Dandelion...
Bunga rumput berwarna putih yang sangat sangat sangat cantik.
Kenapa aku baru sadar, tanyamu?
Bukan baru sadar, aku sudah suka sejak dulu, hanya suka. Tapi melihat betapa cantiknya dia berada di antara ilalang membuatku semakin cinta.
Ilalangmu, Dandelion kita... :D
Tampaknya rapuh, tapi kita tahu betapa kuatnya dia.
Bunga cantik yang terlupakan, tapi lebih mampu mempertahankan dirinya, sendiri.
Walau terinjak-injak dia tetap hidup.
Aku ingin seperti dia, sayang...
Ingin bertahan dan hidup dengan perjuanganku sendiri, bersamamu :)
Saat angin meniup putik-putiknya hingga beterbangan,
saat itu yang aku bayangkan adalah serbuk ceriamu, haha...
Sungguh aku ingin berada di padang kita.
Menjadikan ilalang sebagai kasur bagi tubuh dan jiwa letih kita.
Memetik puluhan batang Dandelion, dan menyematkannya di rambutmu,
juga rambutku, sebagai mahkota.
Dan menjadi Ratu... untuk diri kita sendiri.
Rabu, 27 Maret 2013
Sabtu, 23 Maret 2013
A Wonderfull Night ( By. Aya )
Di
bawah pohon rindang satu-satunya yang sering kita lewati dalam
perjalanan pulang dan pergi itu, Wa, akan kubangun sebuah tenda yang
ujungnya kuikat pada tiap cabang pohon, dimana kenangan berlarian
berlintas usia. Lalu kubentangkan sebuah kain di atas rerumputan,
mengajakmu mengeja bahasa langit. Hanya berdua…
Masihkah kau ingat ucapanku beberapa waktu yang lalu itu? Di suatu pagi hening, di beranda belakang rumah yang kita jadikan ruang sarapan ketika kelintingan besi yang kita pasang diam mematung tanpa sapa angin. Di antara dua cangkir berisi teh hangat yang tinggal separuh, dan dua piring omelet daging sapi yang nyaris tak bersisa. Aku masih merekam ekspresi wajahmu seusai aku mangucapkan kata-kata itu. Matamu yang berpijar ceria, senyuman yang menghiasi parasmu, dan genggaman tanganmu pada jemariku. Kau selalu menguatkanku, meyakinkanku bahwa aku pasti bisa mewujudkan keinginanku itu.
Dan hari ini, sengaja aku tak memberitahumu akan kepulanganku yang dipercepat. Ramalan cuaca yang kudengar mengatakan kalau hari ini akan cerah sepanjang hari. Bukankah ini waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginanku itu?
Sesegera mungkin aku melepas seragam kerjaku dan menukarnya dengan pakaian santai. Kuambil bergulung kain panjang yang selama ini menghuni sebuah peti kecil di dalam gudang. Untunglah tak terlalu berat. Dengan penuh semangat aku membawa kain-kain itu beserta kotak perkakas ke tanah lapang penuh rerumputan tak jauh dari rumah kita, tepat di bawah pohon rindang itu. Kukeluarkan gunting, tali, palu, dan beberapa batang paku dari kotak perkakasku. Aku mulai membangun tenda impianku dengan perasaan begitu riang, sambil sesekali bersenandung, melantunkan lagu dengan lirik yang kukarang sendiri. Ah, rasanya begitu menyenangkan.
Ketika cahaya matahari semakin meredup, memunculkan awalan senja, pekerjaanku berakhir. Aku bertepuk tangan penuh luapan kegembiraan melihat tendaku yang terbangun indah. Ternyata, aku tak hanya membangun satu, melainkan dua tenda sekaligus. Tenda yang lebih kecil kuisi dengan bermacam-macam perbekalan makanan. Satu kotak berisi minuman ringan dan segala camilan. Kau pasti tertawa melihat penampilanku saat ini, Wa. Badan yang lengket dengan keringat, debu, serpihan dedaunan kering, dan rumput-rumput kering. Aish, memalukan sekali. Tapi aku puas!
