Senin, 09 Maret 2015

Destiny

Lagi... ada rindu yang diam-diam menyusup ke dalam mimpi malam tadi, menyibak kembali tirai kenang yang lama tertutup dan mengusang. Tahukah jika wajahmu kembali mampu membuatku terpaku dan membatu? Hei... aku sungguh rindu.

Disaat waktu kembali memutar pita memori yang telah tergulung rapi, apa yang bisa mencegah airmata? Bukan tentang temu yang seharusnya tak perlu, ataupun tentang kepergian yang ditolak sekeras hati. Adalah tentang waktu yang tak mampu mengikis kisah miris yang terurai tanpa kata pun aksara.

Satu dekade menyisakan luka, menyisakan kepedihan juga kekosongan yang belum mampu terisi penuh oleh sesuatu yang baru. Satu dekade memancang tapak duka yang enggan lupa, meninggalkan sebentuk asa yang tak pernah berubah arah. Juga sebuah tanya, "Mengapa?"

Mungkin seperti inilah bentuk sebuah takdir, siapa yang mampu menebak sebuah akhir? Jika esok tak pernah datang lagi untuk kita, siapa yang mampu mencela? Salah Tuhan, kah?

Sepuluh tahun tanpamu.... sebesar inilah rinduku.
Tahukah kamu jika semua masih utuh? Masih seperti dulu ketika kita merajut tawa dan canda  sepanjang waktu. Masih sempurna seperti masa dimana kita tak mengenal airmata.

Aku merindukanmu, sungguh. Dengan segenap rasa juga asa yang pernah ada.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar