Sabtu, 23 Januari 2016

Sebentuk Asa ( END )

"Apa lagi yang belum kita beli, Ra? Telur sudah, sosis sudah, sayuran sudah, juice juga sudah, apa lagi ya?" tanya Marissa sambil mengecek tas belanjanya.

Laura tertawa pelan, "Mbak mau masak untuk berapa orang sih? Sudah cukup itu, mbak," jawabnya sambil merogoh tas untuk mengambil kunci mobil. Dan tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sebuah tempat di dalam restoran Italia yang tampak terang dari luar yang sudah gelap. Dia melihat Alvin sedang menikmati makan malamnya, dan dia tidak sendiri. Ada Maura yang duduk dengan manis di depan pria itu.

Tanpa bisa ditahan butiran bening pun meluncur deras dari sepasang manik Laura. Hatinya terasa begitu perih, dia menahan isak di antara sesak, menikmati luka yang merajam dada. Harapannya musnah, lebur, dan tak lagi berbentuk. Rasa cinta yang dimilikinya hancur untuk kedua kalinya. Cinta? Ya... dia mencintai Alvin entah sejak kapan. 

Marissa mengernyit heran melihat Laura terpaku di depan mobilnya. Lalu dia mendekati adik iparnya itu dan dia terkejut saat mendapati kalau gadis itu tengah menangis dalam diam, "Ra... kamu kenapa, dek?" tanya Marissa.

Laura tak menjawab, bahkan dia tak mendengar pertanyaan Marissa. Pandangannya masih tertuju pada dua insan di dalam restoran Italia itu. Dimana Maura tampak tertawa bahagia sementara Alvin tersenyum pada sekretaris barunya.

Marissa mengikuti arah pandangan Laura, dan saat itu tahu lah dia kenapa adiknya menangis. Sambil menghela nafas panjang Marissa membimbing lembut bahu Laura untuk masuk ke dalam mobil. Dia mengambil alih kunci dari tangan Laura dan memutuskan kalau dia lah yang harus memegang kemudi kali ini. Marissa pun merasakan kesedihan Laura, hingga dia memilih diam sepanjang perjalanan pulang. Dibiarkannya Laura tenggelam dalam lamunannya. 

Isak Laura semakin keras manakala mobilnya melewati restoran China tempatnya dan Alvin dulu pernah makan malam bersama. Dia ingat bagaimana lembutnya Alvin malam itu. Banyak tawa dan senyum yang mereka bagi, rasa bahagia yang sudah lama tak dirasakannya. Dia ingat rasa nyaman yang menyelimutinya kala pria itu menyampirkan jasnya di bahunya. Ingat saat pria itu mengusap kepalanya.
Tangis Laura pecah, dia memilih untuk memeluk tubuhnya sendiri agar rasa sakit ini tak meledakkan raganya.
.
#
.

Sejak saat itu Laura seringkali mendapati Alvin menghabiskan waktu berdua dengan Maura. Dan lagi-lagi Laura memilih menghindar. Jarak di antara mereka semakin lebar, bahkan Laura selalu meminta Maura yang memberikan  semua laporan pada Alvin. Pikirnya toh sama saja sekarang atau nanti, pada akhirnya memang Maura yang akan menggantikannya.

Laura menghentikan langkahnya di depan pintu ruangannya saat dia mendengar Maura tengah menelpon seseorang, mungkin temannya.

"Lis... lu tau ga? Pak Alvin bakal ngajakin gue malam Natal besok. Dia bakal ngajakin gue kencan setelah kami menghadiri pernikahan sahabatnya. Gilaaa... impian gue banget tau ga sih?"

Laura terhenyak, sekali lagi hatinya terasa begitu sakit seperti tercabik. Bahkan Alvin akan mengajak Maura datang ke pernikahan kakaknya. Yang berarti pria itu akan mengumumkan secara tak langsung pada publik kalau dia dan Maura memiliki hubungan khusus. Apalagi kedua orangtua Alvin juga akan hadir di sana.
Laura merasa dadanya sesak, nafasnya seakan berhenti seperti harapannya yang putus. Gadis itu hanya mampu bersandar pada dinding di belakangnya, dan sekali lagi airmatanya tumpah. Ini hari terakhir dia bekerja di sini, dan mungkin sudah saatnya dia mengucapkan selamat tinggal pada Alvin. Selamat tinggal, bukan sampai jumpa.
Kakinya lemas, tubuhnya luruh ke lantai. Dan dia hanya mampu menelan isaknya yang tertahan. Sekali lagi hatinya terluka.

"Laura? Laura, kamu kenapa?"

Laura tak menjawab, bahkan mungkin dia tak mendengar panggilan Alvin yang kini sudah berlutut di hadapannya.

"Laura, kamu kenapa? Sakit? Bagian mana yang sakit? Kamu pusing?" 
Alvin tak mampu menyembunyikan rasa cemasnya. Sekian lama dia menahan diri untuk tidak mendekati Laura dan memanfaatkan keberadaan Maura untuk melupakan gadis itu, tapi melihat Laura seperti ini hatinya tak sanggup untuk tak peduli.

Laura mengangkat wajahnya, dan rasa sakit itu semakin perih saat dia melihat wajah Alvin di hadapannya. Dia benci, tapi dia rindu. Dia marah, tapi juga rindu. Dia ingin memaki, tapi lidahnya hanya mampu merapalkan rindu dalam bisu. Dadanya sesak oleh rindu yang hampir tak sanggup dibendungnya lagi. Dia merindukan pria di hadapannya ini, sungguh.

Alvin segera memeluk Laura dengan erat saat tangis gadis itu pecah. Dia sangat ingin melindungi gadisnya, dia tak ingin Laura seperti ini, tak ingin Laura terluka ataupun tersakiti walau itu oleh tangannya sendiri. 
"Kamu kenapa, Ra? Siapa yang membuatmu begini?" Tanya Alvin lembut sambil mengayun tubuh Laura di dalam dekapannya.

Laura hanya mampu menggeleng sambil meremas lengan kemeja biru Alvin. Dia ingin menolak, ingin berontak dan melepaskan diri dari pelukan pria itu, tapi kali ini otak dan hatinya bekerjasama untuk melemahkan keinginannya.

"Ikut aku ke ruanganku, ya? Kita bicara di sana," bujuk Alvin.

Sekali lagi Laura menggeleng. 

Alvin tampak berpikir sejenak, lalu dia ingat sebuah tempat dimana dia sering melihat Laura menghabiskan waktunya sendiri, "Kita ke atap gedung? Kau suka tempat itu, kan?" 

Laura terhenyak, darimana Alvin tahu kalau dia suka tempat itu? Memandang kesibukan Ibukota dari ketinggian tanpa perlu mendengarkan suara bisingnya memang selalu mampu membuatnya tenang. Dan akhirnya dia menurut saja saat Alvin memaksanya untuk berdiri. Lengan kokoh Alvin menopang bahunya, menahan tubuh lemasnya agar tak luruh lagi ke lantai. Langkahnya tertatih saat menaiki tangga yang menuju atap gedung. Hingga akhirnya dadanya yang terasa begitu sesak bisa sedikit lega saat pria itu membuka pintu besi dan membiarkan angin siang ini menerpa wajahnya. Langit yang mendung membuat cuaca menjadi sejuk.

Laura melepaskan diri dari rengkuhan Alvin lalu berjalan menuju pagar pembatas. Matanya menatap ke bawah, dimana semua benda tampak seperti semut, begitu kecil. Dibiarkannya angin mengacak rambut ikalnya yang terurai.

Alvin mengamati tubuh bagian belakang Laura yang mungil, gadisnya entah kenapa tampak begitu rapuh. Ada keinginan untuk merengkuh tubuh itu dan membuatnya nyaman dalam dekapannya. Tapi bisa kah? 
Dada Alvin berdebar keras saat Laura membalikkan tubuhnya lalu menatapnya. Cantik. Itu yang pertama kali diucapkan oleh otaknya yang terasa buntu. Ya, Laura begitu cantik, begitu berbeda. Tanpa polesan make up tebal pun sudah membuatnya begitu sempurna di matanya, dan dia mengakui kalau selama ini dia tak pernah bosan memandangi wajah Laura, kacamata beningnya tak mampu menghalangi pesona gadis itu. Walau semua orang bilang kalau Laura terlalu lugu dan sederhana, tapi baginya disitulah kelebihannya.

"Kak..." 

Alvin terhenyak. Baru kali ini Laura mau memanggilnya kakak lagi setelah beberapa minggu mereka menjauh. Apalagi ini di kantor, Laura tak pernah ingin memanggilnya begitu.
Alvin mendekati gadis itu dan berdiri di hadapannya. Tanpa sadar tangannya bergerak sendiri untuk menyampirkan rambut ikal Laura yang dipermainkan angin. Terasa begitu lembut di tangannya.

Jantung Laura seakan ingin lompat dari tempatnya. Dipejamkannya matanya, menikmati debaran hatinya untuk yang terakhir kalinya. Kali ini dia harus bisa melupakan segalanya, termasuk perasaannya.

"Ya, Ra?" Jawab Alvin lembut. 

Laura membuka matanya yang langsung disambut oleh tatapan Alvin. Gadis itu mencoba tersenyum walau hatinya menyuarakan tangis.
"Ini hari terakhir aku bekerja di sini," katanya.

Alvin menarik tangannya dari rambut Laura dan memasukan keduanya ke kantong celana hitamnya. Ucapan Laura kembali menorehkan luka yang akhir-akhir ini berusaha dilupakannya.

Laura merasa ada yang hilang saat Alvin melepaskan kontak fisik mereka. Garis mirispun tercipta di antara senyumnya.
"Terima kasih untuk semuanya," katanya lagi dengan sedikit terbata. "Dan maaf kalau pada kenyataannya aku justru sering merepotkan kakak." 

Alvin menatap mata bening yang sangat disukanya itu. Ingin rasanya dia menahan gadis itu dan memintanya untuk tetap tinggal di sisinya. Tak apa jika memang Laura tak bisa mencintainya, tapi setidaknya dia bisa terus melihat dan merasakan keberadaan gadis itu di dekatnya. Tapi dia tak memiliki keberanian untuk itu, dia tak memiliki hak apapun atas Laura.

Alvin hanya mengangguk singkat, "Kapan kamu akan berangkat?" justru pertanyaan seperti itu yang keluar dari bibirnya.

Lagi-lagi Laura harus menikmati perih pada sudut hatinya. Bahkan Alvin pun seakan tak sabar untuk melihatnya pergi. 
"Sesuai dengan rencana kak Daniel, tanggal 25 sore, kak," jawabnya lirih.

Setelahnya hanya ada hening di sekitar mereka. Hingga langitpun mulai gerimis.

"Kak..." panggil Laura lagi.

Alvin tak menjawab, dia hanya menatap mata gadis itu yang mulai nampak basah.

Laura membalas tatapan pria itu. Sekelumit kenang membayang di kepalanya. Dia ingat saat pertama kali Daniel mengenalkan Alvin padanya. Di otak Laura kecil saat itu langsung tersemat julukan pangeran. Alvin terlihat seperti pangeran berkuda di buku-buku dongeng yang dia baca, karena itulah dia selalu merasa malu jika lelaki di hadapannya itu datang ke rumahnya. Laura selalu memilih mengunci diri di kamar karena dia tak ingin terlihat konyol dan tidak cantik.
Dia ingat bagaimana dulu sahabatnya menjuluki dia pemimpi karena terus terpesona pada Alvin. Sampai akhirnya sahabatnya menjodohkan dia dengan seorang lelaki teman kuliah mereka dan akhirnya mampu membuatnya jatuh cinta pada lelaki itu sampai pada kenyataannya sahabatnya sendiri lah yang menjadi duri dalam hubungan mereka.
Laura tersenyum miris, dia masih kecewa pada peristiwa itu, tapi dia tak lagi merasa terluka. Karena pada kenyataannya luka yang sesungguhnya adalah yang saat ini berada di hadapannya. Kehilangan Alvin adalah bentuk luka yang sebenarnya.

"Kak Alvin... Selamat tinggal."

Ucapan Laura diiringi suara gemuruh langit siang itu yang telah menggelap. Alvin terhenyak, selamat tinggal? Mampukah dia jauh dari gadis itu?

Laura tersenyum dengan begitu cantik, memiringkan sedikit kepalanya sembari berkata, "Kakak harus bahagia, ya? Promise me," katanya lagi. Lalu gadis itu memeluk Alvin sebentar sebelum akhirnya melepaskannya lagi untuk berlari meninggalkan pria itu sendirian di atap, dimana gerimis mulai merapat.

Alvin merasa hatinya kosong, pintu besi yang berdebam keras di belakangnya seakan menjadi pertanda kalau semuanya telah berakhir. Semuanya telah hilang. Tak ada lagi Laura untuknya. Gadisnya benar-benar memilih pergi meninggalkannya. 
Pria itu menatap langit dengan hampa, membiarkan gerimis membasahi wajahnya. Bahkan rasanya dia terlalu malu untuk menangis. 
Menangis? Matanya terbelalak. Walau sekilas tapi tadi dia melihat Laura menangis. Gerimis tak mampu menyamarkan airmata gadis itu. Apakah Laura merasakan hal yang sama dengannya? 
Alvin berbalik dan berlari sekencangnya, dia harus menyusul Laura. Dia harus mengatakan perasaannya. Entah berbalas atau tidak tapi dia ingin meyakinkan dirinya sendiri akan perasaan gadis itu padanya.

#

Laura melangkahkan kaki menuju ruangannya. Tadi dia sudah sampai di mobil, tapi dia ingat kalau ada sesuatu yang tertinggal di laci mejanya. Pelan dia membuka pintu ruangannya yang tertutup, tapi pemandangan yang dilihatnya saat itu membuatnya tak mampu mengeluarkan suara, hanya cekat yang tertahan di ujung lidah. Matanya terbelalak melihat Alvin dan Maura yang tengah berpelukan dengan erat.

Merasa kalau ada orang lain di ruangan itu Alvin pun mengangkat wajahnya yang terbenam di bahu Maura. Jantungnya seakan berhenti saat melihat Laura berdiri di depan pintu. Segera saja dia melepaskan pelukannya pada Maura dan menjauhkan tubuh gadis itu darinya. 
"Ra," panggilnya sambil mendekati Laura.

Sambil menahan sakit pada dadanya Laura pun mencoba tersenyum, "Maaf, saya hanya ingin mengambil buku yang tertinggal di laci," katanya sambil berjalan menuju mejanya dan mengambil buku kecil dari lacinya.

"Kirain mbak udah pergi jauh tadi. Ganggu aja ih."

Ucapan Maura seakan menjadi taburan garam di atas luka Laura.

Alvin kembali mencoba mendekati Laura, "Ra... itu tadi..." entah kenapa rasanya Alvin harus menjelaskan semua pada Laura, tapi kata-katanya seperti hilang saat melihat luka menganga pada mata gadisnya.

Laura hanya tersenyum saja, "Permisi, Pak," katanya sambil berlalu dari ruangan itu dengan membawa rasa sakit yang tak terperi di dadanya. Dia menyesal kenapa tadi harus kembali lagi, menyesal karena harus melihat kejadian itu. 
Gadis itu melangkah cepat, sebisa mungkin tangisnya tak pecah sebelum dia keluar dari gedung ini. Tidak... dia tidak boleh menangis.

Sementara Alvin semakin panik hingga otaknya tak bisa diajak bekerjasama. Dia ingin mengejar Laura, tapi dia takut gadis itu marah. Tapi jika tak dikejar maka dia akan kehilangan satu-satunya kesempatan untuk memiliki adik dari sahabatnya sendiri itu.

"Udah deh, Pak. Paling juga mbak Laura iri lihat Bapak peluk saya tadi."

Ucapan Maura serta merta mengembalikan akal sehatnya, dia merasa begitu kesal dengan gadis itu, gadis yang selalu menyudutkan Laura,  "Memeluk kamu? Kamu yang menahan saya untuk mencari Laura, dan kamu yang menarik saya dengan paksa tadi!" berangnya.

Maura tersentak. Dia tak menyangka kalau Alvin akan membentaknya. Dia berpikir kalau dia sudah berhasil menarik perhatian pria itu. "Kok marah? Kan saya cuma ingin memeluk Bapak? Baju Bapak basah jadi saya pikir..."

"Saya cuma butuh Laura, bukan yang lain." 

Desisan Alvin menahan langkah Maura untuk semakin mendekati dan merayu pria itu. Ternyata benar dugaannya, pria yang ditaksirnya itu menaruh hati pada Laura.
"Bapak menyukai mbak Laura? Lalu apa maksud bapak mendekati saya akhir-akhir ini?" tanya Maura dengan kesal.

Alvin mendengus, "Coba kamu ingat kapan saya mendekati kamu terlebih dahulu? Bukankah kamu yang selalu ribut dan memaksa?"

Maura terbelalak, dia ingin membantah tapi lidahnya terasa kelu.

Alvin tak memedulikan sekretaris barunya itu dan membalikkan tubuhnya untuk mengejar Laura.

"APA SIH ISTIMEWANYA CEWEK CULUN ITU DIBANDING SAYA? BAGIAN MANA DIA YANG LEBIH BAGUS DARI SAYA? DIA NGGAK CANTIK, KAMPUNGAN!!!"

Teriakan Maura menghentikan langkah Alvin, pria itu tak ingin terpancing emosinya dan membuang waktunya yang hanya tinggal sedikit ini. Pelan dia kembali memutar tubuhnya dan menatap Maura dengan tajam, "Kelebihannya?" tanyanya sambil menahan geram.

Maura tak menjawab, dia hanya menantang tatapan Alvin.

Alvin melangkah pelan mendekati gadis itu, "Kelebihannya adalah... semua kekurangan yang kau sebutkan tadi telah mampu membuatku jatuh cinta padanya. Puas?"

Maura menelan ludah dengan susah payah, dan dia hanya mampu menatap punggung Alvin yang menjauhinya dan membanting pintu ruangannya dengan keras.

#

Marissa yang menunggu di lobby segera saja menghampiri Laura saat dia melihat gadis itu keluar dari lift, "Ra, sudah diambil yang tertinggal?" tanyanya.

Laura hanya mengangguk sambil menahan laju airmatanya agar tak jatuh. 

Marissa mengernyit bingung saat adik iparnya itu terus berjalan meninggalkannya, bahkan menembus hujan lebat di luar sana, "Ra... Laura kamu kenapa?!!" teriak Marissa yang berusaha menghentikan langkah Laura.

Tapi Laura seakan tak mendengar. Dia terus saja berjalan menuju mobilnya yang terparkir agak jauh di halaman gedung yang luas ini. Bajunya basah kuyub, dia tak peduli, dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Dia ingin mengakhiri semuanya, termasuk perasaannya. Biar saja, biar hujan meleburkan segalanya.

"Laura!!!" Marissa ingin segera menyusul gadis itu, tapi sebuah tangan menahan lengannya.

"Biar aku, Sa."

Marissa semakin bingung saat orang yang menahan tangannya tadi berlalu begitu saja menembus hujan dan mengejar langkah kecil Laura. Tapi segera saja otak cerdasnya bisa menangkap semua dengan cepat. Wanita yang sebentar lagi akan menyandang status Nyonya Wiriawan itu kembali berteriak, "Hentikan tangisnya, Vin. Awas kalau gagal!!!" ancamnya pada pria yang baru saja satu jam yang lalu tidak menjadi atasannya lagi.

Alvin yang masih bisa mendengar teriakan Marissa hanya mengacungkan ibujarinya saja tanpa menghentikan langkahnya.

Marissa terkekeh sambil menggeleng. Dia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari para karyawan yang menyaksikan hal tersebut.

#

"Ra..."

Laura menepis tangan Alvin yang sudah berhasil mencekal lengannya.

"Ra, dengar dulu," pinta Alvin di antara derasnya hujan.

Laura menggeleng, airmatanya tak mampu lagi dibendungnya.

Alvin kembali merengkuh kedua lengan gadis itu lalu memutar tubuhnya agar menghadapnya, "Apa yang kamu lihat tadi tak seperti yang kamu bayangkan, Ra."

"Kalaupun iya itu juga bukan urusanku kan, kak? Kakak ga perlu jelasin apa-apa kok," jawab Laura sambil menunduk. Dia enggan menatap pria itu. Hatinya masih terasa terbakar.

Alvin menangkup pipi gadis itu, "Lalu kenapa kamu menangis?" tanyanya lembut.

Laura berusaha melepaskan tangan Alvin dari pipinya tapi tak bisa.

"Jawab, Ra... kenapa kamu menangis kalau memang itu bukan urusan kamu?" paksa Alvin lagi.

Laura hanya menggeleng pelan.

"Kalau hal tadi tidak berpengaruh untuk kamu berarti kamu tak memiliki alasan apapun untuk menangis, kan?" tekan Alvin.

Laura semakin terisak, dia kehilangan kekuatan untuk menyangkal. Dan akhirnya dia pasrah pada apa yang akan terjadi setelah ini. Dia hanya merasa lelah, lelah bersembunyi dan berlari dari perasaannya sendiri.
"Kakak berhak kok melakukan apa saja, dengan siapa saja. Toh selama ini kakak juga cuma menganggap aku sebagai adik, bahkan tak lebih dari seorang sekretaris, jadi kakak nggak perlu jelasin semuanya ke aku," katanya lagi di antara isaknya. Laura tak peduli walau sekujur tubuhnya basah oleh hujan. Dia hanya ingin menumpahkan semua isi hatinya.

Alvin tersenyum, diusapnya airmata gadis itu dengan ujung ibu jarinya. Dia memilih diam dan mendengarkan semuanya.

Laura meneruskan kata-katanya, "Kakak tanya kenapa aku menangis? Karena kakak nggak pernah tahu seperti apa rasanya tak dianggap, kakak nggak tahu gimana rasanya cuma bisa melihat orang yang kakak suka dari jauh. Nggak tahu, kan? Kakak nggak pernah harus terpaksa menyimpan semua perasaan kakak di dalam hati, dan menahan sakit saat kakak melihat orang yang kakak sayang makan malam bersama gadis lain di depan mata kakak sendiri," racau Laura. Dia tak peduli walau kepalanya mulai terasa pusing. 
"Kakak nggak pernah jadi aku, kak... jadi kakak nggak akan pernah tahu sebesar apa luka ini saat aku harus melihat orang yang selama ini aku suka terus bersama gadis lain, bahkan.... bahkan memeluknya. Sakit, kak... sakit banget."

Alvin memeluk erat tubuh Laura yang mulai menggigil kedinginan. Ada rasa sedih juga bahagia menyusup ke dalam hatinya. Perlahan dia tahu bagaimana perasaan gadis itu. Diusapnya rambut basah Laura dengan lembut. "Ra, aku..."

"Bahkan saat orang yang kusayang sama sekali tak menahan kepergianku... itu rasanya seperti kehilangan harapan, kak. Aku seperti kehilangan separuh hidupku saat aku tahu kalau aku tak pernah memiliki arti apa-apa untuknya." Tangis Laura kembali pecah dalam dekapan Alvin.

Alvin memeluk gadis itu semakin erat, memberikan semua kehangatan untuk tubuhnya yang gemetar kedinginan. Pelan dia membimbing Laura menuju ke mobilnya yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri dan membukakan pintu penumpang. Setelah yakin Laura sudah duduk dengan nyaman pria itupun berputar menuju pintu pengemudi. 

Laura berusaha menghentikan tangisnya, tapi isakan belum juga hilang dari bibirnya. Dengan kesal dia mengusap airmatanya dan menyandarkan punggungnya. Wajahnya dialihkan keluar jendela, dia merasa malu untuk menatap pria yang duduk di sampingnya itu.

Alvin tersenyum, rasanya begitu bahagia bisa melihat Laura kembali duduk di sampingnya. Pria itu meraih selembar selimut tebal dari kursi tengah mobilnya untuk menutupi tubuh Laura yang basah.

Laura masih tak mau memandang ke arah Alvin sampai akhirnya pria itu meraih dagunya dan memaksanya untuk menoleh. Dia tercekat saat mendapati wajah Alvin sudah cukup dekat dengannya.

"Sudah selesai curhatnya?" goda Alvin masih sambil tersenyum.

Wajah pias Laura sedikit memerah, dia segera memalingkan wajahnya lagi.

Alvin terkekeh dan kembali meraih dagu gadis itu agar menatapnya, "Berarti sekarang giliranku, kan?" tanyanya lembut.

Laura tak menjawab, dia hanya diam saat Alvin melepas kacamatanya yang basah lalu meletakkannya di dashboard mobil.

Alvin kembali menatap lurus manik indah Laura, telapak tangannya mengusap pipi gadis itu dan menyampirkan beberapa rambut ikalnya yang menempel di pipi.

Laura memejamkan matanya, menikmati rasa hangat yang ditinggalkan oleh jari-jari Alvin di kulitnya. Matanya terbuka lagi saat ujung jari Alvin menyentuh lembut bibir bawahnya.

"Tapi tahukah kamu kalau seorang pria itu selalu susah mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata?"

Laura mencoba mencerna ucapan pria itu, lalu mengangguk pelan walau dia sendiri kurang begitu mengerti.

Alvin tertawa pelan, "Kalau begitu kamu pahami ini, ya? Rasakan dengan hatimu."

Laura hanya bisa menahan nafas saat bibir pria itu menyentuh bibirnya dan memberikan sedikit kecupan di sana.

Alvin menjauhkan sedikit bibirnya untuk melihat reaksi Laura. Pria itu mengulum senyum sembari menahan debaran dadanya yang kian bergejolak saat tahu kalau Laura tak marah. Gadis itu masih tampak terperangah seakan tak percaya akan apa yang baru saja terjadi.
Tak ingin menahan dirinya lagi Alvin pun kembali meniadakan jarak di antara bibir mereka. Alvin kembali memagut bibir Laura dengan begitu lembut seakan takut melukai kulitnya yang merah jambu.

Sementara Laura tak mampu lagi menutupi perasaannya, dia hanya pasrah, lagipula ini ciuman pertamanya dan dia tak tahu harus melakukan apa sehingga dia membiarkan Alvin yang memimpin. Debaran jantungnya yang diluar batas membekukan fungsi otaknya. Akhirnya gadis itu memilih untuk memejamkan matanya dan menikmati kehangatan yang ditawarkan bibir Alvin.

Laura kembali tersadar saat Alvin menyudahi ciumannya. Akal sehatnya kembali. Sesak itu datang lagi, kenapa Alvin menciumnya? Bukankah pria itu tak mencintainya? Bukankah Alvin adalah kekasih Maura? Apakah Alvin hanya ingin mempermainkannya? Dan sebutir airmata lepas dari mata beningnya.

"Ra? Maaf, kamu marah?" 
Alvin panik saat gadis itu menunduk dengan bahu yang sedikit bergetar.

Laura tak menjawab, dia masih sibuk menata kepingan hatinya.

"Ra?" panggil Alvin lagi sambil berusaha membuat gadis itu mendongak dengan menyentuh dagunya.

"Kenapa?" tanya Laura saat dia tak memiliki alasan lain selain membalas tatapan pria itu.

Alvin mengernyit, "Maksud kamu?"

Laura menguatkan hatinya, menantang tatapan mata Alvin yang tajam, "Ke-kenapa kakak melakukan... hal itu? Apa kakak ingin membuatku semakin hancur?"

Alvin semakin tak mengerti, "Hancur gimana sih, Ra? Apa maksud kamu?"

Laura berdecak, "Kenapa kakak cium aku? Bukankah kakak sudah memiliki kekasih? Apa kakak ingin mempermainkan aku sebelum aku pergi?"

Mulut Alvin terbuka tanpa suara. 

"Jawab!!" Kata Laura dengan kesal.

Alvin menggeleng tak mengerti, "Jawab apa, Ra? Kekasih yang mana? Siapa?" tanyanya.

Laura memukul bahu Alvin dengan keras hingga pria itu mengaduh, "Maura!!! Dia kekasih kakak, kan?" tanyanya.

Alvin membelalakkan matanya, tak lama diapun tersenyum tipis, "Kamu cemburu?" godanya sambil mengusap lembut pipi gadis itu.

Laura menepis tangan Alvin dan kemudian tangannya meraih handle pintu. Dia lelah dengan rasa sakitnya dan ingin menyudahi semua hingga di sini saja.

Avin segera meraih tangan Laura, menahan gadis itu agar tak keluar dari mobilnya, "Ra..."

"Lepas, kak... aku mau pulang sendiri," kata Laura sembari memberontak.

Alvin semakin mengeratkan cekalannya, "Aku yang akan antar kamu pulang," katanya.

"Nggak usah!!!" tolak Laura sambil terus berusaha melepaskan cekalan tangan Alvin lagi.

Alvin berdecak dan meraih bahu Laura, memaksa gadis itu untuk diam dan menatapnya, "Dengar ya? Aku sama sekali tak ada hubungan apapun dengan Maura. Sama sekali tidak ada apa-apa, Ra," jelasnya tegas.

Laura terdiam, dia masih tak percaya. Bagaimana bisa pria itu mengatakan kalau dia dan Maura tak memiliki hubungan apa-apa padahal akhir-akhir ini mereka tampak dekat. Bahkan Alvin sudah mengajak Maura untuk hadir di pernikahan kakaknya besok malam?

Alvin mengusap kedua pipi gadis itu lalu menangkup kedua sisi wajahnya dengan telapak tangannya, "Aku akan jelaskan semua di apartemen kamu, tidak di sini, karena aku tidak mau kamu sakit dan mendapatkan tendangan dari Daniel kalau kamu sampai tak datang ke pestanya besok," pria itu mencoba bergurau.

Tapi Laura tak tertawa, dia justru bertanya, "Dan kakak sudah mengajak Maura untuk datang bersama, kan?"

Alvin terdiam, dia menatap Laura yang lagi-lagi matanya mengguratkan sebaris luka. Dengan lembut pria itu memeluk Laura dan mencium ujung kepalanya, "Akan aku jelaskan di apartemen, oke?"

Laura merasa sedikit kecewa, dia lalu menjauhkan tubuh Alvin dan kembali bersandar di kursi mobilnya. Gadis itu malas berdebat, mungkin pulang dan tidur adalah pilihan terbaik saat ini. Sekali lagi dia mengalihkan pandangannya keluar jendela, lalu diam.

Alvin menghela nafas panjang, setidaknya dia lega karena gadis itu tak mencoba lari lagi darinya. Pelan dia memacu mobilnya ke jalan besar, irama hujan mengiringi kediaman mereka.

#

Daniel mengernyitkan keningnya saat dia melihat Laura dalam keadaan basah memasuki ruang tengah dan diikuti oleh Alvin di belakangnya, "Kamu kenapa, sayang?" tanyanya tanpa beranjak dari sofa empuk di ruangan itu.

Laura yang sebelumnya tak menyadari kehadiran Daniel di ruangan itu menghentikan langkahnya. Tubuhnya masih terbungkus selimut tebal dari mobil Alvin, "Kakak kapan datang?" tanyanya sambil mendekati pria itu. Sementara Alvin memilih berdiri diam tak jauh dari mereka.

Daniel berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh adiknya yang menggigil kedinginan, "Baru saja," jawabnya sambil memberikan kecupan sayang di kening gadis itu. "Apa kalian baru selesai syuting film India? Kok bisa hujan-hujanan berdua?" guraunya.

Alvin dan Laura hanya saling melemparkan tatapan tanpa ingin menjelaskan apapun pada pria itu.

Daniel hanya bisa menggeleng saja melihat tingkah sahabat dan adiknya itu, "Kamu mandi dulu sana, pakai air hangat supaya tidak sakit. Setelah itu kita makan malam bersama, sebentar lagi Marissa datang," katanya.

Laura hanya mengangguk dan berjalan melewati Alvin begitu saja untuk menuju ke kamarnya.

Alvin tersenyum geli, "Ra... nanti malam kita harus bicara," tahannya sebelum tangan gadis itu meraih handle pintu kamarnya.

Laura membalikkan tubuhnya dan menatap mata tajam Alvin. Sebenarnya dia sudah tak begitu kesal lagi pada pria itu, penjelasan singkatnya di mobil tadi jujur saja cukup membuatnya lega dan berpikir kalau apa yang dipikirkannya selama ini mungkin saja salah. Tapi terlalu mudah mengalah juga tak ingin dia lakukan, "Malas," jawabnya sebelum masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.

Alvin terkekeh pelan, wajah Laura saat cemberut begitu benar-benar menggemaskan. Kalau saja tak ada Daniel di situ mungkin dia akan mengejar gadis itu dan memeluknya dengan erat.

"Kau kemanakan adikku yang lugu dan lembut, hah?" tanya Daniel pada Alvin yang masih asik tersenyum sendiri.

Alvin hanya menggeleng dan kembali tertawa pelan, "Sebenarnya aku kesal kau ada di sini saat ini, tapi kalau ingat mungkin saja sebentar lagi kau akan menjadi kakak iparku mau tak mau ya aku mencoba memaklumi," jawab Alvin sambil melenggang keluar.

Daniel membuka mulutnya, "WHAT???" teriaknya sambil mengejar langkah Alvin.

Alvin hanya tertawa sambil menutup pintu sebelum Daniel berhasil menahan langkahnya. Dia ingin segera mandi, ganti baju, lalu kembali ke apartemen di depannya itu untuk kembali bertemu dengan gadis kesayangannya.

.
#
.



Pesta di Ballroom Hotel yang dipesan Daniel untuk pesta pernikahannya tampak meriah, tak begitu mewah tapi tampak begitu hangat. Nuansa merah dan emas menghiasi setiap sudutnya. Marissa yang memilih warna beralasan selain cantik untuk pesta pernikahan perpaduan warna itu juga sangat cocok untuk Natal, karena pesta mereka diadakan tepat pada saat malam Natal.

Laura berdiri sendirian di sudut ruangan, gaun berwarna peach berpotongan A Line yang dikenakannya tampak serasi dengan warna kulitnya yang putih bersinar. Panjangnya yang hanya sampai sedikit di atas lutut mempertegas kaki rampingnya yang mengenakan wedges bertali dengan warna senada. Rambut ikalnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja, hanya diberi hiasan jepit di kanan dan kirinya. Sementara kacamata yang selalu bertengger di batang hidungnya telah digantikan lensa kontak bening yang mengekspos mata indahnya. Polesan lipstick berwarna natural dan basah tampak begitu segar di bibirnya yang ranum.
Cantik. Sempurna. Itu yang dipikirkan para pria yang hadir di ruangan itu. Bahkan tamu yang sebagian besar adalah rekan kerjanya di kantor tak percaya kalau Laura bisa menjelma menjadi gadis yang begitu indah. Tapi karena pembawaan Laura yang tertutup gadis itu justru merasa risih dengan perhatian yang diberikan para pria itu untuknya.

Laura sedikit menggerutu, Marissa yang memaksanya untuk mengenakan semua itu, bahkan wanita yang saat ini sudah menjadi kakak iparnya itu telah mempersiapkan semua itu jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi wajah cemberutnya segera berganti senyum saat dia melihat ke arah pelaminan betapa bahagia wajah kakak semata wayangnya itu. Dia melihat Daniel tak henti-hentinya tersenyum dan selalu memandang kearah Marissa dengan penuh cinta, jelas terlihat kalau pria yang begitu memanjakannya itu bersyukur bisa bersanding dengan wanita yang dipujanya. Ada perasaan iri terselip di sudut hatinya, akankah ada pria yang akan sungguh-sungguh mencintainya seperti Daniel yang mencintai pengantin wanitanya itu?

Lagi... perasaan resah itu bertamu di hatinya. Teringat kejadian kemarin saat Alvin memeluknya di bawah hujan, lalu menciumnya. Apakah itu hanya permainan Alvin saja? Bahkan saat mereka makan malam bersama di apartemennya pun Alvin tak juga mengungkapkan maksudnya. Pria itu hanya asik memandangnya sepanjang malam dengan senyum yang tak bisa diartikan. Bahkan saat kakaknya bertanya apa yang dilakukan pria itu padanya, Alvin hanya tersenyum dan tertawa kecil. Sungguh bukan seperti Alvin yang selama ini mereka kenal. Dan hal itu juga yang membuatnya kembali kesal dan marah pada pria itu.

"Laura? Itu kamu, sayang?"

Laura segera mencari sumber suara yang memanggil namanya dan memecah lamunannya. Sepasang wanita dan pria setengah baya sudah berdiri di sampingnya. Segera saja mata Laura melebar, senyum merekah di bibirnya yang lembut, "Om Theo, tante Sophia," sapanya sambil menyalami dan mencium tangan dua orang yang sekarang berdiri di hadapannya tersebut. Dua orang yang tak lain adalah orangtua dari pria yang dicintainya.

"Ya Tuhan... lihatlah peri kecil kita, pa. Dia sudah tumbuh menjadi bidadari tercantik di ruangan ini," kata Sophia pada suaminya. Wanita itu masih tampak begitu cantik di usianya yang tak bisa dibilang muda lagi. Tangannya sibuk membelai rambut Laura dengan sayang, ada binar rindu di matanya yang indah.

"Menurut papa dia justru satu-satunya gadis tercantik di mata papa, selain mama pastinya," sambung Theo sambil mengedip pada istrinya dan disambut tawa oleh dua perempuan di hadapannya itu.

"Om dan tante kapan datang dari New York?" tanya Laura.

"Kami sampai di Indonesia sudah sejak tiga hari yang lalu, tapi kami memilih untuk bulan madu dulu ke Bali," jawab Theo.

"Dan langsung ke sini setelah dari bandara," lanjut Sophia.

Laura tersenyum, "Masih tetap romantis aja, bikin iri," godanya.

Theo merangkul bahu istrinya sambil tertawa renyah. 

"Tante berharap keromantisan kami akan menular pada Alvin dan calon istrinya," kata Sophia dengan mata berbinar.

Laura tercekat, ucapan dari ibu Alvin itu seolah membuat jantungnya berhenti untuk beberapa detik, 'Calon istri? Kak Alvin akan menikah?' tanyanya dalam hati. Laura ingin meyakinkan diri akan apa yang baru saja dia dengar, tapi dia takut jika jawaban kedua orangtua Alvin akan membuatnya lebur saat ini juga.

"Kemana anak kita, pa? Katanya dia ingin memperkenalkan calon istrinya? Kok dari tadi belum kelihatan?"

Laura ingin menangis rasanya, ingin berlari dan menghilang dari muka bumi, lalu tenggelam di dasar lautan hingga karam saat dia melihat Alvin memasuki ruangan dengan seorang gadis di sisinya. Gadis yang begitu dia kenal, Maura.
Ingin rasanya Laura berteriak, menumpahkan sejuta kesal dan marah yang menumpuk di dadanya, meledakkan seribu kecewa yang menyesakkan hatinya. Jadi semua ini... semua yang terjadi di antara mereka selama ini hanya permainan Alvin saja? Semua kata-kata yang diucapkan kemarin di tengah hujan... hanyalah sekedar omong kosong?

Langkah Alvin tampak tergesa hingga Maura kesulitan menyamakan langkahnya. Pria itu melihat kedua orangtuanya di sudut ruangan, bersama Laura. Dan dari tatapan mata gadis itu dia tahu kalau sesuatu yang buruk dan kesalahpahaman yang sangat fatal telah terjadi di sana.
"Ma, pa..." sapanya saat sudah sampai di depan Theo dan Sophia. Nafasnya sedikit tersengal karena langkahnya yang terburu-buru sejak dia turun dari mobilnya.

Sophia tersenyum pada putra sematawayangnya itu, "Inikah calon menantu mama?" tanyanya pada Alvin sambil menatap Maura yang berdiri tepat di belakang putranya.

Alvin segera mengikuti tatapan mata ibunya, "Ma... bukan, aku..."

Maura yang mendengar kata-kata Sophia segera saja memasang senyum selebar mungkin, otaknya segera mencari cara pintar untuk memperkenalkan diri, apalagi ada Laura di situ, "Anda ibu pak Alvin? Ah maksud saya Alvin. Ya... perkenalkan saya adalah calon istri Alvin," jawabnya sambil mencium tangan Sophia lalu mencium kedua pipi wanita itu dengan sok akrab.

Kali ini Laura mengalah, dia mengalah oleh airmatanya. Dia mengalah untuk menyerahkan kembali hatinya pada luka. Dia kalah, dan dia menyerahkan semua kebahagiaannya di tangan takdir.

"Ma... bukan, ini... ini..." Alvin tampak panik menjelaskan semua di hadapan ibunya. Dan saat kedua orangtua Alvin fokus pada Maura tak ada yang menyadari airmata Laura kecuali dia, "Ra... aku..."

Segera saja Laura menepis kasar tangan Alvin yang ingin menyentuhnya. Di antara derai airmatanya sebuah senyum tampak begitu dipaksakan dengan sebuah ukiran luka di atasnya.

Theo memandang heran pada Laura yang menangis, dan sebagai seorang pengusaha handal yang telah berhasil mendirikan puluhan perusahaan besar hanya dengan kemampuan otaknya, dia segera tahu jika ada sesuatu yang salah di sini. Dan kalau apa yang sedang dipikirkannya adalah benar maka dia akan menjadi ayah yang begitu bangga akan pilihan putranya.

"Laura? Kamu kenapa menangis, sayang?" tanya Sophia yang ikut memandang heran pada Laura dan Alvin yang tampak tegang.

"Biarin aja, tante... Laura bisanya memang cuma nangis, makanya Alvin selalu kesal sama dia," Maura mencoba mengalihkan perhatian kedua orangtua Alvin untuk kembali fokus padanya. "Dari sejak awal saya kenal dia memang dia itu selalu saja merepotkan Alvin dengan segala kelemahan dan kemanjaannya, sampai saya nggak habis pikir kok bisa sih jadi perempuan nggak mandiri banget," celoteh Maura.

"DIAM KAU!!!" bentak Alvin yang segera saja membuat gadis itu pucat dan bungkam. Sementara Theo dan Sophia begitu terkejut mendengar kekasaran putra mereka terhadap seorang gadis.

Laura tak lagi bisa menahan isaknya, diapun memutar tubuhnya dan berlari menjauh dari keluarga Alvin dan Maura.

"Laura!!!" panggil Alvin. Pria itu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia tak tahu harus berbuat apa.

"Kejar dia, anak bodoh!" Theo menegur keras.

Alvin menatap ayahnya dengan bingung, begitu juga Sophia.

"Pilih. Kau kejar dia dan dapatkan dia untuk menjadi menantu papa, atau kau biarkan dia pergi untuk menjadi milik pria lain yang seribu kali lebih pintar darimu?"

Mata Alvin terbelalak, memikirkan Laura bersama lelaki lain membuat emosinya meninggi, "Aku akan dapatkan dia untuk menjadi istriku, pa... lihat saja," jawabnya sambil berlari menyusul gadisnya.

Theo menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, "Lambat," gerutunya.

Sementara Sophia tersenyum begitu lebar saat dia akhirnya bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Saat Maura berkata buruk tentang Laura tadi sebenarnya dia sudah ingin menampar mulut gadis itu dan berharap Alvin berubah pikiran untuk menjadikannya istri. Dan ternyata melihat kepanikan Alvin dan luka di mata Laura membuat dia berharap akan ada kebahagiaan luar biasa setelah Alvin berhasil membujuk Laura nantinya.

"Sepertinya kita harus menghampiri Daniel, ma. Kita sampai lupa ini acaranya siapa. Lihat itu... Daniel sudah melotot dari atas pelaminan," kata Theo yang masih tertawa geli sambil menarik tangan istrinya. Meninggalkan Maura sendirian di sudut ruangan.

#

Laura terus berlari keluar gedung, dia tak tahu kemana kakinya melangkah. Karena menangis kontak lensanya mungkin terlepas, dan ketika pandangannya menjadi semakin kabur diapun tak mampu lagi mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Sebelum tubuhnya terhempas ke lantai ada sepasang tangan yang menahan lengannya, "Nona, kau tak apa-apa?" tanya suara seorang pria di belakangnya.

Laura menggeleng dan berusaha melepaskan diri dari cekalan pria itu. Dia tak ingin menoleh untuk melihat siapa yang menolongnya karena dia terlalu malu karena nyaris terjatuh di hadapan banyak orang.

"LEPASKAN DIA!!!" suara Alvin menggelegar karena marah, dia tak suka Laura disentuh oleh orang lain, apalagi seorang pria.

"Whoaa...sabar, bro... aku cuma menahan nona manis ini agar tak terjatuh".

Alvin semakin geram saat pria yang tak dikenalnya itu menyebut Laura dengan panggilan manis, "Jaga mulutmu," desisnya sambil mengambil paksa Laura dan melepaskan lengan gadis itu dari tangan pria asing yang menjadi tamu di pesta Daniel.

Kembali Laura berusaha melepaskan diri dari dekapan Alvin. Dia benar-benar tak ingin melihat pria itu.

Alvin mengajak Laura menjauh dari keramaian dengan sedikit memaksa. Sepanjang langkah mereka Laura tak bersuara, bahkan dia terus berusaha lepas dari cekalan Alvin.

"Ra... kita harus bicara," bujuk Alvin setelah mereka sampai di halaman samping Ballroom hotel tempat pernikahan Daniel dan Marissa.

Laura tetap bersikukuh diam dan terus memberontak, dia muak dengan semuanya.

"Ra..."

"Cukup, kak... aku malas mendengar kebohonganmu lagi!!" Bentak gadis itu sambil menyentakkan tangannya dengan keras hingga terlepas dari cekalan Alvin.

"Aku tak pernah berbohong, Ra. Kamu saja yang tak pernah mau mendengar semua penjelasanku," bantah pria itu.

Laura membelalakkan matanya yang bulat, emosinya kembali terpancing, "Jadi sekarang aku yang salah, kak?" tanyanya penuh amarah. Selama ini dia selalu mampu mengendalikan emosinya, dia selalu bisa bersikap tenang, tapi kalau sudah berurusan dengan Alvin dan hatinya entah kenapa semua pertahanannya seolah runtuh.
"Kakak menyalahkanku karena tak pernah mau mendengarkan semua penjelasan kakak, begitu?" tanyanya lagi.

"Ra... dengar dulu, aku..." 

"Menurut kakak apakah yang aku dengar dari kakak kemarin sesuai dengan apa yang aku lihat hari ini? Atau jangan-jangan kakak sudah lupa apa yang kakak ucapkan kemarin di parkiran kantor?" potong gadis itu.

Alvin tak menjawab, dia hanya mampu menatap gadis itu, membiarkan semua emosinya meluap.

"Kali ini kakak ingin menyampaikan kebohongan seperti apa lagi? Apa kakak belum puas membuatku sakit dan terus berharap, hah?! Jawab, kak!!! Kakak ingin membuat aku menangis seperti bagaimana lagi?!!" Kali ini Laura berteriak, airmatanya kembali tumpah tak tertahankan. Isak terdengar keras dari bibirnya yang basah. Bahunya berguncang oleh tangis.

Alvin mengusap rambutnya dengan keras, sungguh dia tak ingin membuat Laura seperti ini, "Ra... please," katanya sambil memegang kedua bahu Laura.

Laura ingin menepis lagi tangan Alvin, tapi tenaganya terlalu lemah karena menangis.

"Kali ini saja dengarkan aku, please. Kupertaruhkan seluruh kebahagiaan yang akan kudapat jika aku berbohong padamu. Dengarkan aku, Ra... oke?" bujuknya.

Merasa tak punya pilihan lain Laura pun tak lagi memberontak, dan diamnya diartikan Alvin sebagai persetujuan. Dengan lembut dibimbingnya gadis yang masih terisak itu untuk duduk di sebuah bangku kayu yang diletakkan di bawah pohon cemara besar yang telah dihias sebagai pohon natal raksasa.

Alvin berlutut di depan gadis itu, menyelimuti kedua tangan Laura yang masih gemetar dengan kedua tangannya yang besar. Dengan menghela napas panjang dia mencoba untuk meredakan kegugupannya.
"Ra..." panggil Alvin pelan, dan setelah gadis itu bersedia menatap matanya diapun melanjutkan kalimatnya, "Aku mencintaimu," ucap pria itu akhirnya setelah dia mengumpulkan seluruh keberaniannya.

Isak Laura semakin keras, dia memejamkan mata lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ingin menolak percaya untuk apa yang sedang disampaikan pria itu. 

Alvin menangkup wajah Laura dengan kedua tangannya, "Aku bersumpah, Laura. Aku sudah mencintaimu sejak dulu, entah sejak kapan, mungkin sejak kau beranjak remaja dan semakin dewasa. Aku mencintaimu setiap hari sejak saat itu hingga hari ini," tekan Alvin.

Laura masih memejamkan matanya sambil menangis, dia ingin percaya tapi dia takut terluka lagi. Dia ingin percaya, tapi dia takut tersakiti lagi.

"Aku bersumpah kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu, Ra," Alvin terus berusaha meyakinkan gadisnya.
"Kau tahu bagaimana perasaanku saat kau memutuskan untuk berpacaran dengan teman kuliahmu dulu? Rasanya aku benar-benar ingin membuatnya menyesal seumur hidup karena telah membuatmu terluka dan menangis. Menghantam wajahnya saja tidak cukup, Ra. Lalu bagaimana bisa aku tega membohongimu selama ini kalau melihatmu menangis saja sudah cukup membuatku hancur?"

Laura membuka matanya yang basah, 'Benarkah? Benarkah dia telah mencintaiku selama ini?' tanyanya dalam hati. Dia mulai meredakan emosinya.

"Kamu begitu tertutup, Ra... kamu mudah terluka. Kamu selalu menyendiri, kamu memiliki zona sendiri dimana kamu merasa nyaman dengan kesendirianmu. Kamu tak suka jika ada orang yang terlalu mencampuri hidupmu. Kau selalu berusaha keras melakukan semuanya sendiri, kau tunjukkan pada semua orang kalau kau mandiri dan tak bergantung dengan siapapun. Dan kau berhasil. Kau perempuan hebat yang bahkan tak membutuhkan bantuanku sebagai kakak atau sebagai siapapun. Lalu apa yang bisa aku lakukan selain menjagamu dari kejauhan? Kalau memang membatasi kedekatan kita mampu membuatmu nyaman maka aku akan melakukannya untukmu, Ra. Karena apa? Karena aku ingin kamu bahagia, karena akupun tak pernah mengijinkan diriku sendiri untuk menyakitimu," jelas Alvin lagi.

Laura kembali menutup matanya dan menggigit bibirnya yang mulai kembali terisak. Itukah alasan Alvin tak mendekatinya secara terang-terangan selama ini?

"Kau tahu seperti apa bentuk kecewaku saat kau bahkan tak mengatakan apapun padaku ketika dua perempuan itu menekanmu? Melukaimu? Aku kecewa, Ra... kecewa pada diriku sendiri karena aku ternyata tak mampu melindungi orang yang begitu aku cintai. Aku merasa begitu tak pantas berada di dekatmu," lanjut Alvin sambil mengusap airmata yang masih mengalir di pipi gadis itu.
"Aku juga begitu terkejut dengan keputusanmu yang akan pergi bersama Daniel, aku sebenarnya ingin menahanmu, tapi aku sadar kalau aku tak memiliki hak apapun akanmu, aku bukan siapa-siapa untukmu, Ra. Aku hanya menganggap kalau memang itu pilihanmu untuk bahagia maka aku akan berusaha mewujudkannya untukmu," jelas Alvin.

Laura membuka matanya dan menatap lurus pada mata tajam milik Alvin, ada kejujuran di sana, juga luka.

"Percayalah, aku sungguh-sungguh mencintaimu," bisik Alvin tanpa keraguan.

"Lalu Maura?" Laura bertanya dengan suaranya yang terdengar berat dan serat akibat menangis sejak tadi. Dia menanyakan hal terakhir yang masih membuatnya ragu akan kata-kata Alvin.

"Kalau kau bertanya tentang Maura... aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun padanya, aku bersumpah. Aku memilih dia sebagai sekretaris awalnya karena dia mengingatkanku akan kamu, Laura."

Laura terkesiap, dia memandang Alvin dengan tajam.

Alvin tersenyum samar, ingatannya kembali di hari itu saat Laura mengajukan beberapa map berisi lamaran pekerjaan ke mejanya, "Dia memiliki rambut ikal seperti rambutmu, usianya tak berbeda jauh denganmu, dan... berkacamata. Awalnya kupikir jika kamu benar-benar pergi akan ada gadis yang menyerupaimu di sisiku, tapi aku salah. Bahkan seujung kukupun dia tak mampu mengalahkan pesonamu di mataku, dan hatiku."

Laura berusaha keras agar tak tersenyum. 'Jadi itu alasannya memilih Maura dari beberapa pelamar yang diajukannya hari itu?' batinnya.

"Dia yang terus memaksa untuk mendekatiku, berbagai cara dia lakukan agar aku terpesona padanya. Sebenarnya aku malas meladeni dia, tapi aku tak suka saat dia terus merepotkanmu dan membuatmu kesal, karena itulah aku berusaha menjauhkan dia darimu."

Laura menahan nafasnya, sebesar itukah Alvin menjaganya?

"Lalu waktu kau melihat kami makan bersama... itu karena kau menolakku untuk makan di apartemenmu bersama Marissa. Aku tak punya pilihan lain selain menyetujui ajakan Maura makan di luar daripada dia terus memaksaku untuk membiarkannya datang ke apartemenku."

Setelah itu Alvin jeda sejenak untuk mengambil nafas. Laura hanya menatapnya, kali ini rasa percaya mulai tumbuh di hatinya.

Alvin melanjutkan penjelasannya, "Dan saat kamu melihat kami berpelukan... saat itu aku mencarimu ke ruanganmu, tapi kamu sudah pergi. Aku ingin mengejarmu, mengatakan kalau aku tak ingin kamu pergi, Laura. Tapi lagi-lagi Maura menahanku, dia menarikku dan memelukku tepat disaat kamu masuk ke dalam ruangan."

Laura menghela napas panjang dengan tetap terus menatap pria itu, "Lalu hari ini?" tanyanya.

Alvin menatap gadisnya dengan lembut, ujung telunjuknya menyusuri sisi wajahnya yang lembab sembari menyingkirkan sisa anak-anak rambut yang menempel di sana. Wajah gadis itu tampak sedikit pucat tapi tak mampu mengurangi kecantikannya. Laura tak membutuhkan make up untuk meluluhkannya.
"Tadi pagi aku menelpon mama yang masih berada di Bali, aku bilang kalau malam ini aku akan memperkenalkan seorang gadis pada mereka, gadis yang akan datang bersamaku di pesta Daniel. Sengaja tak kusebutkan namanya karena aku ingin menjadikan ini sebagai kejutan untuk mereka," jelasnya.
"Karena terlalu bersemangat aku sampai lupa kalau aku belum mengajakmu. Kupikir kita berempat pasti akan datang bersama ke tempat resepsi. Ternyata sore tadi saat kutelpon Daniel... dia sudah berada di hotel bersama Marissa dan kamu. Jelas saja aku panik, bagaimana bisa dia tak mengatakan apa-apa semalam. Seharusnya dia bilang kalau kalian sudah harus bersiap di sini sejak sore jadi aku bisa ikut sekalian," kali ini nada suara Alvin tampak kesal. 

Tanpa sadar Laura tertawa pelan, semalam memang kakaknya tidak bilang apa-apa tentang jadwal hari ini, dia saja harus mandi dengan terburu-buru karena mengejar waktu. Sadar kalau Alvin tengah menatapnya Laura pun segera menghentikan tawanya, "Apa lihat-lihat? Teruskan ceritanya," katanya lagi dengan memasang raut muka cemberut.

Alvin merasa lega, begitu lega melihat senyum gadis di hadapannya itu. Pria itu mencium kedua tangan Laura yang telah berada kembali di genggamannya.

Laura merasa jengah, tapi dia tak bisa menahan debaran yang kembali bertalu di dadanya. Bibir Alvin terasa begitu hangat di jemarinya, begitu lembut. Dia merasa ada seribu kupu-kupu terbang di perutnya.

"Aku langsung bersiap secepatnya, dan macet di jalan raya benar-benar membuatku naik darah," lanjut Alvin. 
"Begitu tiba di sini aku segera memarkir mobil dan berlari masuk. Sialnya aku justru bertemu Maura di Lobby. Dia sengaja menungguku karena aku pernah bilang kalau malam Natal aku ada acara di hotel ini." 

Segera saja Laura teringat saat dia mendengar Maura menelpon temannya di kantor, "Bukankah kakak yang mengajaknya untuk datang ke pesta kak Daniel? Aku mendengar dia bicara di telpon dengan temannya."

Alvin menggeleng, "Aku tak pernah mengajaknya, Laura. Dia memaksa ingin menghabiskan malam Natal denganku, tapi kutolak. Aku bilang kalau sahabatku akan menikah, tapi dia terus memaksa. Bahkan dia ingin ikut denganku ke acara ini begitu dia tahu kalau mempelai wanitanya adalah salah satu karyawanku. Karena Maura termasuk karyawan baru di kantor maka Marissa tak mengundangnya. Apalagi Marissa tahu seperti apa sikap Maura. Karena itu Maura kesal dan terus memaksa agar aku mau mengajaknya datang, jelas saja aku tak mau, apalagi aku tahu kalau papa dan mama pasti hadir," jelasnya dengan berapi-api.

Laura tercenung, "Berarti Maura berbohong?" tanyanya.

Alvin menghela nafas dengan kasar, "Entah, dan aku tak peduli. Yang pasti tadi aku tak datang bersamanya. Dia terus mengikutiku sampai aku bertemu kamu." 

Laura menatap mata Alvin, "Tapi tadi om dan tante bilang kalau kakak akan memperkenalkan calon istri kakak. Dan aku melihat kakak datang bersama Maura," jelas gadis itu dengan nada bingung.

Alvin semakin mengeratkan genggamannya pada Laura. Pria tampan itu tersenyum dengan begitu lembut, "Maaf kalau aku lancang, sebenarnya... mmmh..." 

Laura mengernyit, "Sebenarnya apa, kak?" tanyanya.

Alvin mengusap belakang lehernya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain masih menggenggam tangan Laura.

Laura semakin bingung melihat wajah pria itu yang menjadi sedikit merah, "Kak," panggilnya.

Alvin kembali menghela napas panjang dan mendongak menatap gadisnya. Pria yang masih menopang tubuhnya dengan satu lutut itu semakin maju dan melingkarkan tangannya di pinggang Laura.

Laura hampir saja melonjak, tak pernah ada lelaki yang memperlakukannya seintim ini. Tanpa bisa dicegah wajah gadis itupun merona. Seakan tahu harus bagaimana, kedua tangannya pun otomatis bersandar di kedua bahu Alvin. Wajahnya menunduk untuk membalas tatapan pria itu.

"Maaf kalau aku lancang, aku..." Alvin seakan takut meneruskan ucapannya. Sementara Laura semakin penasaran saja.

"Aku... aku terlalu percaya diri kalau kamu akan menerimaku segampang itu, Ra. Aku bahkan belum mengatakan tentang perasaanku padamu. Hanya saja tadi pagi mulutku seperti bergerak sendiri dengan mengatakan hal itu pada mama. Aku..."

Dada Laura bergemuruh kencang saat tangan Alvin mengusap punggungnya dengan lembut, meninggalkan rasa panas pada jejaknya.

"Yang kumaksud dengan calon istri itu sebenarnya adalah... kamu, Ra," kata Alvin yang segera melanjutkan kalimatnya untuk menutupi kegugupannya, "Maaf kalau aku lancang dan mengatakan hal itu pada mama, aku sungguh-sungguh... Ra? Kenapa kamu menangis?" Alvin menghentikan ocehannya saat dia melihat gadisnya menangis lagi.

Laura menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia sungguh tak menyangka kalau Alvin sudah sejauh itu memikirkan hubungan mereka ke depannya, padahal dia saja masih ragu akan perasaan pria itu tadinya.

"Ra... aku salah, ya? Maaf. Seharusnya aku bertanya dulu akan perasaanmu. Maaf, Ra... tapi aku terlalu mencintaimu. Sejak kau masih remaja dulu... aku... aku mencintaimu, Laura."

Alvin terkesiap saat gadis itu melemparkan diri ke arahnya dan melingkarkan tangannya di bahunya. Isak kembali terdengar dari bibirnya yang merah. Segera saja pria itu membalas pelukan Laura dengan begitu erat, mengayun pelan tubuh gadis itu dalam dekapannya.

"Kenapa? Kenapa baru sekarang? Kakak tahu berapa lama aku memperhatikan kakak? Bahkan sebelum dulu aku memiliki kekasih. Kenapa kakak cuma diam saja?Kenapa tak melarangku?" tanya Laura bertubi-tubi diantara tangisnya.

Alvin semakin mengeratkan pelukannya, diciuminya rambut gadis itu, menghirup harum baunya dengan rakus, "Aku takut menyakitimu, Ra. Aku tak punya keberanian lebih saat itu, maaf," bisiknya. "Aku ingin menjadi pria yang hebat dulu sebelum aku mengatakan perasaanku padamu, aku ingin bisa menjadi sosok yang bisa kamu banggakan. Maaf kalau selama ini aku cuma bisa memperhatikanmu dari jauh. Maaf," bisik Alvin lagi.

Laura semakin tenggelam dalam tangisnya, kini semuanya sudah jelas. Dibiarkan saja pria itu terus memeluknya, menenangkannya. Mereka sama-sama memilih diam, memilih memutar kembali semua kenangan sejak pertama kali mereka bertemu. Beginikah cinta? 

Alvin tersenyum, dia tak menginginkan apa-apa lagi, memeluk Laura seerat ini adalah mimpinya. "Aku mencintaimu," bisiknya lagi di telinga gadis itu. 

Akhirnya Laura menjauhkan tubuhnya. Gadis itu menatap bola mata Alvin, dan dia melihat kesungguhan di sana. Dengan lembut diusapnya wajah pria itu, wajah yang selama ini selalu hadir di mimpi-mimpinya, wajah yang selalu menemaninya setiap kali dia memejamkan mata. 
"Aku juga mencintai, kakak," bisiknya lembut dengan senyum bahagia tersungging di bibirnya.

Kali ini Alvin tersenyum lebar, segera dia menarik Laura untuk berdiri dan memeluk gadis itu dengan begitu erat. Tawa ceria terdengar dari bibir-bibir mereka. "Kamu menerimaku, Ra? Nggak bohong?" tanya Alvin lagi setelah dia melepaskan pelukannya.

Laura tak menjawab, dia hanya mengangguk sambil tertawa. Dan akhirnya dia menjerit saat Alvin mengangkat pinggangnya lalu memeluknya sambil berputar. Laura menatap ke arah langit, begitu banyak bintang, dan pohon cemara dengan hiasan lampu-lampu Natal tampak begitu indah dipandang oleh matanya yang sedikit berkabut.

Alvin menurunkan gadisnya dengan pelan lalu meraih dagu gadis itu dengan ujung jarinya, "Jadilah kekasihku, Laura. Dampingi aku hingga kau siap untuk menjadi istriku. Lalu setelahnya... temani aku hingga usia kita menua. Hingga kelak Tuhan akan mempersatukan kita lagi di surga," pinta Alvin sambil menatap lurus manik mata gadisnya.

Laura tersenyum, sebutir airmata kembali turun. Tapi tak ada lagi kesedihan, dia hanya terlalu bahagia. Tuhan telah mewujudkan mimpinya di malam Natal ini. 
"Ya, kak... aku akan terus mendampingimu. Selamanya," ucapnya dengan nada serak tapi tegas dan penuh keyakinan.

Alvin mendekatkan wajahnya, dan dia tersenyum saat Laura memejamkan matanya. Bibir mereka akhirnya tak berjarak, saling bertemu dalam sebuah ikatan rasa yang tak terpisahkan. Keduanya hanyut dengan perasaannya masing-masing, saling memagut dan menyecap apa yang mereka sebut cinta. Dalam hati mereka bersumpah jika rasa ini akan ada untuk selamanya. Bahkan waktu selamanya tak akan cukup untuk mereka.

"Ehem!!!" 

Keduanya tersadar saat sebuah deheman menginterupsi kegiatan mereka. Laura segera mendorong tubuh Alvin yang masih memeluknya, wajahnya semerah senja saat, di antara matanya yang kabur karena lensa kontaknya terlepas, dia masih bisa mengenali siapa-siapa saja yang berdiri di dekat mereka.

Alvin berdecak, "Kenapa kalian meninggalkan pelaminan sih? Tak sopan sekali, padahal banyak tamu di sana," gerutunya.

Daniel menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang, "Kau apakan adikku sampai dandanannya kacau balau begitu? Padahal sebentar lagi aku ingin berdansa dengannya," kata pria yang memakai tuxedo hitam itu.

"Sejak sore aku sudah meriasnya dengan begitu sempurna, dan sekarang coba lihat apa yang kau lakukan pada adik iparku?" Marissa ikut menyalahkan Alvin. Tak ada lagi bahasa formal yang biasa dia lakukan pada mantan atasannya itu.

"Papa juga ingin berdansa dengan gadis kecil papa, tapi kau malah mengacaukan semuanya," Theo tak mau kalah dan memarahi putranya.

Sementara Laura merasa begitu malu, dan dia memilih sedikit bersembunyi di belakang pria yang kini telah menjadi kekasihnya itu.

Alvin tersenyum geli, Laura memang tampak sedikit kacau karena riasan di wajahnya nyaris hilang karena airmata. Tapi itu sama sekali tak masalah, karena Alvin selalu suka bagaimanapun penampilan gadisnya. Dia malah kesal kalau Laura tampak begitu cantik di muka umum seperti malam ini. Ingin rasanya dia memaki seluruh tamu pria yang hadir lalu memecat sebagian besar  dari mereka yang datang karena undangan dari Marissa yang berarti adalah karyawannya sendiri.

Sophia mendekati Alvin lalu menarik lembut tangan Laura agar keluar dari persembunyiannya. Lalu gadis yang sudah dikenalnya sejak dia masih kecil iti dipeluknya dengan penuh kasih, "Biar mama saja yang merapikan riasan wajah calon menantu mama ini, boleh kan?" tanyanya pada Alvin yang segera saja membuat wajah Laura semakin merah.

Alvin tersenyum, "Kuserahkan calon istriku ini pada mama, jadikan dia cantik hanya untukku ya, ma?" godanya pada Laura yang disambut delikan sebal gadisnya.

Sophia terkekeh pelan sebelum mencium kening Laura, "Ayo, sayang," ajaknya sambil menggandeng Laura agar mengikutinya.

"Aku yang akan berdansa pertama kali dengannya, ma. Jadi tolong jauhkan Laura dari dua laki-laki ini!!!" Teriak Alvin pada ibunya.

Sophia tertawa keras tanpa menghentikan langkahnya, sementara Laura hanya memandang kekasihnya dengan pandangan mengancam. 'Terus saja menggodaku', gerutunya dalam hati. Kesal memang, malu, tapi rasa bahagia inj tak mampu dipungkirinya.

"Kau bahkan belum melamarnya padaku, Vin. Seenaknya saja kau klaim adikku sebagai calon istrimu," kata Daniel sambil meninju pelan bahu sahabatnya itu.

Alvin tertawa sambil melihat ke arah ayahnya, "Please, pa... bantu aku untuk meluluhkan hati calon kakak iparku ini," candanya.

Theo ikut tertawa, "Papa yakin Daniel tak akan keberatan kalau Laura kelak akan menjadi menantu papa, iya kan, Dan?" tanyanya dengan ringan, tapi Daniel tahu kalau pria itu serius. Dia sudah hapal bagaimana sifat masing-masing keluarga Alvin.

Daniel mengangkat bahu sambil memeluk pinggang Marissa, "Kalau om yang bilang begitu bagaimana aku bisa menolak, iya kan, sayang?" tanyanya pada Marissa yang dibalas anggukan oleh istrinya itu.

"Kita akan bicarakan ini dengan lebih serius lagi setelah om berunding dengan tante kapan sebaiknya kami melamar Laura secara resmi padamu sebagai walinya," sambung Theo lagi.

Daniel menghela nafas panjang, ada perasaan lega dalam hatinya, lega karena dia yakin adik yang begitu disayanginya akan berada di tangan pria yang tepat, pria yang telah menjadi sahabatnya sendiri sejak lama. Pria itu menatap Alvin dan dia melihat kesungguhan di sana. 

"Aku akan menjaga Laura, Dan... aku bersumpah. Jadi kumohon jangan bawa dia ke Perth," pinta Alvin.

Daniel tersenyum, "Kalau memang itu keinginan Laura maka aku tak akan pernah memaksanya. Tapi ingat... aku tak akan pernah memaafkanmu kalau kau sampai menyakitinya," ancam pria itu.

Alvin mengangguk, "Ya... jika itu terjadi kau bisa membunuhku, Dan," jawabnya dengan nada penuh keyakinan.

"Kupegang kata-katamu," jawab Daniel sebelum melepaskan istrinya lalu berganti memeluk Alvin dengan erat.

Alvin membalas pelukan Daniel dengan tak kalah eratnya, "Thanks, Dan," bisiknya.

.
#
.

Laura memandang sekeliling ruangannya, banyak yang berubah, Alvin menyulap ulang ruangan itu agar menjadi nyaman untuknya. Dia duduk di kursi kerjanya, menyandarkan bahunya dengan santai sambil memejamkan mata. Teringat lagi apa yang terjadi padanya dan Alvin saat malam Natal itu, Alvin mencintainya, bahkan melamarnya di depan kakaknya saat mereka mengantar Daniel dan Marissa ke bandara. Alvin sudah memintanya pada Daniel dan bersumpah akan menjaga dan mencintainya dengan seluruh hidupnya, bahkan pria itu juga sudah menyematkan cincin pertunangan di jarinya di hadapan kakaknya, Marissa, dan kedua orangtuanya yang juga ikut mengantarkan kepergian Daniel dan istrinya, bukankah itu sudah sangat bagus? Walaupun semua itu dilakukan di bandara dan disaksikan oleh banyak orang yang tak mereka kenal. Laura tertawa sendiri saat mengingat hal itu.
Apalagi setelah pertunangan dadakan itu kedua orangtua Alvin tak ingin menunggu terlalu lama untuk menjadikannya sebagai menantu di keluarga mereka, apalagi yang lebih luar biasa dari itu?

Ya... Laura tidak jadi ikut Daniel dan Marissa untuk tinggal di Perth, Daniel membatalkan tiketnya sembari mengancam Laura agar tak termakan bujuk rayu Alvin sebelum mereka menikah. Daniel juga melarang Laura untuk masuk sendirian ke apartemen Alvin, serta beberapa nasehat over protektif lainnya.

Dan pagi ini setelah dia kembali bekerja di perusahaan Alvin semua juga berubah, tak ada yang tak tahu hubungan mereka sejak Alvin berdansa dengannya di pesta Daniel malam itu, bahkan secara terang-terangan Alvin mengumumkan ke seluruh karyawan kalau dia adalah calon istrinya. Semua yang selama ini mencemoohnya mulai memasang topeng manis, para pria yang sering memanggilnya cupu pun bungkam. Tapi statusnya yang kini telah resmi menjadi kekasih Alvin tak lantas membuatnya merubah penampilan. Alvin tak suka jika dia tampil terlalu mencolok, pria itu benar-benar pencemburu.

Terakhir... Alvin memindahkan Maura ke bagian arsip dan pendataan, tapi gadis itu menolak dan akhirnya memilih keluar dari perusahaan, "Haaah... kuharap tak ada lagi kejadian seperti itu, melelahkan," desahnya pelan.

"Apa aku membuatmu lelah, sayang?"

Laura terlonjak dari duduknya, dan setelah dia duduk dalam posisi yang benar dia melihat Alvin sudah berdiri di depan pintu, "Ma-maaf... saya..."

"Berhentilah bersikap formal saat kita sedang berdua walaupun itu di kantor. Aku tak meragukan keprofesionalitasanmu terhadap pekerjaan walaupun kamu sekarang adalah kekasihku," potong Alvin sambil berjalan mendekati gadisnya, "Cuma rasanya aneh saat mendengar kalau... calon istriku yang cantik ini berkata begitu formal padaku," rayu Alvin sambil mengusap lembut satu sisi wajah Laura yang sudah memerah.

Laura berdecak, pria itu sekarang jadi sering menggodanya, "Gombal," gerutu Laura sambil memajukan bibir bawahnya.

Alvin terkekeh, dirasa tak mampu menahan diri lagi diapun mencium bibir Laura dengan gemas, memagutnya dengan rakus seakan semua ini tak cukup untuk menunjukkan seberapa besar perasaannya pada gadis itu, "Rasanya aku ingin segera mengurus pernikahan kita, sayang. Berada di dekatmu benar-benar membuatku sulit menahan diri," bisiknya parau di telinga Laura setelah dia melepaskan ciumannya.

Laura memukul pelan dada Alvin, "Kalau kakak seperti ini terus aku yakinkan pekerjaan kita tak akan pernah selesai," katanya kesal.

Alvin tertawa renyah. Pria itu lalu memeluk Laura dengan begitu posesif, mencium rambutnya yang halus dan harum, "Aku mencintaimu, Laura... selamanya," ungkapnya dengan bersungguh-sungguh.

Laura tersenyum dalam dekapan kekasihnya sembari berdoa semoga akan ada kata selamanya untuk mereka menghabiskan sisa umur bersama.


END







Author's Note :

Akhirnya kelar jugaaaaaaa....... #tepar. Sist Agnes yang cantik dan baik hati... maap yak kalau hadiahmu ga keren gini, hik... aku desperet. Salahkan kerjaan akhir dan awal tahun yang memecah konsentrasiku #halaaah #nyarikambinghitam xDD

Jangan minta kado beginian lagi yak? Klo nekat ntar aku bikinin yang super angst loh #ngancam

Jumat, 01 Januari 2016

Sebentuk Asa

Hujan turun dengan begitu derasnya, tampak seorang petugas keamanan membukakan pintu kaca sebuah apartemen untuk seseorang yang sangat dia kenal, "Selamat malam, Pak Alvin," sapanya sopan dengan setengah membungkuk.

Pria jangkung dengan jambang tipis yang membingkai wajah tampannya itu membalas dengan anggukan saja. Kaki panjangnya tak berusaha berhenti walau hanya untuk sekedar basa-basi. Langkahnya berhenti di depan lift, jarinya yang panjang dan berkulit sawo matang itu memijat tombol dengan panah ke atas. Sembari menunggu pintu lift terbuka pria dengan rambut coklat pendek itu mengambil ponsel dari dalam saku jasnya yang sedikit basah lalu memeriksa apakah ada pemberitahuan baru di layarnya yang cukup lebar. Wajahnya mendongak saat terdengar bunyi dentingan pelan sebagai penanda pintu lift sudah terbuka. 
Mata gelapnya yang tadi tampak tenang kini berubah tajam saat dia melihat siapa yang keluar dari dalam kotak besi otomatis itu, "Mau kemana?" tanyanya pada seorang gadis yang memakai kaos biru dan celana jeans sebetis di hadapannya.

Gadis itu tampak terkejut melihat siapa yang tengah menyapanya, dengan gugup dia sedikit menyingkir dari hadapan pria yang menyapanya itu, "Se-selamat malam, Pak Alvin," jawabnya setengah menunduk.

Alvin menghela napas panjang, gadis di depannya itu adalah Laura, sekretarisnya di kantor yang kebetulan juga tinggal di dalam gedung yang sama dengannya, juga di lantai yang sama, bahkan tepat di depan tempat tinggalnya. "Aku bertanya kau mau kemana?" ulangnya sambil terus mengamati wajah cantik yang masih menunduk itu. Gadis yang sederhana, walau tanpa make up tebal pun sebenarnya dia sudah cukup mampu menarik perhatian kaum adam. Hanya saja kacamata bening yang bertengger di batang hidungnya sedikit menghalangi pesonanya.

"Mau cari makan malam, Pak," sahut Laura dengan pelan dan sopan. Pria di hadapannya itu memang selalu mampu membuatnya yang pendiam dan pemalu ini semakin gugup.

"Ayo kuantar."

Laura langsung mendongak dan menggeleng, "Tidak usah, Pak... terima kasih, saya bisa sendiri," tolaknya.

Alvin mendesah sedikit keras, "Ini sudah malam dan di luar hujan. Aku bertanggung jawab pada kakakmu atas keselamatanmu, Laura."

Gadis berkulit putih dengan rambut ikal coklatnya yang panjang itu terkejut mendengar suara pria itu yang sedikit keras, "Tidak apa-apa, saya sudah 22 tahun dan saya yakin kak Daniel tidak akan melarang saya keluar sendirian untuk mencari makan," tolaknya lagi sambil membenahi letak kacamatanya dengan ujung-ujung jarinya.

Seakan malas berdebat Alvin pun menarik tangan Laura yang mungil lalu menyeretnya menuju pintu keluar.

"Pak Alvin baru pulang, pasti capek, kan?" Laura masih berusaha menolak.

Petugas keamanan yang tadi memberi salam pada Alvin hanya mengulum senyum melihat dua orang itu. Semua sudah tahu kalau sifat Alvin memang agak dingin, tapi pria berusia 30 tahun itu tampak selalu melindungi adik dari Daniel Wiriawan, sahabat dekatnya sejak di bangku kuliah. Kedua orang tua Laura sudah meninggal, Kakaknya bekerja di sebuah perusahaan besar di Singapura sejak satu tahun yang lalu, dan Daniel memilih menitipkan Laura kepada sahabat dekatnya. Kemudian Alvin akhirnya meminta Laura untuk bekerja sebagai sekretaris di perusahaannya, hingga hari ini.

#

Laura hanya pasrah saat Alvin memaksanya masuk ke dalam Pajero Sport putihnya. "Pak Alvin...".

"Bisa kan kamu panggil aku kakak kalau tidak ada orang lain di dekat kita, Laura?" potong Alvin.

Laura meremas jari-jarinya yang lentik dan tanpa cat kuku itu dengan sedikit resah, "Bi-bisa, tapi saya sering lupa," jawabnya dengan wajah sedikit memerah.

Alvin tertawa pelan, gadis yang duduk di sampingnya itu memang selalu tampak menggemaskan saat gugup. Berbeda sekali dengan kakaknya yang berisik dan selalu tebar pesona ke banyak gadis. "Apa aku semenyeramkan itu? Sampai kau jarang sekali memandang wajahku saat berbicara, bahkan di kantor."

Laura langsung menggeleng, "Bukan, Pak... eh Kak. Habisnya kakak jarang tersenyum, jadi saya..."

"Dan bahasamu juga selalu formal. Aku mengenalmu sejak kau belum memakai seragam putih biru, Laura." Alvin kembali memotong ucapannya sambil terus melajukan mobilnya, menerobos hujan yang semakin deras.

Gadis berkacamata itu hanya diam dan menunduk.

"Kamu mau makan apa?" tanya Alvin berusaha memecahkan keheningan.

Laura tampak sedikit berpikir, baru saja dia hendak membuka mulutnya tapi Alvin kembali menyela, "Aku tak suka jawaban terserah. Kamu tentukan sendiri kamu ingin makan apa."

Gadis itu menyampirkan rambutnya yang sedikit tergerai ke belakang telinga, agak malu juga karena pria itu berhasil menebak isi kepalanya, "Masakan China mungkin, kak. Hujan begini pasti hangat kalau makan capcay," jawabnya.

Alvin segera membelokkan kemudi mobilnya ke arah restoran China yang tak begitu jauh dari apartemen mereka. "Tumben kamu nggak masak sendiri?" Alvin berusaha menciptakan percakapan santai dan perlahan menghilangkan keformalan di antara mereka. Memang Laura adalah pegawainya di kantor, tapi lepas dari itu dia sudah terlalu lama mengenal gadis itu, bahkan sudah menganggap Laura sebagai adiknya sendiri. Kedua orangtuanya pun selalu menganggap Laura dan Daniel sebagai anak mereka, mengingat Alvin adalah anak tunggal di dalam keluarganya.

"Tadi saya, mmh... aku nggak sempat belanja, kak. Ketiduran," jawab Laura.

Alvin melirik gadis di sampingnya. Di jaman seperti ini masih ada gadis muda dengan penampilan seperti Laura, tak ada bagian tubuhnya yang ditonjolkan, bahkan saat bekerja pun pakaiannya selalu sopan. Tak sekalipun Laura berusaha menarik perhatiannya seperti pegawai-pegawai wanita di kantornya yang berlomba untuk mendapatkan perhatiannya walau hanya sekedar sapa.
Selama ini Alvin memang malas berurusan dengan wanita, karena baginya wanita itu merepotkan. Tapi berbeda dengan Laura, gadis ini begitu mandiri. Walaupun kakaknya sudah menyerahkannya pada Alvin tapi tak sekalipun gadis itu pernah ingin merepotkannya. Bahkan Laura tak ingin diistimewakan di kantor, dan itu dibuktikannya dengan sikapnya yang selalu sopan dan formal pada Alvin. 
"Kamu pasti capek karena kutahan untuk mengerjakan laporan hasil meeting kita siang tadi ya?"

Laura segera saja menggeleng, "Bukan karena itu, kak. Aku cuma ketiduran karena udaranya memang sejuk sejak sore."

"Jangan bilang kalau jendela kamarmu kamu buka sejak hujan turun tadi," tebak Alvin.

Laura tertawa pelan, "Iya. Habisnya aku kan suka melihat dan mendengar suara hujan."

Alvin menggeleng pelan sebelum menghentikan mobilnya di halaman restoran cina yang mereka tuju, "Kamu bukan anak kecil lagi, Laura. Bagaimana kalau kamu sakit?" tegurnya sambil mematikan mesin mobil.

Laura hanya tersenyum menanggapi teguran Alvin, baginya sudah biasa, karena kakaknya juga selalu kesal kalau dia membuka jendela kamar saat hujan. Senyumnya hilang saat dia menyadari tatapan Alvin yang lurus tertuju ke matanya, dan dia kembali gugup lalu menundukkan wajahnya lagi.

Alvin tersenyum tipis, Laura selalu mampu membuat hatinya menghangat walau hanya dengan sebuah senyum saja, manis. "Jangan turun dulu, aku ambilkan payung di belakang," katanya saat melihat tangan Laura sudah terulur ke arah pintu di sampingnya. Dan dia kembali tersenyum saat gadis itu menurut.

Laura menoleh saat mendengar gerutuan Alvin, "Kenapa, kak?" tanyanya.

"Aku lupa kalau payungnya kemarin kuturunkan di kantor dan belum kuambil lagi," jawab pria itu.

"Ya sudah, nggak usah pakai payung, kan tinggal gerimis aja di luar," kata Laura lagi.

Alvin menatap gadis di sampingnya itu lalu menatap ke luar yang memang hujannya sudah berganti gerimis, tapi tetap saja akan basah kalau mereka keluar dari mobil dan berlari menuju pintu restoran. Dia lalu membuka jasnya dan menyampirkannya di kepala Laura, "Pakai ini," katanya.

Laura menggeleng keras, "Jangan, nanti kakak..."

"Kali ini aku tak ingin dibantah, Laura. Pakai dan segeralah berlari masuk ke dalam," perintahnya sambil menggulung lengan kemejanya sebatas siku. "Hati-hati kalau lari, jangan terpeleset," tahannya sebelum Laura membuka pintu.

Laura memandang pria itu dan tersenyum lebar, "Iya, kak," jawabnya sambil mengangguk dan berlari keluar.

Setelah Laura keluar dari mobil dan berlari menuju pintu masuk dengan selamat Alvin pun menghembuskan nafas panjang, "Ya Tuhan, Daniel... kau benar-benar mengujiku. Awas saja kalau kau muncul sebagai penghalang," gerutunya sebelum dia keluar dari mobil dan menerobos gerimis untuk menyusul gadis itu ke dalam.

"Sudah pesan?" tanya Alvin setelah dia duduk di hadapan Laura.

Gadis itu masih menunduk membaca menu, "Belum, kak. Kakak mau makan di sini atau dibawa pulang aja?" tanyanya sambil mendongak, dan dia sedikit terkejut melihat rambut Alvin yang basah. "Tuh kan, jadi kakak yang basah, kan? Nanti kakak flu loh, kita pesan teh hangat dulu, ya? Ini kakak pakai saputanganku aja buat keringin rambutnya," kata Laura panjang sambil mengambil sehelai saputangan dari tas kecilnya lalu tanpa sadar dia bukannya memberikan saputangan biru itu pada Alvin tapi justru langsung mengarahkan pada rambut pendek Alvin yang basah dan mengusapnya lembut.

Alvin tersenyum, dibiarkan saja gadis itu terus tak sadar, karena dia sangat menyukai perhatian yang diberikan Laura padanya.

Merasa diperhatikan Laura pun mengalihkan perhatiannya dari rambut Alvin, dia membalas tatapan Alvin yang tengah memandangnya dengan senyum dikulum, lalu wajahnya mendadak semerah kepiting rebus saat Laura akhirnya sadar akan apa yang telah dia lakukan, "Maaf, kak..." katanya sambil menarik tangannya lalu menunduk dan meremas tangannya sendiri.

Alvin tersenyum lebar, "Maaf untuk apa? Terima kasih, ya?" ucapnya yang akhirnya membuat Laura kembali mendongak. Jantung gadis itu hampir lepas dari tempatnya melihat senyum dari pria yang terkenal dingin di hadapannya itu, dan dia hanya mengangguk pelan.

"Kita makan di sini saja untuk malam ini, tapi nanti kita pesan untuk dibawa pulang juga," Alvin menjawab pertanyaan Laura di awal tadi.

"Kok dibawa pulang juga?" tanya Laura heran.

"Untuk sarapan besok pagi. Di tempatku juga sedang tidak ada persediaan makanan. Jadi daripada besok pagi kita berangkat tanpa sarapan bukankah lebih baik kalau kita bungkus dari sini malam ini dan besok tinggal dipanaskan lagi?"

Laura mengangguk setuju.

"Atau kamu mau kuantar belanja ke swalayan setelah ini?" tawar Alvin.

Laura menggeleng, "Jangan, kak... Aku sudah cukup merepotkan kakak malam ini. Biar besok pulang kerja aku belanja sendiri," tolaknya.

Alvin hanya menghela nafas panjang saja, "Ya sudah, sekarang kamu mau makan apa?" tanyanya.

Setelahnya mereka berbincang-bincang ringan sambil menikmati makan malam mereka, sama sekali tak membahas pekerjaan. Alvin lebih menggali kenangan masa lalu mereka saat dia baru mengenal Daniel dan Laura. Tak jarang Alvin membuat Laura cemberut saat pria itu mengingatkan betapa manjanya gadis itu pada kakaknya, dan selalu bersembunyi di balik punggung kakaknya saat ada orang asing datang.
Alvin begitu menikmati kebersamaan mereka, dia juga suka melihat raut wajah santai gadis di hadapannya itu, beragam ekspresi yang ditunjukkan Laura selalu mampu membuat dadanya berdebar lembut.

Obrolan mereka terhenti saat ada yang menyapa Alvin dengan begitu antusias, "Ya ampun, mimpi apa semalam bisa ketemu Pak Alvin di sini?"

Alvin dan Laura segera saja mendongak untuk melihat siapa si pengganggu itu. Ternyata dua orang wanita cantik dengan dandanan yang cukup tebal sudah berdiri di samping meja mereka, yang satu berambut panjang lurus, dan satunya berambut pendek tampak terkejut melihat Laura, "Loh? Kamu Laura, kan? Kok bisa sama pak Alvin di sini? Kebetulan banget bisa ketemu dan makan bareng bos?" ucapan bernada sinis keluar dari mulut si wanita berambut pendek yang ternyata keduanya adalah pegawai di kantor Alvin yang otomatis juga mengenal Laura.

Laura segera saja merasa tak enak hati, "Selamat malam, mbak Melly, mbak Rosa," sapanya.

Tanpa menghiraukan Laura kedua wanita itu segera saja menempati dua kursi kosong di samping Alvin dan di samping Laura, "Kami ikut duduk di sini ya, pak?" kata si rambut pendek yang bernama Melly.

"Jarang banget loh kami bisa bertemu Pak Alvin di luar kantor, tahu gitu tadi kan bapak bisa ajak kami untuk temani bapak, daripada sendirian," celoteh wanita berambut panjang, Rossa.

Alvin tak menjawab, dia lebih memilih meneruskan makannya, sementara Laura sudah mulai merasa kalau dia sulit menelan makanannya. Tatapan tajam Melly yang duduk di samping alvin mengintimidasinya.

"Bapak suka masakan China? Melly jago loh pak kalau urusan dapur begini, iya kan, Mell?" promo Rossa.

Melly yang disebut terlihat tersipu malu, walau orang bodohpun tahu kalau dia hanya berpura-pura manis di depan Alvin, "Bisa aja kamu, Ross. Aku jadi ga enak kalau kamu pamer gitu."

"Iya, kan? Masakan kamu tuh enak loh, Mell. Sekali-sekali coba deh buatin bekal buat pak Alvin, biar pak Alvin tahu gimana dahsyatnya masakan kamu," kata Rossa lagi yang semakin gencar memuji temannya.

Laura hanya menelan ludah saja, dia sungguh merasa tak nyaman dan ingin pergi dari sini. Perut yang tadinya terasa begitu lapar kini terasa begitu penuh dan sesak.

Alvin memandang Laura secara terang-terangan dan tak menghiraukan celotehan dua wanita di dekat mereka itu. Dia tak suka melihat gadis itu merasa risih dan tak nyaman, dia tak suka melihat Laura yang dia kenal malam ini kembali menjadi si kaku Laura sekretarisnya. Gadis yang sejak tadi banyak tersenyum kini hanya menunduk diam, makanan di piringnya tak lagi disentuhnya. Dan Alvin benar-benar merasa geram dengan kehadiran dua orang pegawainya yang bahkan namanya pun baru dia tahu saat disebut Laura tadi.
"Kamu sudah selesai makannya, Laura?" 

Pertanyaan Alvin pada Laura tersebut otomatis menghentikan ocehan kedua pengganggu di dekat mereka. Dengan tidak suka mereka berdua menatap tajam Laura yang mengangguk pelan tanpa memandang satu-satunya pria di situ.

"Kalau begitu ayo kita pulang. Tunggu aku di mobil," katanya sambil berdiri.

Dua wanita itu jelas-jelas melongo, "Pulang? Mobil? Kalian pergi bersama?" si rambut panjang tampak tak percaya, sementara si rambut pendek hanya mampu membelalakkan matanya. 

"Saya... saya bisa pulang sendiri, pak. Bapak tidak perlu..."

"Aku bilang tunggu aku di mobil, Laura. Kita pulang sekarang!" Perintah Alvin sambil membuka otomatis kunci pintu mobilnya dari kejauhan.

Tak ingin berdebat lebih panjang Laura pun berdiri, "Permisi, mbak... saya pamit duluan," pamitnya pada Melly dan Rossa sebelum melangkahkan kakinya keluar restoran.

Alvin berdecak kesal karena Laura melupakan jas nya dan nekat menerobos gerimis yang masih turun di luar.

"Pak Alvin... boleh kami menumpang mobil Bapak? Di luar masih hujan dan pasti kami akan kesulitan mencari taxi," rayu Rossa sebelum pria itu melangkah pergi.

Alvin hanya melirik tajam, "Tadi kalian bisa datang sendiri, kan? Berarti seharusnya bisa pulang sendiri."

Dua wanita itu terdiam, ada raut kesal pada wajah cantik mereka tapi tak berani diutarakan.

Merasa tak perlu pamit pada dua pengganggu itu Alvin pun menuju kasir untuk membayar dan mengambil makanan yang sudah dipesannya untuk dibawa pulang. Setelah itu dia segera menyusul Laura yang sudah menunggu di mobilnya. Tak lupa dia menyambar jas hitamnya yang tadi ditinggalkan gadis itu begitu saja.

Melly dan Rossa tak berani berkata apa-apa saat melihat wajah marah dari pimpinan mereka itu. Tadi mereka pikir mereka bisa merayu Alvin saat pria itu berada di luar kantor, tapi nyatanya pria idaman para wanita itu tetap dingin dan terkesan tak ingin disentuh.

"Kenapa tak dipakai jasnya?" tanya Alvin saat dia sudah duduk di belakang kemudi. 

"Ma-maaf, Pak... saya lupa tadi..."

"Pakai ini. Kamu kedinginan, Laura," potong Alvin sambil menyampirkan jas itu di bahu Laura yang basah. Dia ingin marah karena gadis itu kembali bersikap formal padanya, tapi dia juga tak ingin membuat Laura takut dan merasa tak nyaman saat bersamanya.

Laura hanya diam, rasa gugupnya perlahan hilang saat dia merasakan sentuhan Alvin di bahunya. Kehangatan tangan pria itu tembus hingga ke kulitnya yang dingin.

Tanpa sadar Alvin mengusap lembut kepala gadis itu, menyampirkan rambut ikalnya yang sedikit menjuntai di pipinya yang merah dan lembut.

Laura semakin menundukkan kepalanya, dicobanya untuk meredakan debar jantungnya yang semakin menggila.

Pria itu tersenyum, sungguh dia begitu ingin melindungi Laura, menjaganya dari segala kemungkinan buruk yang akan menyakitinya. 

Setelah itu keduanya membisu, menikmati hening yang melagukan sunyi. Tetesan hujan yang menghantam kaca mobil menjadi saksi bahwa udara dingin tak mampu membekukan hati mereka.

"Segeralah tidur, dan jangan membuka jendela kamarmu," pesan Alvin saat mengantarkan gadis itu ke depan pintu ruangan apartemennya.

Laura tersenyum dan mengangguk.

"Besok pagi mau berangkat bersamaku ke kantor?" Tawar Alvin.

Kali ini gadis itu menggeleng, "Nggak usah, Pak... eh kak," ralatnya saat Alvin menatapnya dengan tajam. "Aku berangkat sendiri saja seperti biasanya. Nggak enak nanti kalau banyak yang tahu." 

"Memangnya kenapa?" tanya Alvin.

Laura menghela nafas panjang, "Bagaimanapun di kantor kakak adalah pimpinan, dan aku nggak mau kalau sampai kakak direpotkan oleh gosip-gosip yang beredar jika ada yang tidak suka dengan kedekatan kita, kak," jelasnya. 

"Apa bukan karena kamu malu dekat denganku?" Alvin mencoba menggoda.

"Bu-bukan begitu, siapa yang tak suka dekat dengan kakak, hanya saja..." 

"Jadi kamu suka?" potong Alvin. Ada kilat jenaka di mata gelapnya yang tajam.

Sadar kalau digoda Laura pun memajukan bibirnya dengan kesal.

Alvin yang biasanya tenang kini terbahak geli, ditariknya hidung mungil Laura dengan gemas, "Masuk dan tidurlah, ganti bajumu dengan yang lebih hangat," katanya sambil mengacak lembut rambut gadis itu. "Dan ini makananmu, panaskan untuk sarapan besok pagi, ya?"

Laura tersenyum dan mengangguk, "Makasih untuk makan malamnya ya, kak. Selamat istirahat," ucap gadis bertubuh mungil itu sebelum menutup pintu apartemennya. 

.
#
.

Baru saja Laura memarkir Jazz putih pemberian kakaknya di pelataran parkir kantor, tapi sebuah panggilan menghentikan langkahnya. Dengan perasaan tak enak gadis berkacamata itupun membalikkan badannya, dan benar saja, dia melihat Melly dan Rossa di sana, "I-iya, mbak?" jawabnya gugup.

"Ikut kami sebentar!" kata Melly serupa sebuah perintah.

Laura melihat jam tangannya, sudah jam 08.30, dan sebentar lagi pasti Alvin datang dan dia belum membuatkan kopi untuk pimpinannya itu, kegiatan rutinnya sebelum jam kerja di mulai, "Tapi saya ..."

"Nggak usah banyak alasan deh, atau kami sebarkan kalau kamu berusaha merayu pak Alvin semalam," ancam Rossa yang pagi ini menggelung rambut panjangnya.

Laura terbelalak, bagaimana bisa jadi begini? Siapa yang merayu Alvin? "Saya tidak pernah merayu pak Alvin, mbak. Saya..."

"Nggak usah sok kalem deh! Ikut kami sekarang atau kami akan sebarkan kelakuan buruk kamu yang sebenarnya?" ancam Melly kali ini sambil menarik paksa tangan gadis yang sudah pucat itu.

#

Alvin melirik jam tangannya, sudah jam 9 lebih dan tak biasanya di meja kerjanya belum tersedia kopi hitam kesukaannya. Biasanya sebelum dia tiba di kantor Laura pasti sudah menyediakan kopi dengan sedikit gula, sedangkan hari ini dia bahkan tak melihat gadis itu di ruangannya. Beberapa kali Alvin mengintip ke ruangan sekretaris tapi Laura juga belum kelihatan. 'Kemana dia?' tanyanya dalam hati.

Tak lama pintu ruangannya diketuk, dari caranya mengetuk Alvin sudah tahu siapa yang ada di balik pintu. Walau jabatannya adalah sekretaris tapi Laura tetap mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangannya.
Benar saja, setelah dia mengijinkan gadis yang dicarinya sejak tadipun muncul dengan secangkir kopi di tangannya. Tapi Alvin heran melihat wajah Laura yang tak seceria semalam. Dia tampak lesu dan sedikit pucat. Rambut ikalnya basah seperti habis dicuci, kemejanya pun tampak sedikit kusut. Alvin semakin bingung, tak biasanya Laura berpenampilan begitu. Biasanya dia selalu rapi.

"Selamat pagi, Pak. Maaf saya terlambat membuatkan kopi untuk Bapak," katanya dengan nada yang begitu formal.

Alvin mendesah kesal, dia ingin protes tapi sepertinya gadis itu sedang tak ingin berdebat, "Kamu sakit, Laura?" tanyanya.

Gadis itu hanya menggeleng saja sambil meletakkan cangkir kopi yang dibawanya di atas meja pria itu. 

Alvin semakin heran, "Ada apa? Kamu kenapa?" tanyanya lagi.

"Saya baik-baik saja, Pak. Ini saya akan bacakan jadwal Bapak untuk hari ini," jawab gadis itu masih dengan sikap formal yang selalu ditujukannya pada Alvin selama ini, kecuali malam tadi.

Alvin nyaris tak bisa konsentrasi pada apa yang disampaikan gadis itu perihal jadwal kantornya hari ini. Dia lebih fokus mengamati wajah Laura yang tampak sedih, ada sedikit ketakutan di mata coklatnya. Bibirnya yang merah sedikit bergetar saat berbicara, begitupun dengan jari-jarinya yang memegang dokumen, 'Ada apa, Laura?' batinnya masih penasaran, tapi dia takut jika gadis itu akan semakin resah jika dia bertanya.

"Saya permisi, Pak. Untuk dokumen yang harus Bapak tandatangani akan saya antar setelah ini," kata gadis itu mengakhiri rutinitas paginya untuk Alvin sebelum dia berbalik dan melangkah pergi.

Ada ruang kosong dalam hati Alvin, dia tak suka, sungguh-sungguh tak suka melihat sikap Laura pagi ini. Dia menduga pasti telah terjadi sesuatu dengan adik sahabatnya itu.
Pria itu segera mengenyahkan pikiran buruknya. Mungkin Laura hanya lelah saja.

#

Tapi apa yang Alvin tebak sepertinya meleset jauh. Sudah hampir seminggu Laura terus menjauhinya. Saat dia ingin bertanya di kantor Laura selalu tersenyum dan menjawab tidak ada apa-apa, tapi sikapnya sungguh berbeda. Gadis itu selalu berangkat dan pulang lebih dulu darinya, bahkan Alvin tak pernah bertemu di apartemen. 

"Maaf saya lancang masuk, sejak tadi saya ketuk tapi tidak ada jawaban."

Alvin tersentak dari lamunannya, "Laura? Maaf aku tidak dengar," jawabnya sambil menegakkan punggungnya.

"Ini dokumen yang Bapak minta, semuanya sudah sesuai dengan memo dari Bapak kemarin," katanya sambil menyodorkan map tebal berwarna biru.

Alvin mengambil map itu dan tanpa sengaja dia menyentuh tangan Laura. Dia tersentak dan menarik tangan itu sebelum pemiliknya menjauh, "Kamu sakit? Tangan kamu panas sekali?"

Laura berusaha melepaskan cekalan Alvin tapi tak bisa, tenaga pria itu begitu kuat. 

"Laura, jawab aku!" pria itu memaksa dengan nada sedikit keras.

Gadis itu hanya menggeleng. Dan keduanya tersentak saat pintu kantor Alvin terbuka lebar.

Laura sempat melihat siapa yang masuk, seorang pria dan seorang wanita. Tapi kesadarannya tak cukup kuat untuk tersenyum dan berlari ke dalam dekapan pria dengan wajah yang hampir serupa dengannya itu. Dia hanya sempat mendengar teriakan dua orang pria yang memanggil namanya lalu semua berubah gelap.

Alvin yang sempat memeluk Laura sebelum gadis itu terjatuh segera saja membopong tubuh mungilnya dan menidurkan gadis itu ke sofa hitam yang terletak di sudut ruangannya.

"Apa yang terjadi, Vin?" tanya pria yang baru datang tadi dengan wajah cemas yang tak bisa disembunyikan. Mata coklat terangnya tampak begitu kalut melihat adik kesayangannya pingsan.

Alvin hanya menggeleng dan dia sedikit menjauh saat Daniel berlutut di lantai, di samping Laura. Dia melihat sahabat baiknya itu segera mengusap wajah dan rambut adiknya dan berusaha membuat gadis itu sadar.

"Laura, sayang... bangunlah. Ini kakak. Apa yang terjadi denganmu? Bangun, sayang," panggil Daniel berulang kali. Pria bertubuh tinggi dan tegap itu melepas kacamata adiknya dan meletakkannya di meja.

Alvin mendesah pelan, tanpa benda itu Laura tampak semakin cantik. Sebenarnya Alvin selalu ingin melepaskan kacamata itu dari wajah Laura, lalu menikmati wajah lembut itu tanpa dihalangi apapun.

Suara tercekat yang keluar dari mulut seseorang membuat Alvin menoleh pada wanita yang mengantar Daniel tadi, wanita yang keberadaannya baru dia sadari, wanita berambut pendek dengan dandanan luar biasa tebal diimbangi dengan bau parfum menyengatnya yang membuat kepalanya semakin pusing, wanita yang mengganggu kebersamaannya dengan Laura malam itu, yang segera saja membuat darahnya kembali mendidih, "JANGAN DIAM SAJA, PANGGIL DOKTER DI RUANG KESEHATAN!!" bentaknya yang segera saja membuat wanita yang sejak tadi memandang tajam pada Laura itu tersentak kaget. Begitupun dengan Daniel.

"Sa-saya, Pak?" tanyanya masih tak yakin.

"KAU PIKIR ADA SIAPA LAGI DI RUANGAN INI YANG BISA KUPERINTAH?!"

Daniel sedikit heran dengan sikap Alvin yang biasanya tenang dan dingin kini tampak begitu panik, "Vin, pelankan suaramu. Dan kau... segera bawa dokter di ruangan kesehatan ke sini. Sekarang!!!" tegasnya yang segera membuat wanita itu berlalu dari ruangan bosnya.

Alvin mengusap wajahnya dengan kesal, dia menghempaskan tubuhnya di sebuah sofa tunggal di sisi atas kepala Laura. Sambil menghela nafas panjang pria itu perlahan mengusap kening adik sahabatnya itu, terasa begitu panas. Dengan lembut diusapnya keringat yang muncul di kening Laura. Dilihat dari atas begini bulu mata gadis yang tengah tak sadarkan diri itu terlihat lebih panjang dan lentik. Ujung hidungnya yang kecil tampak mencuat ke atas, menggemaskan.
'Apa yang terjadi padamu, Laura? Apa yang terjadi setelah malam itu? Kenapa kamu begitu berbeda? Kenapa menjauhiku? Tak tahukah jika aku terus mencemaskanmu?' bisiknya dalam hati tanpa menghentikan usapan di kening gadis itu.
Jujur saja malam yang singkat itu telah mengaduk-aduk perasaannya selama ini, perasaan yang dipendamnya sendiri. Entah sejak kapan gadis yang semula dianggapnya adik ini telah menempati posisi istimewa di hatinya. Mungkin sejak gadis itu beranjak dewasa, saat senyumnya terlihat semakin manis, sejak pipinya sering memerah jika tanpa sengaja mereka saling bertatapan. Sifat tertutup Laura membuatnya hanya bisa mengamati gadis itu secara diam-diam, mencari cara sebisa mungkin agar gadis itu merasa nyaman jika berada di dekatnya, walau itu harus dengan berpura-pura tak memperhatikannya, dan itu sulit.

Daniel yang sudah duduk di dekat kaki Laura mengernyit melihat tingkah sahabatnya itu, tak biasanya Alvin begitu perhatian pada seseorang. Sejak dulu dia terbiasa bersikap cuek dan tak peduli pada orang lain. Bahkan pada orangtuanya sendiripun dia terkesan acuh tak acuh. Tapi Alvin selalu terbuka padanya, mungkin karena mereka telah lama saling kenal dan saling memahami karakter masing-masing. Bahkan saat pemakaman kedua orangtuanya Alvin lah yang tak ingin beranjak dari kubur mereka. Alvin lebih sayang dan manja kepada orangtua Daniel dan Laura. Alasan yang pernah dikatakannya dulu pada Daniel adalah karena orangtuanya begitu jarang memiliki waktu untuknya, berbeda dengan pasangan Wiriawan yang selalu mementingkan anak-anak mereka di atas segalanya, termasuk Alvin yang sudah mereka anggap sebagai anak mereka sendiri.
Tapi melihat perhatian Alvin pada Laura saat ini jelas membuatnya bingung, walaupun mereka telah saling mengenal begitu lama tapi Laura tak pernah dekat dengan Alvin. Adiknya itu selalu bersembunyi di kamarnya jika Alvin ada di rumah mereka. Bertemu pun tak pernah berkata apa-apa, hanya saling sapa dan melemparkan senyum, itu saja. Tapi yang dilihatnya saat ini benar-benar menjadi tanda tanya besar untuknya, apa yang telah terjadi pada mereka saat dia tak ada? Dan kenapa mata yang biasanya dingin itu tampak begitu hangat saat menatap adiknya?

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan keduanya, "Masuk!" seru Alvin, dan segera saja pintu itu terbuka. Seorang pria setengah baya dengan kacamata bening tergesa masuk diikuti wanita yang sudah menjadi pengganggu nomer satu bagi Alvin. Bahkan Alvin pun sudah lupa siapa nama wanita itu.

"Adik saya pingsan, Dokter. Bisa tolong diperiksa?" Daniel menyambut Dokter perusahaan itu sambil berdiri dan ditiru oleh Alvin.

"Tentu, biar saya sadarkan dulu dia," katanya sambil mengambil sebotol alkohol dan menuangkannya di atas kapas. Setelah itu pria itupun mendekatkan kapas tersebut ke hidung Laura, menggoyangkannya beberapa kali hingga terdengar erangan kecil dari bibir pasiennya.

"Sayang," Daniel kembali duduk di kaki adiknya. Diusapnya kaki yang ramping itu dengan penuh kasih sayang.

Alvin melingkarkan satu tangannya di dada dan satu tangannya lagi mengusap mulut dan lehernya, rasa cemas membuat urat lehernya tegang. Dan dia begitu lega saat mata indah yang selalu disukainya itu terbuka perlahan.

"Kak..." panggil Laura lirih, matanya memang sedikit kabur tapi dia bisa mengenali siapa yang duduk di dekat kakinya.

"Jangan bangun dulu, Laura. tetap begitu sampai dokter selesai memeriksamu," cegah Daniel saat Laura berusaha duduk.

Perhatian Alvin terpecah saat dia merasa ada yang menempel di dekatnya, segera saja dia menoleh dan memandang tajam pada karyawan wanitanya yang saat ini sudah berdiri disampingnya, "Kau keluar dari sini, dan perintahkan Office Boy untuk membawakan segelas teh hangat," perintahnya tajam. "Sekarang!!!" sambungnya cepat sebelum wanita itu membuka mulutnya.

Dengan wajah kesal yang tak bisa disembunyikan wanita itupun keluar dari ruangan Alvin.

"Demamnya tinggi sekali, apa yang terjadi?" tanya dokter itu pada Laura.

Laura hanya menggeleng, "Cuma kehujanan, dok," jawabnya pelan.

Alvin mengernyit bingung, bukankah Laura selalu menggunakan mobilnya? Kenapa bisa kehujanan?

"Mobil kamu kemana, Sayang? Rusak?" tanya Daniel.

"Kemarin di tengah jalan bannya kempes, kak. Hujannya lebat sekali dan ga ada orang di dekat situ. Jadilah aku jalan buat nyari bengkel terdekat."

Alvin berdecak kesal, "Kenapa tidak menelponku?" tanyanya.

Laura tak berani menatap mata tajam Alvin, dadanya mendadak terasa begitu sakit, "Sa-saya... Bapak..."

"Jangan bilang kalau kamu takut mengganggu kesibukanku, Laura. Kamu tahu sendiri kalau kemarin aku begitu senggang. Kenapa?!" tanyanya kesal karena lagi-lagi Laura masih bersikap formal dalam keadaan begini. Alvin begitu marah karena Laura seakan-akan tak pernah membutuhkannya.

"Vin..." tegur Daniel, "Kita tahu bagaimana Laura, bagaimana keras kepalanya dia. Jangankan kamu, aku yang kakaknya saja tak pernah tahu apa maunya dia," kata Daniel yang sebenarnya juga kesal menghadapi sifat adiknya.

Alvin mengacak rambutnya dengan kesal, bagaimana bisa gadis itu tak mengubunginya kemarin? Dia tahu selebat apa hujan sore itu, dan Laura nekat berjalan untuk mencari bengkel terdekat, tanpa bantuannya. Dan sekarang dia hanya bisa terus merasa cemas dan cemas melihat wajah pucat gadis itu.

"Maaf," lirih Laura melihat dua pria yang mungkin sudah dibuatnya kesal itu.

"Sebaiknya sekarang Laura pulang dan beristirahat, saya akan memberikan resep untuk obat-obatnya," dokter setengah baya itu menengahi sambil menuliskan resep pada buku memonya lalu memberikannya pada Daniel.

Alvin segera menyambar resep itu, "Kau bawa Laura pulang, biar aku yang ambil obatnya. Nanti kubawa ke sana," kata Alvin yang segera diangguki oleh Daniel.

#

"Gimana, Mell? Gimana anak manja itu? Pingsan beneran atau cuma cari perhatian pak Alvin aja? Trus siapa laki-laki tamu pak Alvin tadi? Ganteng juga," berondongan pertanyaan menyambut Melly saat wanita itu masuk ke ruangan administrasi, ruangannya. Ditatapnya rekan kerjanya yang berambut panjang lurus itu dengan kesal, wanita yang sama saat dia bertemu Alvin dan Laura di restoran China malam itu, Rossa.

"Pingsan beneran, dan pak Alvin jadi ngebentakin aku terus dari tadi, kesel banget!!!" gerutunya sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya. "Dan sialnya ternyata pria yang kuantar tadi itu kakaknya si culun Laura itu, nyebelin kan?"

"What!!! Kebagusan banget sih Laura itu?" kata Rossa dengan nada tak suka.

"Sepertinya kita harus cari cara lain deh biar cewek sok cantik itu minggat dari perusahaan ini. Ngempesin ban mobilnya sama nge-bully dia kayanya belum cukup," kata Melly dengan kesal.

"BRAAAKKKK!!!"

Dua wanita itu terkejut saat pintu ruangan mereka terhempas dengan keras, dan keduanya sama-sama pucat saat tahu siapa yang ada di depan pintu.

"Pak Alvin..." bisik keduanya dengan gemetar.

"Jelaskan!!!" perintah Alvin dengan mata membara karena amarah.

#

"Apa yang terjadi, Laura? Apa kamu tak ingin menceritakan semuanya pada kakak?" bujuk Daniel saat dia sudah sampai di apartemen mereka.

Laura bersandar pada kepala tempat tidurnya, dan dia hanya menunduk saja sambil menggeleng lemah.

"Apa Alvin sudah membuatmu tak nyaman?" tanya Daniel lagi.

Laura menggeleng keras, "Bukan, kak... kak Alvin sangat baik," jawabnya.

"Lalu? Apa yang membuat kamu akhir-akhir ini menjadi begitu pendiam dan menutup diri? Bahkan kamu menghindari semua orang yang ada di tempat kerjamu."

Laura membelalakkan matanya, "Ka-kakak... aku nggak..."

"Kakak tak suka kalau adik kesayangan kakak sekarang berubah jadi pembohong. Ceritakan pada kakak apa yang terjadi. Apa hubunganmu dengan dua wanita dari bagian administrasi itu? Kenapa mereka menekanmu?"

Laura semakin terkejut, dia nyaris tak mampu berkata apa-apa saat kakaknya ternyata sudah mengetahui semuanya, "Darimana kakak tahu?" tanyanya dengan sedikit takut.

"Ceritakan, Laura!"

ketegasan di mata Daniel tak mampu membuat gadis itu mengelak, dengan meremas ujung selimutnya dan menundukkan kepalanya diapun mulai bercerita.
"Awalnya minggu yang lalu... karena hujan deras dan sudah malam... a-aku dan kak Alvin makan bersama di luar."

Daniel membulatkan matanya, Alvin dan Laura bersama? Sejak kapan? Tapi dia tak ingin bertanya dulu tentang hal itu, akan ada waktunya nanti setelah Laura selesai bercerita.

"Sebenarnya... aku ingin pergi sendiri, tapi kak Alvin memaksakan diri untuk menemaniku. Kak Alvin cemas kalau aku pergi sendirian, lagipula katanya kak Alvin sudah berjanji pada kakak untuk memastikan kalau aku baik-baik saja, ya sudah akhirnya kami pergi bersama," Laura memberikan sedikit jeda.
"Lalu... setelah sampai di restoran ada dua orang karyawan yang melihat kami, dia itu mbak Melly dan mbak Rossa, dua karyawati dari bagian administrasi. Aku merasa tak enak hati, karena bukan rahasia lagi kalau mbak Melly sangat mengincar kak Alvin. Tak lama setelah mereka datang kak Alvin mengajakku pulang," lanjut gadis itu. Dadanya terasa hangat saat mengingat malam itu, dimana Alvin memberikan begitu banyak perhatian padanya, perhatian yang sebenarnya sejak dulu sudah dia harapkan dari pria itu.

"Lalu?" Tanya Daniel saat melihat adiknya justru melamun.

Laura sedikit tergagap karena asik sendiri dengan bayangannya, "Lalu... esoknya, saat aku baru datang ke kantor..." bayangan pagi itu membuat Laura menghentikan sebentar ceritanya. Sebenarnya kalau bisa dia ingin menyudahi semuanya, dia tak ingin membahas ini. 

Daniel menghela nafas panjang, dengan lembut diraihnya tangan Laura lalu digenggamnya, "Lanjutkan, sayang," pintanya.

Laura menarik nafas panjang, "Pagi itu...sesaat setelah memarkir mobil, mbak Rossy dan mbak Melly menghadangku, lalu... mereka memaksaku untuk mengikuti mereka."

"Dan kamu menurut?" tanya Daniel.

Laura menggeleng pelan, "Awalnya tidak, tapi... tapi mereka mengancam akan menyebarkan ke seluruh kantor kalau..."

Daniel semakin mengeratkan genggamannya saat dia melihat adiknya kembali terdiam. Akhirnya Daniel memilih untuk duduk di samping Laura dan memeluk bahu gadis itu dengan lembut, "Kalau apa, Laura? Apa yang sudah mereka lakukan padamu?" Tanyanya pelan. Sebenarnya dalam hati sungguh dia ingin marah dan mengamuk karena ada yang menyakiti gadis kesayangannya.

Laura merasa matanya semakin panas. Dengan susah payah dia menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering, "Mereka mengancam akan menyebarkan ke semua orang kalau aku... kalau aku sudah merayu kak Alvin malam itu, kak," jawabnya lirih.

"Kakak jangan salah paham, a-aku tak bermaksud begitu, kak Alvin hanya menemaniku, itu saja. Aku tak pernah bermaksud untuk... untuk..."

"Kakak percaya padamu, sayang," kata Daniel berusaha menenangkan adiknya yang semakin gugup dan gemetar menahan isak. "Lalu?"

Sebutir kristal sudah mengalir di sudut mata Laura, dan gadis itu dengan segera mengusapnya, "Lalu mereka menarik tanganku dan memaksaku untuk ikut dengan mereka, karena kalau tidak katanya mereka akan membongkar semua keburukan sifatku yang selama ini aku sembunyikan," lanjut Laura lagi, kali ini isakan terdengar dari bibirnya yang gemetar.

Cengkeraman Daniel di bahu Laura semakin kencang, "Lalu? Apa yang mereka lakukan saat menyeretmu dengan paksa? Kemana mereka membawamu?"

Kali ini Laura menangis, bayangan itu kembali berputar di otaknya. Dengan cepat dia menggeleng, dia tak ingin menceritakan hal ini pada kakaknya.

Dengan segera Daniel memeluk adiknya erat, "Apa yang mereka lakukan, sayang? Apa mereka menyakitimu? Katakan pada kakak," katanya dengan nada dingin, sungguh dia tak ingin melihat gadisnya seperti ini.

"Nggak, kak... aku nggak mau cerita," kali ini Laura sepenuhnya menangis, kedua tangannya menutupi wajahnya yang telah basah.

Daniel mengayun Laura dalam dekapannya. Dia begitu ingin marah dan memaki siapapun, adik yang dijaganya dengan sepenuh hati ini kini merasa begitu tersakiti.

Tiba-tiba pintu kamar Laura terbuka, tampak Alvin sudah berdiri di sana bersama dengan seorang pria setengah baya yang mengenakan seragam security, "Biar Pak Kardiman yang menceritakan semuanya, Dan," katanya

Laura terperanjat, "Pak Diman," panggilnya lirih.

Alvin mengajak pria yang rambutnya sudah memiliki dua warna itu untuk duduk di sofa panjang yang ada di dekat tempat tidur Laura.

"Maaf, mbak Laura... saya sudah nggak bisa melihat mbak Laura seperti ini lagi. Saya bilang pada Bapak Alvin kalau saya akan menceritakan semuanya pada beliau asal saya menceritakan ini di depan mbak Laura, biar Bapak tidak dikira bohong," jelas pria itu.

Laura menggeleng, "Nggak usah, Pak... jangan," kata Laura masih dengan matanya yang basah.

Alvin begitu ingin menggantikan posisi Daniel, hatinya sakit melihat airmata Laura, "Tadi aku mendengar sendiri dari mulut dua wanita di bagian administrasi itu kalau mereka sudah mem-bully Laura seminggu ini. Saat kupaksa untuk menjelaskan semuanya mereka tidak mau dan menyangkal dengan seribu alasan. Akhirnya Pak Kardiman masuk dan bersedia menceritakan semuanya," kata Alvin setelah dia melepas jasnya dan duduk di samping karyawannya di bagian keamanan itu.

Daniel mengangguk, "Kalau begitu tolong ceritakan, Pak," pinta Daniel dengan sopan.

pria tua itu menatap Laura sebentar sebelum bercerita, "Pagi itu waktu saya berkeliling saya mendengar suara ribut-ribut di kamar mandi wanita di lantai dasar. Setelah saya datangi saya sempat melihat mbak Melly dan mbak Rossa keluar dari sana sambil tertawa-tawa, saya pikir suara ribut tadi pastilah mereka yang sedang bercanda. Saya sudah mau pergi saat saya mendengar suara tangis dari dalam. Karena saya pikir tidak ada orang dan kamar mandi bawah memang jarang digunakan jadi saya beranikan diri saja untuk masuk ke dalam kamar mandi wanita tersebut," pria itu jeda sebentar untuk menarik napas sambil menggali kembali ingatannya.
"Saya terkejut saat melihat mbak Laura terduduk di lantai kamar mandi yang kotor dengan tubuh basah kuyub dan menangis," lanjutnya.

Alvin dan Daniel berpandangan sambil menggeretakkan gigi karena geram. sementara Laura hanya terisak sambil menundukkan wajahnya dalam dekapan kakaknya.

"Lalu saya tolong mbak Laura untuk berdiri, tapi katanya punggungnya sakit. Saat saya tanya kenapa, mbak Laura cuma menggeleng. Akhirnya saya menyimpulkan sendiri. Saya tanya apa mbak Melly dan mbak Rossa yang menyakiti mbak Laura? Mbak Laura cuma menangis saja sambil menahan sakit di tangannya. Saya lihat tangan mbak Laura merah dan memar."

Alvin mengepalkan tangannya mendengar cerita Pak Kardiman.

"Lalu saya membawa mbak Laura ke ruangan security yang lama, karena yang selalu menggunakan ruangan itu cuma saya. Di sana saya mencoba mengobati luka mbak Laura, tapi mbak Laura tidak mau. Akhirnya setelah saya paksa mbak Laura mau cerita kalau dua orang itu sudah mendorongnya dengan keras ke dinding kamar mandi lalu menyiramnya dengan air kotor yang ada di ember, mungkin air bekas pel."

Daniel mengeratkan pelukannya saat isak kembali terdengar dari mulut adiknya, "Lalu?" tanyanya.

"Kata mbak Laura alasan mereka melakukan itu karena mereka cemburu melihat mbak Laura dan Pak Alvin yang malam sebelumnya makan bersama. Awalnya saya juga terkejut sebab setahu saya mbak Laura dan Pak Alvin tidak pernah dekat, apalagi bersama, sampai mbak Laura menceritakan tentang hubungan baiknya dengan Pak Alvin. Mereka mengancam mbak Laura kalau masih berani dekat-dekat dengan Pak Alvin lagi maka foto mbak Laura yang semobil dengan Pak Alvin akan mereka sebarkan."

Alvin tercekat, "Foto? Mereka sempat mengambil foto kita, Laura?" tanyanya pada gadis itu.

Laura mengangguk pelan, "Iya, kak... sebelum mobil kakak meninggalkan pelataran parkir restoran," jelasnya dengan suara serak.


"Lanjutkan Pak Diman," kata Alvin lagi dengan wajah merah menahan marah.

"Tapi nyatanya setelah mereka menyiksa mbak Laura di kamar mandi pagi itu mereka langsung menyebarkan gosip kalau mbak Laura sebenarnya... adalah wanita murahan yang sok alim," kali ini Pak Kardiman menunduk. dia ikut merasakan sakitnya, karena Laura yang dia kenal selama ini begitu baik dan lembut.

Mata kedua pria muda di kamar itu berkilat tajam, ada kebencian dan kemarahan yang tak berbatas di sana.

"Setelah pagi itu gosip tentang mbak Laura tersebar kemana-mana, mbak Laura jadi dikucilkan di kantor, bahkan saat istirahat makan siang di kantin pun mbak Laura selalu disindir. Tak jarang mbak Laura menjadi sasaran empuk untuk didorong, dijegal, atau ditumpahi sesuatu di bajunya oleh para pegawai perempuan yang termakan gosip dua orang itu. Bahkan..."

"Sudah, Pak... cukup," pinta Laura.

"Lanjutkan, Pak," kata Alvin.

Merasa kalau dia harus menurut pada pimpinannya pria itupun meneruskan ceritanya, "Bahkan ada beberapa karyawan pria yang meminta mbak Laura untuk... melayani mereka."

"APA?!!!" Alvin dan Daniel berteriak bersamaan. Alvin bahkan berdiri dari duduknya, dijambaknya rambutnya sendiri dengan kasar, "Brengsek!!!" makinya. Sementara Daniel hanya menggeram sambil memeluk adiknya semakin erat.

Laura menangis semakin kencang, kepalanya menggeleng keras.

"Tapi hal terburuk tak sampai terjadi, Pak Alvin," kata pria tua itu yang setidaknya membuat Alvin dan Daniel lega.

"Karena Pak Diman selalu ada di dekat aku, kak. Sejak kejadian pagi itu Pak Diman selalu menjagaku dari jauh," kata Laura di antara isaknya.

"Sejak itu mbak Laura selalu menghabiskan jam istirahatnya di tempat saya, makan siangpun selalu bersama saya di ruangan security yang lama. Karena mbak Laura tidak lagi punya teman, semua menjauhinya," terang Pak Kardiman lagi.

Daniel mengusap lembut rambut adiknya dengan penuh kasih sayang, diciumnya berulang kali ujung kepala gadis itu.

"Dan terakhir kali kemarin saya sempat melihat mbak Melly dan mbak Rossa di dekat mobil mbak Laura, pikiran saya sudah jelek saja, lalu saya dekati mereka. Saat melihat saya mereka segera menjauh dari mobil mbak Laura. Saya coba cek mobilnya, saya pikir mereka merusak atau apa, tapi tidak ada tanda-tanda kalau mobil itu dirusak. Lalu saya sampaikan ke mbak Laura, dan mbak Laura bilang kalau bisa saja tadi itu mereka cuma kebetulan ada di dekat mobilnya. Mbak Laura melarang saya untuk berpikir negatif. Tapi nyatanya mobil mbak Laura mogok di tengah jalan saat hujan turun deras, dan sekarang mbak Laura sakit, kan?"

"Kenapa kamu nggak bilang apa-apa ke Alvin, Laura?" tanya Daniel setelah dia yakin kalau Pak Kardiman sudah menyelesaikan ceritanya.

Laura tak menjawab.

"Kenapa semuanya selalu kamu pendam sendiri? Apa kakak dan Alvin tidak memiliki arti apa-apa untuk kamu? Apa kami tidak bisa dipercaya?" tanya Daniel lagi.

Laura menggeleng pelan, "Bukan, kak... a-aku cuma nggak mau kak Alvin direpotkan dengan gosip itu. Biar kami saja yang tahu kalau semua kabar itu nggak benar." 

"Dan apakah dengan kamu terus diam maka keadaan akan membaik dengan sendirinya?" kali ini Alvin yang bertanya. Dicobanya untuk bersabar menghadapi ketertutupan Laura. "Kamu pikir apa yang akan terjadi kalau saja Pak Kardiman tidak menjaga kamu? Apa kamu akan baik-baik saja? tanyanya.

Laura semakin menunduk dan meremas ujung selimutnya, airmata mengalir dari sudut matanya yang memerah.

"Demi Tuhan, Laura... berhentilah berpikiran naif. Tahukah kamu kalau dengan terus diam bisa saja kamu sedang mencoba untuk mencelakakan dirimu sendiri? Ada aku, Laura! Kalau kamu tidak bisa mempercayaiku maka kamu bisa menghubungi Daniel!" kali ini Alvin melepaskan emosinya. Dia marah pada dirinya sendiri karena dia tak cukup mampu dan dipercaya untuk menjaga gadis yang disayanginya. Karena dialah yang menciptakan airmata gadis itu, satu-satunya hal yang selama ini tidak pernah dia suka.

Daniel hanya diam, dia membenarkan kata-kata Alvin, Laura terlalu nekat bertaruh dengan keselamatannya sendiri.

"Maaf, kak... aku..." Laura kehilangan kata-katanya. Dia sungguh menyesal, dan kemarahan Alvin membuatnya semakin tak karuan.

Alvin berdecak kesal, diambilnya jas yang tadi disampirkan di lengan sofa, "Istirahatlah, dan jangan lupa obatmu," katanya sambil menunjuk bungkusan plastik yang tadi sempat diletakkannya di meja nakas di samping tempat tidur gadis itu. 
"Kita pergi sekarang, Pak," perintah Alvin yang segera keluar dari kamar Laura tanpa berpamitan lagi. Sementara Pak Kardiman segera membuntuti atasannya.

Daniel menghela nafas panjang, dia mengerti bagaimana perasaan Alvin. Kalau dia berada di posisi sahabatnya itu dia pasti akan merasakan hal yang sama. Kecewa dan marah... pada diri sendiri.

"Maaf, kak... kak Alvin jadi marah," kata Laura yang berusaha menahan sakit di dadanya saat pimpinannya itu meninggalkannya dengan kesal. Dia ingin berlari dan menahan Alvin untuk meminta maaf dan memaksa pria itu untuk kembali tersenyum padanya seperti malam itu.

Daniel mengusap lembut lengan Laura, "Alvin hanya mencemaskanmu, sayang... begitupun aku," kata pria itu lembut. "Tapi kalau kamu terus diam dan tertutup seperti ini lalu bagaimana caranya kami dapat melindungimu?"

Laura tak menjawab, dia hanya merebahkan kepalanya di bahu kakaknya yang sejak tadi tak melepaskan pelukannya.

"Kau tahu?" kata Daniel memecah keheningan di antara mereka, "Tanpa kakak mintapun kakak percaya kalau Alvin akan selalu melindungi kamu. Sejak dulu dia sudah menganggapmu sebagai adiknya sendiri."

Saat itulah Laura merasakan bagaimana rasanya perih yang sesungguhnya, nafasnya seakan terhenti di ujung tenggorokan, 'Adik?' batinnya. Entah kenapa dia merasa begitu ingin menangis, 'Ya... adik,' tegasnya lagi. Dan dia heran kenapa rasanya bisa begitu kecewa? Apa sebenarnya yang diharapkannya dari Alvin?

Daniel mengernyit saat tangan Laura yang digenggamnya bergetar pelan, dan kediaman gadis itu serta bahunya yang mendadak tegang menjadi tanda tanya besar untuknya, 'Ada apa sebenarnya?'

Laura tak suka pembicaraan ini dilanjutkan, akhirnya dia memilih untuk mengganti topik. Dilepasnya pelukan Daniel dan dia kembali bersandar pada tumpukan bantalnya, "Jadi? Darimana kakak tahu kabar tentangku?" tanyanya menyelidik.

Daniel hanya menyeringai saja.

Laura cemberut, "Kakak... jawab aku, kakak tahu darimana?" paksanya.

"Mmmh... cuma dengar aja sih," jawabnya.

"Kakak nggak suka aku bohong, tapi kakak sendiri berbohong," rajuk Laura.

Daniel terkekeh sambil menghela napas panjang, "Maaf kalau kakak nggak pernah cerita sama kamu," kata pria berambut lurus itu, "Kamu kenal Marissa dari bagian pemasaran?" tanya Daniel.

Segera saja Laura mengingat sosok wanita muda cantik yang begitu supel dan ramah itu, bahkan sepertinya hanya Marissa yang mau menyapanya terlebih dahulu sejak pertama kali dia bergabung di perusahaan Alvin setahun yang lalu hingga masalahnya tersebar di kantor. Marissa... wanita yang usianya hanya berkisar tiga tahun di atasnya itu tak pernah menganggapnya cupu atau aneh, bahkan Marissa sering memujinya karena sifatnya yang tenang juga pembawaannya yang sederhana.
"Mbak Marissa? Iya aku kenal," kata Laura akhirnya.

Daniel menggaruk ujung hidungnya yang tak gatal, "Kakak sedang menjalin hubungan dengannya, sejak dua bulan yang lalu. Dan dari dialah kakak tahu semua tentang kamu dan perubahan sikapmu selama seminggu ini."

Laura membelalakkan matanya, "Kakak dan mbak Marissa pacaran, kok bisa?" tanyanya tak percaya.

Daniel mengacak sayang rambut adiknya, "Bisa lah," jawabnya. "Waktu kakak pulang empat bulan yang lalu, kamu ingat kan kalau kakak pernah datang ke kantor Alvin?" tanyanya.

Laura mencoba mengingat lalu kemudian dia mengangguk.

"Waktu itu kakak melihat Marissa di lantai dasar, kita berkenalan dan ngobrol sebentar. Siapa sangka kalau obrolan kami berlanjut terus hingga saling bertukar nomer telpon dan pin BBM. Dan akhirnya dua bulan yang lalu kakak meminta dia jadi pacar kakak, dan dia mau," jelas Daniel panjang.

Gadis itu tersenyum lebar, entah kenapa dia senang kalau kakaknya bersama dengan Marissa, "Kok kakak nggak pernah cerita? Terus mbak Marissa tahu kalau aku adiknya kakak sejak kapan?" tanyanya lagi.

"Marissa tahu kalau kamu adikku baru sebulan yang lalu, awalnya dia tak percaya, lalu setelah kukirimkan foto-foto kita barulah dia mau percaya. Dan dari dia lah kakak mendengar semua tentang kamu. Maaf kalau kakak terlambat datang, kakak harus segera menyelesaikan semua urusan di kantor agar bisa cuti dan pulang untuk melindungi kamu," katanya prihatin.

Laura tersenyum, "Nggak apa-apa, kak... aku baik-baik saja kok," katanya menenangkan.

Daniel mengambil segelas air putih yang selalu tersedia di nakas Laura lalu membuka obat-obatan yang dibawa Alvin, "Minum obatmu dulu," katanya.

Kali ini Laura menurut, kepalanya semakin pusing dan tubuhnya kian lemas, jadi tak ada pilihan lain selain meminum obatnya.

Daniel mencium kening adiknya dengan lembut, "Sekarang tidurlah, nanti kakak akan bangunkan kamu untuk makan malam," katanya sambil mengusap rambut coklat ikal Laura.

Gadis itu mengangguk, setelah melepas kacamatanya dan merapikan bantalnya diapun memejamkan mata.

#

Daniel sudah menduga kalau Alvin sebenarnya tidak keluar dari apartemennya, dia melihat sahabatnya itu tengah duduk di sofa di ruang televisi yang berdekatan dengan dapur dan meja makan. Pria itu tampak melamun sebelum menyadari kehadiran Daniel di dekatnya.

"Bagaimana dia?" tanya Alvin saat Daniel sudah duduk di sofa tunggal di samping sofa panjang yang sedang didudukinya.

"Tidur," jawab Daniel sambil menghela nafas panjang. Diusapnya wajahnya yang tampak lelah. Begitu pesawatnya mendarat tadi dia langsung menuju kantor Alvin dan mendapati adiknya pingsan, jadi dia sama sekali belum sempat beristirahat. Bahkan dia baru saja bisa memberi kabar pada Marissa sesaat setelah Laura memejamkan matanya.

Alvin mendesah berat, "Maafkan aku, kalau saja malam itu aku tak memaksa menemaninya."

Daniel terkekeh pelan, "Aku sama sekali tak menyalahkanmu, Laura juga. Kurasa wajar kalau kau khawatir jika Laura pergi sendiri malam itu, aku justru berterima kasih, Vin," kata Daniel sambil menyandarkan punggungnya yang kaku. "Hanya saja... gadis-gadis yang dekat dengan pria-pria tampan seperti kita ini kan memang besar cobaannya," gurau Daniel sambil meninju pelan lengan Alvin.

Alvin hanya mendengus saja, tipikal Daniel yang selalu bisa mencairkan suasana sekaku apapun. Begitu tenang, begitu bersahabat. "Jujur aku menyesali ini, Dan. Kalau saja Laura tidak bersamaku malam itu, pasti dia tidak akan..."

"Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada Laura kalau malam itu dia tak bersamamu? Bisa saja justru hal yang jauh lebih buruk, yang tidak pernah kita inginkan terjadi, iya kan? Adikku itu cantik, Vin.. lugu, dan aku yakin tak sedikit pria yang mencoba untuk membodohi dia." potong Daniel. Dia tak suka jika pria yang dikenalnya sejak hampir separuh hidupnya itu menyiksa dirinya sendiri dengan rasa bersalah, toh tetap bukan Alvin dan Laura yang salah?

Alvin termangu, Daniel benar. Malam itu hujan turun dengan begitu lebat, waktupun sudah larut malam dan sepi, jadi bisa saja sesuatu terjadi pada Laura jika dia tak ada.

"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, aku justru begitu tertolong ada kau di sini. Aku tahu Laura akan aman sampai aku membawanya nanti," sambung Daniel.

Alvin segera mengangkat wajahnya dan menatap Daniel, "Apa maksudmu?" tanyanya sambil memicingkan matanya.

Daniel melihat segaris rasa yang tak terbaca di mata sahabatnya itu, rasa takut, mungkin. "Bulan depan perusahaanku di Singapura akan memindahkanku ke kantor pusat di Perth, dan aku berencana untuk mengajak Laura. Maaf kalau ini mendadak," jawabnya.

Dada Alvin berdebar kencang, 'Laura pergi? Jauh darinya?' batinnya. "Ke-kenapa... kenapa tiba-tiba kau ingin mengajak Laura untuk tinggal bersamamu? Bukankah dulu... bukankah dulu kau tak pernah ingin membawanya? Lagipula Laura pernah menolak untuk ikut, kan? Apa kau pikir... kali ini dia akan bersedia ikut denganmu?"

"Kalau iya apakah kau akan merasa kehilangan?" tanya Daniel penuh selidik. Tak pernah Alvin bicara sepanjang ini, apalagi dengan nada gugup dan tak tenang. Apakah tebakannya benar?

"Tentu saja!" jawab Alvin cepat tanpa memikirkan maksud dari kata-katanya sendiri.

Daniel menyeringai, "Tentu saja, katamu? Sejak kapan kau merasa akan kehilangan Laura jika dia tak ada?" pancingnya.

Alvin tergagap, dia berusaha bersikap sewajar mungkin walau jelas sekali kalau wajahnya telah berubah pucat, "Mak-maksudku... aku sudah menganggap dia adikku sendiri, dan aku..."

"Kau bisa mengunjungi adik kita itu di Perth, Vin. Kau bukan tak punya uang untuk ke sana, kan?" kata Daniel lagi dengan tenang, dengan menekankan kata 'adik'.

Alvin berdiri dengan kalut, dia memasukkan satu tangannya ke kantong celana hitamnya, sementara tangan yang lain sibuk menarik-narik hidungnya. Dia mondar-mandir di ruangan itu tanpa bersuara.

Daniel tertawa dalam hati, kebiasaan itu sudah dia hapal di luar kepala. Dia tahu kalau sahabatnya itu sedang gusar.

Merasa kalau tak ada gunanya dia mondar-mandir di ruangan itu Alvin pun kembali duduk di tempatnya semula, kali ini pikirannya menerawang. Dia sudah begitu terbiasa dengan kehadiran Laura di dekatnya, terbiasa mendengar suaranya dan melihat senyumannya. Dia sudah hapal bagaimana saat gadis itu merasa kesal, merasa bahagia, bahkan saat bersedih. Semuanya sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak dulu. Rekaman wajah Laura selalu menemaninya setiap malam, dan membuatnya selalu tak sabar menunggu pagi datang. Dan sekarang dengan seenaknya Daniel ingin merebut semua hal tadi, membawanya pergi dan menjauh darinya?
Dia melihat sendiri bagaimana Laura tumbuh menjadi gadis remaja, lalu dewasa di hadapannya. Dia melihat setiap fase perubahan gadisnya, ya... gadisnya. Masa-masa yang begitu lama itu tanpa sadar telah membuatnya menganggap jika Laura adalah... miliknya. 'Ya Tuhan... jangan jauhkan dia', desahnya dalam hati.

Daniel hanya menggeleng pelan melihat tingkah Alvin yang di luar kebiasaannya itu, "Kau keberatan jika aku membawa Laura?" tanyanya.

Alvin menopang kedua sikunya di lutut, lalu dia mengusap belakang lehernya dengan kedua tangannya, "Entah," jawabnya singkat.
Dia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika sehari saja tak melihat wajah lugu itu. Bagaimana jika di sana nanti Laura akan bertemu dengan pria lain lalu menjalin hubungan? Alvin mengernyit, hanya membayangkan saja rasanya begitu sakit. Dia masih ingat dulu dia pernah merasa begitu marah dan cemburu saat Laura dekat dengan teman pria di kampusnya, rasanya Alvin ingin meracuni minuman laki-laki itu setiap kali lelaki itu mendatangi Laura di rumahnya. Tapi apa yang dia bisa? Dia hanya bisa mengamati Laura dari kejauhan saja. Dan saat laki-laki itu menyakiti Laura dan membuatnya menangis... membuat wajah lelaki itu babak belur saja bahkan belum cukup menuntaskan amarahnya.

"Kau mencintai Laura?" tanya Daniel lagi masih dengan nada tenang.

Alvin terhenyak, tangannya berhenti memijat tengkuknya. Pelan dia menyandarkan punggungnya yang mendadak terasa kaku dan berat, "Apa maksudmu?" Alvin bertanya balik sambil menutupi rasa gugupnya.

Daniel mendengus, "Aku bertanya padamu, Mr. Perfect... apa kau mencintai Laura?"

Alvin menatap lampu kristal yang menyala di atasnya, "Kenapa kau bertanya begitu?"

"Karena aku mengenalmu, Vin..."

Alvin menutup matanya dan memijat pelipisnya dengan getaran tangannya yang tak kentara. Dia terdiam cukup lama untuk menikmati ruang hampa yang tercipta di hatinya saat memikirkan tak ada lagi Laura di sisinya, "Jangan jauhkan dia dariku kalau kau tak ingin melihatku hancur, Dan," jawabnya lirih. Dia merasa tak ada gunanya lagi berbohong, apalagi kepada Daniel. Satu-satunya orang yang mampu membaca hatinya yang tak bersuara.

Daniel tersenyum, ada rasa lega saat mengetahui itu. Entahlah... dia merasa kalau itu Alvin maka semuanya akan baik-baik saja. Daniel berdiri setelah menepuk pelan paha sahabatnya, "Tergantung bagaimana usahamu untuk membuatnya bertahan di sini," katanya sambil berjalan menuju kamarnya.

"Brengsek kau, Daniel!!!" maki Alvin sebelum Daniel terbahak dan menutup pintu kamarnya. Alvin tersenyum sendiri setelahnya, setidaknya dia sudah jujur pada orang yang memang harus tahu masalah ini terlebih dahulu.

Alvin berdiri, dia berniat kembali ke apartemennya sendiri, tapi niatnya urung saat dia melihat pintu kamar Laura. Pelan dia membuka pintu kayu itu, sebisa mungkin tanpa bersuara masuk dan berdiri di samping tempat tidur gadisnya yang tengah terlelap. Dengan lembut disibaknya rambut ikal yang jatuh di pipi Laura.
Diamatinya wajah itu dalam diam, wajah yang telah menjadi mimpi-mimpinya setiap malam. Dengan memberanikan diri dia membungkuk dan mengecup bibir gadis itu penuh kelembutan, "Jangan tinggalkan aku, Laura," bisiknya.
Hanya dengan sedikit kecupan saja dadanya seolah akan meledak, bagaimana jika bibir itu tenggelam sepenuhnya di dalam bibirnya? Alvin mengerang pelan dan mengacak rambutnya dengan frustasi sebelum dia beranjak pergi meninggalkan Laura yang tengah bermimpi indah.

Dalam mimpinya Laura menjelma Aurora si putri tidur.

.
#
.

"Kamu kenapa nggak mau cerita sama mbak sih, dek?" tanya Marissa yang malam itu ikut membantu menyiapkan makan malam di apartemen Daniel dan Laura.

Laura menggeleng pelan, "Nggak apa-apa kok, mbak. Aku cuma nggak enak aja cerita ke orang-orang yang sebenarnya, nanti dikira membela diri."

"Ya kamu wajar kok membela diri kalau memang kamu nggak salah," kata Marissa lagi sambil menyiapkan makan malam mereka di meja makan. "Stop... kamu duduk di situ. Mbak bisa sendiri," katanya melarang Laura yang hendak beranjak dari sofa untuk membantu kekasih kakaknya itu.

Gadis itupun menurut, kepalanya memang masih terasa begitu pusing, hanya saja dia bosan jika harus terus di kamar. Daniel mengijinkannya keluar dengan catatan dia harus tetap duduk di sofa.

"Lagian nih ya, dek... kalaupun kamu ada hubungan sama pak Alvin itu juga bukan masalah kok, kalian sama-sama lajang, kan? Siapa yang berhak ngelarang?" sambung gadis berambut panjang itu sambil berjalan mendekati Laura dan duduk di sampingnya. Tubuhnya yang mungil menyamarkan usianya sehingga dia hampir terlihat seusia Laura.

Dada Laura berdebar halus, setiap kali mendengar nama Alvin disebut entah kenapa hatinya terasa bergetar, dan langsung saja wajah tampan itu muncul dan berdiam di pikirannya. "Aku dan pak Alvin nggak ada hubungan apa-apa kok, mbak," sangkal gadis itu, "Lagipula pak Alvin... cuma menganggapku adik, nggak lebih," lanjutnya lirih saat menahan rasa perih yang diam-diam menyeruak masuk ke hatinya.

Marissa tersenyum samar, bagaimana bisa Laura menyangkal sementara matanya tampak begitu kecewa? "Mbak kan cuma bilang kalau?" kata Marissa sambil mengusap rambut Laura yang ikal.

Laura menundukkan wajahnya.

"Kamu sendiri... apa kamu cuma menganggap pak Alvin sebagai kakak?" tanya Marissa yang membuat peluh muncul di kening Laura. Marissa melihat gadis itu tampak resah dengan pertanyaannya, "Coba dengarkan suara hatimu sendiri, bagaimana sebenarnya perasaanmu," lanjutnya.

Laura mencoba mencerna kata-kata Marissa, lalu dia tersenyum tipis. Merasa begitu nyaman dengan kehadiran Marissa gadis itupun memeluk lututnya sendiri lalu membiarkan Marissa memeluk bahunya. Begini ternyata rasanya memiliki teman atau kakak perempuan, rasanya dia bisa berbagi semuanya dengan gadis di sampingnya itu.
"Nggak tahu, mbak... cuma rasanya perih di sini," jawab Laura sambil mengusap dadanya.

Marissa memeluk Laura semakin erat. Sejak awal bertemu dia sudah menyukai Laura yang kalem dan sederhana. Gadis yang begitu lembut ini membuatnya jatuh sayang. Mungkin karena dia adalah anak tunggal jadi dia langsung bisa menganggap Laura sebagai adiknya sendiri. Apalagi sejak dia tahu kalau Laura ternyata adalah adik dari kekasihnya. Dia menyesal kemarin tak bisa melindungi Laura dari perlakuan dua teman kantornya itu, karena memang Laura menghindari semua orang dan memilih sendirian.

Laura tenggelam dalam lamunannya. Lalu tak lama dia menceritakan sebuah kisah masa lalu yang pernah terjadi padanya.
Sebenarnya dia tak perlu lagi bertanya pada hatinya bagaimana perasaannya pada Alvin. Dulu memang dia selalu menyangkal akan ketertarikannya pada Alvin, dia hanya berpikir kalau itu hanya ketertarikan biasa seorang gadis yang melihat pria tampan layaknya pangeran dari buku-buku dongeng dan meyakinkan dirinya sendiri kalau sebenarnya dia hanya menganggap pria itu sebagai kakaknya saja, sampai hari itu... dimana Alvin menghajar kekasihnya hingga babak belur di kampusnya karena telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri dan di depan matanya sendiri, lalu mengatakan di depan banyak orang kalau dia adalah gadis yang membosankan. Dia melihat kemarahan begitu membara di mata pria itu, dan kata-kata Alvin saat itu benar-benar membuatnya terhenyak. Pria itu mengatakan di depan semua orang jika ada yang menyakitinya maka mereka akan berurusan dengannya. Setelah itu Alvin merangkul bahunya dan menyeretnya pergi dari tempat itu.
Laura masih ingat bagaimana Alvin memeluknya dengan erat saat dia menangis di dalam mobil. Pelukan pertama yang diberikan Alvin setelah sekian lama mereka saling kenal. Dan saat itu Laura merasa begitu dilindungi, dijaga, dan dihargai. Alvin membiarkannya menangis hingga dadanya terasa lega. "Kau ingin aku menghajarnya lagi?" tanya Alvin saat tangisnya reda. Dia hanya tertawa saja sambil menggeleng, lalu meminta pria yang diminta kakaknya untuk menjemputnya itu membawanya pulang.
Sejak saat itu tanpa diperintah otaknya selalu saja memikirkan Alvin setiap kali ada kesempatan. Tapi dia takut untuk mempercayai hatinya lagi, karena nyatanya kekasih dan sahabat perempuan satu-satunya yang dimilikinya telah mengkhianatinya dengan begitu besar. Dia takut terluka lagi jika harus meletakkan hatinya pada seseorang.

Marissa tercenung mendengar cerita Laura, itukah yang membuatnya begitu tertutup? Seakan dia tak ingin didekati oleh siapapun. Rasa kecewa di hatinya begitu dalam dan membekas. "Nggak semua orang seperti itu, Ra... cobalah untuk kembali mempercayai hatimu. Kamu sudah kehilangan sahabatmu satu-satunya yang begitu kamu sayang, dan sekarang mbak mau kok menggantikan posisi sahabatmu itu."

Laura mendongak, "Tapi aku membosankan, mbak. Aku tak pandai bergaul. Dandananku juga begini-begini saja, nggak modis seperti mbak Rissa," katanya ragu.

Marissa menautkan kedua alisnya, matanya yang hitam berkilat geli, "Kalau kamu pandai bergaul nanti Laura yang kalem dan lembut malah hilang, digantikan sama Laura yang centil dan genit dengan dandanan tebal ala ondel-ondel," goda Marissa.

Laura terbahak, "Nggak gitu lah, mbak... iiiish aku ga mau," rajuknya.

Marissa terkekeh, "Kalau begitu jangan jadi siapa-siapa, jadilah diri kamu sendiri. Yang mau nerima kamu ya sukur, yang nggak mau ya sudah cuekin aja. Simpel kan?"

Laura tersenyum, rasanya lega mendengar itu, "Makasih ya, mbak," katanya sambil memeluk kekasih kakaknya itu.

"Sekarang tinggal satu yang harus kamu dapatkan kembali, percayakan hatimu untuk memilih sendiri siapa yang akan dicintainya lagi," sambung Marissa sambil mengusap lembut punggung Laura.

Laura tersentak, 'Haruskah?' tanyanya dalam hati. Pelan dia melepaskan pelukannya pada Marissa dan menatap lurus mata hitam gadis berambut panjang di sampingnya itu dengan ragu.

"Nggak harus sekarang juga kali, dek... pikirin lagi pelan-pelan," kata Marissa sambil mengedipkan matanya.

Laura tertawa dan mengangguk.

"Cewek kalau sudah ngumpul bawaannya ngegosip terus, ya?"

Marissa dan Laura tersentak saat mereka melihat Daniel dan Alvin sudah berdiri di pintu pembatas ruang tamu dan ruang tengah, "Hai... lama bener beli minumannya?" tanya Marissa pada Daniel.

"Nunggu bos kamu nih, kelamaan dandan," katanya sambil menunjuk Alvin dengan dagunya, yang ditunjuk hanya berdecak saja.

"Eh... malam, pak Alvin," sapa Marissa sopan. Biar bagaimanapun Alvin tetaplah atasannya.

Alvin hanya mengangguk saja sambil tersenyum tipis, lalu pria itu mendekati Laura yang masih duduk di sofa, "Masih pusing?" tanyanya pelan sambil duduk di samping gadis itu menggantikan posisi Marissa yang sudah berdiri. Daniel mengedip pada Marissa agar kekasihnya itu mengikutinya ke dapur.

"Sedikit, kak... besok aku.."

"Besok nggak perlu masuk dulu, kamu istirahat saja sampai pulih," potong Alvin yang sangat tahu apa yang akan dikatakan oleh gadis keras kepala itu.

Merasa masih begitu lemas untuk membantah gadis itupun memilih mengangguk saja.
"Kak..." panggilnya pelan pada Alvin.

Alvin tak menjawab, dia hanya menunggu sampai gadis itu mengangkat wajahnya dan menatapnya.

"Maaf... tadi aku sudah bikin kakak marah," kata Laura akhirnya. Jantungnya berdebar kencang saat mata pria itu seakan tak ingin melepasnya.

Alvin melihat penyesalan di mata indah milik Laura. Dengan lembut disampirkannya rambut coklat gadis itu ke belakang telinga dan mengusap pipi putih mulus itu dengan ibu jarinya, entah darimana dia mendapatkan keberanian seperti itu, "Kalau begitu jangan buat aku marah lagi, oke?" jawabnya.

Laura berusaha menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering, jari Alvin meninggalkan jejak panas di kulit pipinya. Dan akhirnya gadis itu kembali memilih menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Alvin tersenyum lalu mengacak lembut rambut halus gadis berkacamata itu.

#

"Laura..." panggil Daniel saat mereka berempat berkumpul di ruang tengah setelah makan malam selesai. Pria itu duduk di sofa tunggal yang ditempatinya siang tadi saat berbincang dengan Alvin.

Laura yang duduk bersila di sofa panjang di samping Marissa menoleh ke arah kakaknya, "Ya, kak?" jawabnya.

Alvin yang duduk di sofa tunggal lainnya yang letaknya cukup leluasa untuknya memandang gadis itu hanya diam saja. Dia hampir bisa menebak apa yang akan disampaikan Daniel.

Daniel membenahi duduknya yang tadi lurus ke depan jadi sedikit miring agar bisa menghadap kedua gadis di sampingnya itu, "Mmmh... ada yang ingin kakak sampaikan," kata Daniel sedikit ragu sambil menatap Marissa yang memberikan anggukan sambil tersenyum.

Laura mengernyit heran melihat dua orang yang saling bertatapan itu, "Apa, kak?"

"Mmmh... maaf kalau berita ini akan mengejutkanmu," kata Daniel lagi, "Bulan depan kakak dan Marissa... sudah memutuskan untuk menikah."

"HAH?!!" seruan itu datang serempak dari mulut Laura dan Alvin.

"Kakak nggak bohong? Iya, mbak?" tanya Laura pada kedua orang itu. Bibirnya yang merah jambu terbuka lebar saat keduanya mengangguk.

"Kamu... kamu nggak keberatan kan, dek?" tanya Marissa gugup.

Laura segera menggeleng keras, "Aku setuju kok, malah aku nggak nyangka aja kalau mbak Marissa mau sama kak Daniel," goda Laura yang disambut gelak tawa Alvin.

"Hei... apa maksudmu?" tanya Daniel tak terima.

"Bagaimana bisa kau menerima Don Juan ini, Marissa? Kau yakin? Kau terlalu baik untuk dia," sela Alvin yang segera saja dihadiahi lemparan bantal sofa oleh Daniel.

"Benarkah, pak Alvin? Apakah saya termasuk salah satu korbannya?" kali ini Marissa ikut-ikutan menggoda calon suaminya.

"Ya Tuhan, sayang... kau jangan termakan ucapan mereka!" seru Daniel dengan wajah memelas yang segera saja mencipta gelak di ruangan itu.

Marissa tertawa keras, dia sudah tahu masa lalu Daniel dan kehidupannya yang suka berganti pacar, tapi kali ini dia percaya kalau pria itu serius. Buktinya seminggu yang lalu Daniel langsung memintanya untuk menjadi istrinya. Sempat dia berpikir kalau pria itu membohonginya, tapi nyatanya Daniel tidak bercanda. Walau hanya lewat telepon dia sudah menyampaikan sendiri kepada kedua orangtuanya. Dan besok pagi lelaki itu akan berkunjung ke rumahnya untuk memintanya secara resmi kepada keluarganya.

"Selamat ya, kak," ucap Laura pada Daniel sembari menghadiahi sebuah kecupan di pipi pria itu. "Selamat juga untukmu, mbak. Aku titip kakak ya?" ucap Laura dan memberikan kecupan yang sama seperti yang diberikannya pada kakaknya tadi.

Marissa memeluk Laura dengan erat, "Terima kasih, sayang," jawabnya penuh haru.

Daniel berdehem pelan, menginterupsi kebahagiaan mereka. "Ada lagi, Laura," katanya dan membalas tatapan heran adiknya.

"Lagi?" tanya Laura? "Ada apa, kak?"

Daniel berdiri dan berlutut di depan adiknya yang serta merta membuat gadis itu semakin tidak mengerti. Daniel menggenggam kedua tangan Laura yang diletakkan di atas pangkuannya. 
"Bulan depan... perusahaan kakak di Singapura akan menaikkan jabatan kakak," sampainya.

Laura tersenyum lebar, "Benarkah? Selamat lagi untukmu, kak," ucap gadis itu dengan mata berbinar.

"Tapi kakak akan dipindahkan ke Perth, sayang," lanjut Daniel lirih. Laura melihat keraguan di mata kakaknya.

"Perth? Jauh juga ya, kak?" kata Laura dengan sedih. "Kakak pasti akan semakin jarang mengunjungiku di sini," lanjutnya.

Marissa membelai lembut rambut Laura,dia mengerti bagaimana perasaan gadis itu. Dan dia juga lah yang mengusulkan pada Daniel untuk membawa Laura bersama mereka.

Daniel mengangguk, "Karena itulah kakak dan Marissa bermaksud untuk... mengajakmu tinggal bersama kami di sana, bagaimana?" tanyanya pelan dan hati-hati.

Laura terkejut, tinggal bersama kakaknya adalah hal yang begitu dia inginkan, kalau saja saat ini hatinya tak bercabang pasti dia akan segera menjawab iya. 
Tanpa sadar matanya mencari Alvin, dan menemukan pria itu juga tengah menatapnya lurus. Ada sesuatu yang tak terbaca di manik coklatnya. 'Apakah dia akan menahanku?' batin Laura

Alvin berdehem, mencoba melonggarkan tenggorokannya yang seperti tercekik, "Kau akan membawa sekretarisku pergi? Kau pikir mudah mencari pegawai teladan seperti Laura?" Alvin mencoba meredakan ketegangan di ruangan itu.

Tapi yang dirasakan Laura berbeda. Ada perih dan sakit saat mendengar hal itu, ternyata Alvin bahkan hanya menganggapnya pegawai biasa. Hatinya hancur, sekali lagi dia kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Lagi-lagi hatinya salah memilih, dia kembali menunjuk orang yang salah.
Sekuat tenaga dia menahan agar airmatanya tak turun, "Kapan kita akan pergi, kak?" tanya Laura yang berusaha tetap tenang walau hatinya terasa hancur sambil kembali menatap kakaknya. Pertanyaannya itu otomatis mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu. Terutama Alvin.

Daniel memandang Marissa yang masih tak yakin dengan keputusan Laura, "Kakak akan menikah tanggal 24 Desember, dan tanggal 25 Desember kita berangkat ke Perth," jelasnya.

Laura mengangguk, mungkin memang sebaiknya dia segera pergi sejauh mungkin, sebelum hatinya kembali sakit seperti dulu. "Aku tidur duluan ya, kak?" pamitnya sambil berdiri setelah kembali mencium pipi Daniel dan Marissa. Gadis itu hanya menatap Alvin saja tanpa berkata apa-apa.

Daniel duduk di samping Marissa sembari menatap tajam pada sahabatnya yang masih terperangah, "Stupid," maki Daniel pelan pada Alvin ketika adiknya itu sudah menutup pintu kamarnya.

"Nggak peka banget sih, Pak?" sambung Marissa yang menggelengkan kepalanya. Dia bahkan lupa menggunakan bahasa formal pada pimpinannya itu.

Alvin yang masih terkejut dengan pernyataan Laura hanya mampu diam. Hatinya terasa begitu kosong dan dingin saat menyadari kalau gadis itu memutuskan untuk meninggalkannya. Bahkan gadis itu tak berpikir dua kali untuk pergi... dan membiarkannya sendiri.
Mungkin sebaiknya begini, agar dia tak semakin berharap akan perasaan Laura padanya. Alvin berpikir kalau dia sudah ditolak sebelum sempat menyatakan semuanya.

.
#
.

Sejak malam itu semuanya berubah, Laura tak lagi ingin terlalu akrab dengan Alvin, dan Alvin sebisa mungkin tak terlalu basa-basi terhadap Laura. Keduanya saling menjaga jarak. Apa salahnya bertahan sebentar? Sebulan bukan waktu yang lama hingga akhirnya mereka akan benar-benar berpisah, begitu pikir keduanya sembari saling manahan sakit pada dadanya masing-masing.

"Ini calon sekretaris yang sudah saya saring, Pak. Silahkan bapak yang tentukan sendiri mana yang akan Bapak pilih untuk menggantikan saya," kata Laura setelah dia membacakan jadwal kerja Alvin seperti biasa.

Alvin mengambil tiga buah map yang disodorkan gadis itu dengan enggan, karena dia yakin tak akan ada yang bisa menggantikan Laura untuknya, entah itu sebagai sekretarisnya ataukah sebagai gadis yang... dia sayangi.

Laura mengamati Alvin yang mulai membuka map itu satu persatu tanpa suara. Dipandanginya wajah tampan yang entah sejak kapan mulai mencuri perhatiannya itu, wajah yang telah beberapa kali bertamu ke dalam mimpinya, berdiam di kepalanya. Gadis itu tersenyum miris, 'Hanya sebentar lagi, Laura... sebentar lagi, dan ketika saat itu tiba bersiaplah untuk belajar melupakannya', batinnya perih.

Mata tajam Alvin berhenti pada sebuah map dimana di dalamnya terdapat sebuah foto gadis seusia Laura dengan kacamata dan rambut hitam panjangnya yang ikal. Namanya Maura. Alvin mendengus pelan sambil terus memandang foto di depannya dengan seksama. Mulai dari nama, Rambut, bahkan kacamata yang bertengger di batang hidungnya mengingatkannya akan Laura, gadis yang saat ini tengan duduk di hadapannya dengan menahan sesak melihat Alvin begitu tertarik dengan gadis yang bahkan fotonya sudah dia lepas dari map dan didekatkan ke wajahnya itu. Hanya saja dandanan gadis di foto itu lebih modern daripada Laura.

Laura menunduk, dia mencoba mengabaikan Alvin yang tersenyum saat memandang foto itu. Matanya memanas, tapi sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan perasaannya, 'Tidak, Laura... jangan menangis. Terimalah kenyataan kalau kau memang tak pernah memiliki arti apa-apa untuknya', suara hati Laura mengingatkan.

"Panggil dia," kata Alvin sambil menyodorkan sebuah map pada Laura, "Usahakan secepatnya, ya?" perintahnya lagi.

Laura mengangkat wajahnya dan membalas tatapan mata Alvin, dilihatnya binar kecil di sana, binar yang dulu pernah dilihatnya saat pria itu menatap matanya. Dan kali ini binar itu kembali ada setelah beberapa hari menghilang hanya karena sebuah foto dari calon sekretaris barunya, "Baik, Pak," jawabnya lirih sebelum berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan Alvin.

Alvin terhenyak, dadanya terasa begitu perih saat melihat ada luka di mata indah Laura yang selalu dia suka, 'Kenapa? Kenapa ada luka di sana? Siapa yang menyakitinya? Aku kah?', tanya pria itu dalam hati. 'Bodoh... tentu saja bukan, memang siapa kau? Bahkan dia memilih pergi daripada tetap berada di sisimu', Alvin mendengus mendengar kata hatinya, lalu dia mulai fokus lagi pada pekerjaannya.

.
#
.

"Mbak, data yang ini biar aku aja yang kasihkan ke Pak Alvin, ya?" 

Laura yang sedang memeriksa beberapa berkas segera mengangkat wajahnya. Dia melihat map yang dibawa oleh Maura, calon sekretaris baru pilihan Alvin yang sudah training di tempat itu selama seminggu ini, dengan sedikit berpikir, "Itu masih harus saya periksa dulu, biar nanti saja kalau sudah selesai," jawabnya sambil tersenyum pada gadis yang usianya dua tahun di bawahnya itu. Laura mengernyit saat dilihatnya Maura justru cemberut.

Tak berapa lama keduanya sama-sama menoleh saat pintu ruangan mereka terbuka dan Alvin muncul dari baliknya, "Laura, dokumen yang saya minta kemarin sudah ada?" tanya pria itu.

Laura menunjuk map hijau yang dibawa Maura, "Sudah, Pak... tapi belum saya cek ulang," jawabnya.

"Tuh kan, mbak... Pak Alvin butuh data ini secepatnya. Gitu tadi mau saya kasihkan ke Pak Alvin aja nggak boleh," cetus Maura dengan nada manja.

Laura terkejut dengan kata-kata juniornya itu. Dia sangat tahu kalau Maura begitu tertarik dengan Alvin, seperti kebanyakan perempuan lainnya di luar sana. Dan dia tahu bagaimana Maura selalu ingin terlihat sempurna di hadapan Alvin.
"Iya, tapi mbak belum sempat cek ulang datanya," tegasnya agar Alvin tidak salah paham.

"Ya kan mbak bisa ajarin aku? Jadi nanti kalau mbak sudah berhenti dan keluar aku nggak bingung. Ilmu itu dibagi dong, mbak... jangan disimpan sendiri," kata Maura dengan nada tajam.

Laura mencoba menahan emosinya, dia begitu kesal karena Maura selalu mengingatkan kalau sebentar lagi dia akan pergi dari perusahaan ini. "Maaf, sejak tadi mbak harus menyelesaikan banyak pekerjaan, jadi nggak sempat ngajarin kamu," jawabnya mengalah. Sungguh Laura tak ingin ribut di depan Alvin.

Alvin menghela napas dengan berat, dia sebenarnya tak suka dengan tingkah laku Maura. Memang gadis itu memiliki kemiripan dengan Laura, tapi dari segi sikap sama sekali berbeda. Kalau saja Maura tak pintar dan cepat menangkap penjelasan Laura dia mungkin sudah mengeluarkan gadis itu sejak awal. Sejak peristiwa Laura yang di-bully oleh Rossa dan Melly beberapa saat yang lalu Alvin sudah menanamkan di kepalanya kalau dia tak ingin ada kejadian seperti itu lagi di perusahaannya, apalagi jika hal itu justru akan menyakiti Laura kembali. Dia sama sekali tak menyesal sudah memecat dua perempuan itu dan dia tak mau kalau Maura melakukan hal yang sama pada Laura.
"Biar saya cek sendiri, kamu kerjakan yang lainnya saja," katanya pada Laura. "Dan kamu, Maura... ikut saya. Saya akan ajari kamu bagian yang ini," kata Alvin sambil keluar dari ruangan sekretaris. Dia sendiri ikut kesal melihat sikap Maura pada Laura dan dia bermaksud menjauhkan gadis itu dari gadisnya.

Maura segera saja menjerit kegirangan, "Ya udah mbak Laura kerjakan yang lain aja, aku mau diajarin Pak Alvin kok," ejeknya pada Laura sebelum mengikuti langkah panjang Alvin.

Laura terdiam, sepelan mungkin dia mengatur nafasnya yang tersendat oleh sesak. Dia hanya mampu melihat punggung dua orang itu yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu ruang kerja Alvin. Ada perih, juga sakit, tapi dia bisa apa? Dia punya hak apa untuk melarang Alvin mendekati perempuan lain?

"Ra?"

Laura tersentak, dia tak sadar kalau Marissa sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Segera saja dia menunduk dan mengusap sudut matanya yang telah basah.

"Kamu kenapa, dek?" tanya Marissa yang sudah berdiri di samping calon adik iparnya.

Laura menggeleng dan segera memasang senyum. Dia tak ingin Marissa mengkhawatirkannya, "Nggak apa-apa, mbak," jawabnya sambil mengangkat wajahnya.

"Jangan jadi pembohong lagi, Laura," kata Marissa sambil mengusap rambut gadis itu dengan lembut. Dia sudah hapal sifat Laura yang selalu menyembunyikan kesedihannya agar orang-orang di sekelilingnya tidak ikut bersedih.

Laura tersenyum lagi, Aku baik-baik aja kok, mbak. Cuma ngerasa agak sedih aja karena sebentar lagi aku akan pergi dari kantor ini," jawabnya.

Marissa memicingkan matanya, "Yakin cuma sedih ninggalin kantor ini?" godanya.

Laura sedikit tergagap, "Iya kok. Emangnya mbak Rissa ga sedih mau keluar dari kantor ini juga?" tanyanya.

Marissa tersenyum kecil, "Sedih," jawabnya. "Apalagi mbak kan sudah bekerja di sini lebih lama dari kamu?"

Laura mengangguk sebelum memeluk pinggang Marissa, menyandarkan kepalanya sejenak di pelukan orang yang menyayanginya akan mampu memberikannya kekuatan.
"Mbak Marissa ada keperluan apa ke sini? Kan bisa bbm aku?" tanya Laura setelah merasa tenang.

"Mbak mau pinjam mobil kamu sebentar, bisa? Mbak nggak bawa mobil hari ini, sedangkan mbak sekarang harus nemuin klien kita di luar kantor," jelasnya.

"Bisa dong, mbak... pake aja," jawab Laura sambil merogoh tas kerjanya dan mengambil kunci Jazz putihnya.

Marissa menerima kunci dari tangan Laura, "Nanti kita pulang bareng, ya? Mbak nginap di aparteman kamu, boleh?" tanyanya lagi.

Mata bening Laura segera saja berbinar, "Boleh banget," jawabnya dengan semangat serta senyuman yang lebar.

Marissa merasa senang melihat kegembiraan di mata adik iparnya itu, Oke... kalau gitu nanti kita masak makan malam berdua, ya?" katanya sebelum berdiri dan meninggalkan Laura yang mengangguk keras.

Merasa kalau semangatnya telah kembali Laura pun melanjutkan pekerjaannya dan secepat kilat menyelesaikan semuanya. Satu jam kemudian dia pun berdiri dan bermaksud memberikan laporannya pada Alvin, tapi langkahnya terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka saat dia melihat pria itu tengah menggenggam tangan Maura di atas mejanya. Sekali lagi rasa sakit menghantam dadanya. Laura bermaksud untuk berbalik dan mengurungkan niatnya, tapi ternyata Alvin sudah terlanjur melihatnya dan memanggilnya. Alvin segera saja melepaskan tangannya dari Maura saat melihat ada Laura di depan pintunya.

Dengan berat hati Laura pun masuk keruangan itu dan mencoba mengabaikan tatapan Maura yang mengejeknya. "Ini laporannya, Pak," kata gadis itu sambil menyerahkan tumpukan map kepada atasannya.

Alvin mengamati wajah Laura yang pucat, matanya juga tampak berkaca. Pria itu merasa kalau saat ini Laura tampak begitu rapuh, dan dia sedih melihatnya, "Kamu sakit, Laura?" tanyanya dengan lembut seakan lupa jika di ruangan itu ada Maura.

Perhatian Alvin menciptakan getar di dada gadis itu, ingin rasanya dia berteriak dan memaki Alvin yang selalu rajin mengirimkan luka di hatinya. Tapi dia hanya mampu menggeleng.

Alvin menghela nafas panjang, "Setelah aku menandatangani semua ini kita pulang, ya?" ajaknya lagi. Sebenarnya dia lelah terus menghindari dan dihindari Laura. Kalau memang waktu untuk bisa bersama gadisnya hanya tinggal sebentar lagi setidaknya dia ingin menghabiskan waktu itu dengan berbahagia di sisi Laura.

Baru saja Laura ingin menjawab tapi Maura memotong pembicaraan mereka, "Kok sama mbak Laura, Pak? Kan kita ada janji untuk makan malam berdua?"

Sekali lagi Laura hanya mampu meringis dalam hati.

"Saya sudah bilang kalau saya tidak bisa, Maura. Maaf," tolak Alvin sambil mulai membuka mapnya. "Tunggu saya di ruanganmu, Laura," katanya lagi tanpa melihat gadis itu. Sedangkan Maura memasang wajah sekesal mungkin pada Laura.

Laura tersenyum miris, "Maaf, Pak... saya bawa mobil sendiri dan saya nanti akan pulang dengan mbak Marissa," tolak Laura.

Alvin menghentikan jarinya yang sibuk memberikan tandatangan di atas dokumennya lalu menatap Laura, "Marissa akan menginap di tempatmu?" tanyanya lagi.

Laura mengangguk.

Alvin tersenyum lebar, "Kalau begitu kuharap kalian tak keberatan memberikan satu kursi kosong untukku nanti malam di meja makan."

Maura membulatkan matanya, pria itu menolak makan malam dengannya tapi berharap diundang oleh Laura? 'Apa-apaan ini?' protesnya dalam hati.

Laura bingung dengan sikap Alvin hari ini, sudah dua minggu lebih mereka saling menjauh dan hari ini pria itu kembali menaruh perhatian padanya. "Maaf, Pak... kami akan malam di luar, sekalian saya menemani mbak Marissa untuk fitting baju pengantinnya. Permisi," tolak Laura lagi sebelum dia membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan Alvin. Dia tak ingin memberikan kesempatan pada hatinya untuk kembali menaruh harapan yang pada akhirnya hanya akan menjadi kandas.

Alvin hanya mampu menatap punggung gadisnya. Laura benar-benar tak ingin memberikan sedikit saja perhatian padanya. Pria itu mendesah, mungkin sudah saatnya dia menyerah saja, menyerah pada perasaannya terhadap gadis yang sudah dikenalnya sejak lama.

#

"Apa lagi yang belum kita beli, Ra? Telur sudah, sosis sudah, sayuran sudah, juice juga sudah, apa lagi ya?" tanya Marissa sambil mengecek tas belanjanya.

Laura tertawa pelan, "Mbak mau masak untuk berapa orang sih? Sudah cukup itu, mbak," jawabnya sambil merogoh tas untuk mengambil kunci mobil. Dan tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sebuah tempat di dalam restoran Italia yang tampak terang dari luar yang sudah gelap. Dia melihat Alvin sedang menikmati makan malamnya, dan dia tidak sendiri. Ada Maura yang duduk dengan manis di depan pria itu.

BERSAMBUNG




Author's Note :
Aiiiiisshhh entah cerita gaje apa pulak ini, rasanya kaku bener udah lama ga nulis. Ini hadiahmu sist Agnes, maap kalau telat dan bersambung. Tinggal nulis endingnya aja ga kelar2. Maunya dijadiin satu part, tapi kayanya blog ku eror terus klo dilanjutin di sini, jadinya aku buat terpisah.
Selamat Natal ya, selamat ulang tahun pernikahan, dan selamat Tahun Baru.
Endingnya akan segera diselesaikan #kaburduluan.