Hemmm, satu jam lagi kau pulang. Sebaiknya aku segera mandi dan mempersiapkan diri. Tapi sebelum itu aku akan mengirimkan sms padamu, memintamu mandi di kantor saja. Bisa berantakan rencanaku kalau kau pulang melewati jalanan yang biasa. Nanti aku akan menjemputmu di ujung jalan, dan menutup matamu agar kau benar-benar mendapatkan kejutan. Hohoho, kau memang jenius, Aya!
Menunggu senja semakin meredup dan hamparan langit berubah warna kali ini terasa begitu lama. Sudah 5 menit aku berdiri di ujung jalan, menanti kau pulang. Dan tak lama aku melihatmu. Walaupun kau terlihat segar, tapi aku masih menangkap gurat lelah di wajahmu. Tenang saja, malam ini lelahmu akan sirna.
Kuberikan sebuah senyuman untuk menyambutmu yang kau balas dengan senyuman tak kalah manis. Kukeluarkan kain tak seberapa panjang dari saku celanaku yang membuatmu menatapku penuh tanya. Dengan cengiran jahil, aku memintamu tak bertanya apa-apa, da menurut saja ketika aku menutup matamu dengan kain penutup mata itu. Mungkin karena terlalu lelah, kau diam tanpa membantah.
Kita berjalan menyusuri jalan setapak tanpa suara. Aku menggandeng tanganmu dengan riang, menuntunmu agar kau tak salah jalan. Dan tak seberapa lama kita telah tiba di depan tenda yang kubina. Perlahan kulepaskan penutup matamu. Sepasang mata indahmu berkedip beberapa saat, menyesuaikan diri dengan suasana. Dan tak lama kudengar teriakan hebohmu yang membuatku sontak menutup telinga. Hahaha, kau lucu sekali. Apalagi dengan tingkahmu yang sempat meloncat-loncat itu. Aku hanya geleng-geleng kepala.
Kau memelukku. Dalam penerangan seadanya dari lentera yang kugantung di beberapa sudut, terlihat jelas aliran bening merambat pipi mulusmu. Berkali kau mengucapkan terima kasih di antara isakanmu. Agak berjinjit kutepuk-tepuk punggungmu. Demi Tuhan, bisakah kau singkirkan high heels sialan yang membuat beda tinggi antara kita semakin kentara itu?
Tawamu terdengar meriah ketika high heels tak berdosa itu kau lempar seenaknya entah kemana. Kau lalu masuk ke dalam tenda dan mengganti blazer yang seharian melekat di tubuhmu dengan baju santai yang sudah kusiapkan di dalam. Setelah selesai kau langsung menyusulku duduk di rerumputan yang telah kualasi dengan kain. Aku tersenyum melihat penampilanmu. Rambutmu yang kau ikat ekor kuda. Kuulurkan segelas cokelat hangat, minuman wajib kita ketika senja ataupun malam tiba. Kau menyambutnya dengan senyuman berangkai ucapan terima kasih.
Hari semakin gelap, dan nyala lentera kita semakin temaram. Aku berbaring telungkup bertopang dagu di depanmu. Bercerita mengenai taman langit dan keajaibannya. Tentang mahkota langit malam berupa taburan bintang, tentang cahaya Aurora Borealis, rahasia rasi bintang, pun tentang hikayat bintang jatuh. Lalu kau bergantian bercerita. Matamu berpijar seakan berusaha mengalahkan cahaya lentera ketika kau mengisahkan bagaimana indahnya lengkung pelangi pada sore berselimut hujan di atas langit kantormu. Kau bilang, hujan selalu mengingatkanmu akan aku, dan pelangi mengingatkanmu pada keindahan bola mataku. Ah, kau membuatku tersipu.
Rembulan pucat malam ini. Di tengah ceritamu yang semakin seru, kau tiba-tiba menunjuk satu arah di sudut langit. Aku mengikuti arah telunjukmu. Aha, bintang jatuh! Kau memintaku membuat satu permohonan, dan aku terbahak mendengar perkataanmu. Kau masih saja mempercayai itu? Tapi baiklah, aku tak ingin mengecewakanmu. Kuubah posisiku yang semula berbaring menjadi duduk. Kutundukkan kepalaku, memejamkan kedua mataku, merapal satu permohonan dalam hati: Tuhan, aku tak meminta yang lain. Aku hanya meminta agar kau memberiku waktu yang lama untuk mendampinginya, Separuhku. Itu saja.

Masihkah kau ingat ucapanku beberapa waktu yang lalu itu? Di suatu pagi hening, di beranda belakang rumah yang kita jadikan ruang sarapan ketika kelintingan besi yang kita pasang diam mematung tanpa sapa angin. Di antara dua cangkir berisi teh hangat yang tinggal separuh, dan dua piring omelet daging sapi yang nyaris tak bersisa. Aku masih merekam ekspresi wajahmu seusai aku mangucapkan kata-kata itu. Matamu yang berpijar ceria, senyuman yang menghiasi parasmu, dan genggaman tanganmu pada jemariku. Kau selalu menguatkanku, meyakinkanku bahwa aku pasti bisa mewujudkan keinginanku itu.
Dan hari ini, sengaja aku tak memberitahumu akan kepulanganku yang dipercepat. Ramalan cuaca yang kudengar mengatakan kalau hari ini akan cerah sepanjang hari. Bukankah ini waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginanku itu?
Sesegera mungkin aku melepas seragam kerjaku dan menukarnya dengan pakaian santai. Kuambil bergulung kain panjang yang selama ini menghuni sebuah peti kecil di dalam gudang. Untunglah tak terlalu berat. Dengan penuh semangat aku membawa kain-kain itu beserta kotak perkakas ke tanah lapang penuh rerumputan tak jauh dari rumah kita, tepat di bawah pohon rindang itu. Kukeluarkan gunting, tali, palu, dan beberapa batang paku dari kotak perkakasku. Aku mulai membangun tenda impianku dengan perasaan begitu riang, sambil sesekali bersenandung, melantunkan lagu dengan lirik yang kukarang sendiri. Ah, rasanya begitu menyenangkan.
Ketika cahaya matahari semakin meredup, memunculkan awalan senja, pekerjaanku berakhir. Aku bertepuk tangan penuh luapan kegembiraan melihat tendaku yang terbangun indah. Ternyata, aku tak hanya membangun satu, melainkan dua tenda sekaligus. Tenda yang lebih kecil kuisi dengan bermacam-macam perbekalan makanan. Satu kotak berisi minuman ringan dan segala camilan. Kau pasti tertawa melihat penampilanku saat ini, Wa. Badan yang lengket dengan keringat, debu, serpihan dedaunan kering, dan rumput-rumput kering. Aish, memalukan sekali. Tapi aku puas!
Hemmm, satu jam lagi kau pulang. Sebaiknya aku segera mandi dan mempersiapkan diri. Tapi sebelum itu aku akan mengirimkan sms padamu, memintamu mandi di kantor saja. Bisa berantakan rencanaku kalau kau pulang melewati jalanan yang biasa. Nanti aku akan menjemputmu di ujung jalan, dan menutup matamu agar kau benar-benar mendapatkan kejutan. Hohoho, kau memang jenius, Aya!
Menunggu senja semakin meredup dan hamparan langit berubah warna kali ini terasa begitu lama. Sudah 5 menit aku berdiri di ujung jalan, menanti kau pulang. Dan tak lama aku melihatmu. Walaupun kau terlihat segar, tapi aku masih menangkap gurat lelah di wajahmu. Tenang saja, malam ini lelahmu akan sirna.
Kuberikan sebuah senyuman untuk menyambutmu yang kau balas dengan senyuman tak kalah manis. Kukeluarkan kain tak seberapa panjang dari saku celanaku yang membuatmu menatapku penuh tanya. Dengan cengiran jahil, aku memintamu tak bertanya apa-apa, da menurut saja ketika aku menutup matamu dengan kain penutup mata itu. Mungkin karena terlalu lelah, kau diam tanpa membantah.
Kita berjalan menyusuri jalan setapak tanpa suara. Aku menggandeng tanganmu dengan riang, menuntunmu agar kau tak salah jalan. Dan tak seberapa lama kita telah tiba di depan tenda yang kubina. Perlahan kulepaskan penutup matamu. Sepasang mata indahmu berkedip beberapa saat, menyesuaikan diri dengan suasana. Dan tak lama kudengar teriakan hebohmu yang membuatku sontak menutup telinga. Hahaha, kau lucu sekali. Apalagi dengan tingkahmu yang sempat meloncat-loncat itu. Aku hanya geleng-geleng kepala.
Kau memelukku. Dalam penerangan seadanya dari lentera yang kugantung di beberapa sudut, terlihat jelas aliran bening merambat pipi mulusmu. Berkali kau mengucapkan terima kasih di antara isakanmu. Agak berjinjit kutepuk-tepuk punggungmu. Demi Tuhan, bisakah kau singkirkan high heels sialan yang membuat beda tinggi antara kita semakin kentara itu?
Tawamu terdengar meriah ketika high heels tak berdosa itu kau lempar seenaknya entah kemana. Kau lalu masuk ke dalam tenda dan mengganti blazer yang seharian melekat di tubuhmu dengan baju santai yang sudah kusiapkan di dalam. Setelah selesai kau langsung menyusulku duduk di rerumputan yang telah kualasi dengan kain. Aku tersenyum melihat penampilanmu. Rambutmu yang kau ikat ekor kuda. Kuulurkan segelas cokelat hangat, minuman wajib kita ketika senja ataupun malam tiba. Kau menyambutnya dengan senyuman berangkai ucapan terima kasih.
Hari semakin gelap, dan nyala lentera kita semakin temaram. Aku berbaring telungkup bertopang dagu di depanmu. Bercerita mengenai taman langit dan keajaibannya. Tentang mahkota langit malam berupa taburan bintang, tentang cahaya Aurora Borealis, rahasia rasi bintang, pun tentang hikayat bintang jatuh. Lalu kau bergantian bercerita. Matamu berpijar seakan berusaha mengalahkan cahaya lentera ketika kau mengisahkan bagaimana indahnya lengkung pelangi pada sore berselimut hujan di atas langit kantormu. Kau bilang, hujan selalu mengingatkanmu akan aku, dan pelangi mengingatkanmu pada keindahan bola mataku. Ah, kau membuatku tersipu.
Rembulan pucat malam ini. Di tengah ceritamu yang semakin seru, kau tiba-tiba menunjuk satu arah di sudut langit. Aku mengikuti arah telunjukmu. Aha, bintang jatuh! Kau memintaku membuat satu permohonan, dan aku terbahak mendengar perkataanmu. Kau masih saja mempercayai itu? Tapi baiklah, aku tak ingin mengecewakanmu. Kuubah posisiku yang semula berbaring menjadi duduk. Kutundukkan kepalaku, memejamkan kedua mataku, merapal satu permohonan dalam hati: Tuhan, aku tak meminta yang lain. Aku hanya meminta agar kau memberiku waktu yang lama untuk mendampinginya, Separuhku. Itu saja.

Kamis, 21 Maret 2013
"Ilalang-ku"
Kamu yang duduk sendiri di tengah padang...
Apa yang kau lamunkan?
Merindukanku kah?
Kau tampak begitu nyaman
begitu tenang.
Jemarimu sibuk membelai pucuk-pucuk ilalang
yang membentang di sekelilingmu,
hingga kau abaikan, bahkan tertawa renyah
saat angin senja bermain dengan rambutmu.
Terkadang aku cemburu dengan rerumputan liar itu
kau jarang sekali ingin memalingkan wajahmu dari mereka
sesuka itukah dirimu?
Tapi akupun tak membutuhkan waktu lama
untuk bisa ikut menyukai mereka.
Melihat senyum dan tawamu saat bermain di tengah-tengahnya
adalah salah satu alasan kuatku
membiarkan padang ilalang itu tumbuh di belakang rumah kita
Kalau saja aku bisa
aku ingin menghadiahkan seluruh padang ilalang di muka bumi ini
untukmu...
Marahkah kau?
Kalau tiba-tiba saja aku mendekatimu
dan menutup kedua matamu dari belakang?
Bisakah kau menebak siapa aku?
Aku tak sabar melihat bibirmu yang cemberut
saat aku mengganggu kesenanganmu :)
Apa yang kau lamunkan?
Merindukanku kah?
Kau tampak begitu nyaman
begitu tenang.
Jemarimu sibuk membelai pucuk-pucuk ilalang
yang membentang di sekelilingmu,
hingga kau abaikan, bahkan tertawa renyah
saat angin senja bermain dengan rambutmu.
Terkadang aku cemburu dengan rerumputan liar itu
kau jarang sekali ingin memalingkan wajahmu dari mereka
sesuka itukah dirimu?
Tapi akupun tak membutuhkan waktu lama
untuk bisa ikut menyukai mereka.
Melihat senyum dan tawamu saat bermain di tengah-tengahnya
adalah salah satu alasan kuatku
membiarkan padang ilalang itu tumbuh di belakang rumah kita
Kalau saja aku bisa
aku ingin menghadiahkan seluruh padang ilalang di muka bumi ini
untukmu...
Marahkah kau?
Kalau tiba-tiba saja aku mendekatimu
dan menutup kedua matamu dari belakang?
Bisakah kau menebak siapa aku?
Aku tak sabar melihat bibirmu yang cemberut
saat aku mengganggu kesenanganmu :)
Jumat, 08 Maret 2013
Perempuanku
Sayang...
Ada rindu di sini.
Entah apa yang terjadi akhir-akhir ini, tapi aku membenci jarak yang tercipta di antara kita. Aku membenci alasan apapun yang membuat kau tak ada bersamaku pun sebaliknya. Tapi akan kukesampingkan semua egoku demi kamu, asal kamu tetap mampu tersenyum walau hatimu lelah dan terluka.
Sayangku...
Kadang aku berdoa sesuatu yang tak mungkin terkabul, tapi bermimpi juga tak ada salahnya, kan?
Aku meminta pada-Nya untuk mengembalikan waktu kita ke masa lalu. Mendewasakan pikir kita dan memutuskan kembali semuanya dari awal.
Andai saja aku menemukanmu sejak dulu, berbagi segalanya denganmu, mungkin mataku akan lebih terbuka, tak lebih rabun seperti saat ini. Sekali lagi, tak apa kan bermimpi? :)
Hari ini hari perempuan sedunia...
Dan kau telah menunjukkan juga mengajarkan padaku bagaimana menjadi perempuan kuat yang tak boleh kalah oleh airmata.
Kau perempuan tangguh, Sayangku... Perempuan hebat dengan tawa laksana hujan. Terima kasih telah hadir untukku, menjadi bagian dari hidupku, menjadi separuhku.
Aku mencintai kamu...
Ada rindu di sini.
Entah apa yang terjadi akhir-akhir ini, tapi aku membenci jarak yang tercipta di antara kita. Aku membenci alasan apapun yang membuat kau tak ada bersamaku pun sebaliknya. Tapi akan kukesampingkan semua egoku demi kamu, asal kamu tetap mampu tersenyum walau hatimu lelah dan terluka.
Sayangku...
Kadang aku berdoa sesuatu yang tak mungkin terkabul, tapi bermimpi juga tak ada salahnya, kan?
Aku meminta pada-Nya untuk mengembalikan waktu kita ke masa lalu. Mendewasakan pikir kita dan memutuskan kembali semuanya dari awal.
Andai saja aku menemukanmu sejak dulu, berbagi segalanya denganmu, mungkin mataku akan lebih terbuka, tak lebih rabun seperti saat ini. Sekali lagi, tak apa kan bermimpi? :)
Hari ini hari perempuan sedunia...
Dan kau telah menunjukkan juga mengajarkan padaku bagaimana menjadi perempuan kuat yang tak boleh kalah oleh airmata.
Kau perempuan tangguh, Sayangku... Perempuan hebat dengan tawa laksana hujan. Terima kasih telah hadir untukku, menjadi bagian dari hidupku, menjadi separuhku.
Aku mencintai kamu...
Minggu, 03 Maret 2013
Langganan:
Komentar (Atom)



