Al...
Hujan senja ini telah usai. Dia meninggalkan embun di jendela-jendela kaca, menyisakan kabut juga setapak basah. Derap yang tadi begitu riuh kini tak sedikitpun gaduh, hanya ada aku dan sepi yang melagukan senandung sunyi.
Apa kau tahu bagaimana rasanya rindu? Aku tak tahu, Al. Aku hanya merasakan kalau jiwaku beku, lidahku kelu, hanya hati yang terus saja merapalkan namamu. Apakah seperti itu?
Al... aku benci begini, aku seperti mati.
Kenapa kau tak mau pergi? Kenapa bayangmu terus saja menghantui? Bahkan kau terus memelukku di dalam mimpi. Kenapa seperti ini? Ataukah memang aku yang tak pernah ingin melepasmu dari hati?
Tanpamu aku lupa bagaimana caranya bahagia, lupa kapan tak berairmata. Rasa ini menciptakan sesak di antara isak. Ini terlalu sakit, Al...!!!
Aku mulai membenci senja, aku benci saat gurat jingga itu membayang di batas cakrawala. Aku tak ingin malam tiba, malam yang tak ada kamu lagi di dalamnya, malam yang tak ada lagi kita.
Al... Al... Rasa ini menyiksaku, sungguh.
Hujan senja ini telah usai. Dia meninggalkan embun di jendela-jendela kaca, menyisakan kabut juga setapak basah. Derap yang tadi begitu riuh kini tak sedikitpun gaduh, hanya ada aku dan sepi yang melagukan senandung sunyi.
Apa kau tahu bagaimana rasanya rindu? Aku tak tahu, Al. Aku hanya merasakan kalau jiwaku beku, lidahku kelu, hanya hati yang terus saja merapalkan namamu. Apakah seperti itu?
Al... aku benci begini, aku seperti mati.
Kenapa kau tak mau pergi? Kenapa bayangmu terus saja menghantui? Bahkan kau terus memelukku di dalam mimpi. Kenapa seperti ini? Ataukah memang aku yang tak pernah ingin melepasmu dari hati?
Tanpamu aku lupa bagaimana caranya bahagia, lupa kapan tak berairmata. Rasa ini menciptakan sesak di antara isak. Ini terlalu sakit, Al...!!!
Aku mulai membenci senja, aku benci saat gurat jingga itu membayang di batas cakrawala. Aku tak ingin malam tiba, malam yang tak ada kamu lagi di dalamnya, malam yang tak ada lagi kita.
Al... Al... Rasa ini menyiksaku, sungguh.
