdu dari suaraku? 
Hehe... tak apa, aku tak akan marah, aku janji.

Ri... Aku ingin bersandar di bahumu, lalu menceritakan semua yang telah terjadi saat tak ada lagi tanganmu yang menggenggamku, saat tak ada lagi lenganmu yang mendekapku.

Sebelas tahun yang entah, Ri... 
Aku serupa dedaun yang dipermainkan angin tanpamu.