"Apa lagi yang belum kita beli, Ra? Telur sudah, sosis sudah, sayuran sudah, juice juga sudah, apa lagi ya?" tanya Marissa sambil mengecek tas belanjanya.
Laura tertawa pelan, "Mbak mau masak untuk berapa orang sih? Sudah cukup itu, mbak," jawabnya sambil merogoh tas untuk mengambil kunci mobil. Dan tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sebuah tempat di dalam restoran Italia yang tampak terang dari luar yang sudah gelap. Dia melihat Alvin sedang menikmati makan malamnya, dan dia tidak sendiri. Ada Maura yang duduk dengan manis di depan pria itu.
Tanpa bisa ditahan butiran bening pun meluncur deras dari sepasang manik Laura. Hatinya terasa begitu perih, dia menahan isak di antara sesak, menikmati luka yang merajam dada. Harapannya musnah, lebur, dan tak lagi berbentuk. Rasa cinta yang dimilikinya hancur untuk kedua kalinya. Cinta? Ya... dia mencintai Alvin entah sejak kapan.
Laura tertawa pelan, "Mbak mau masak untuk berapa orang sih? Sudah cukup itu, mbak," jawabnya sambil merogoh tas untuk mengambil kunci mobil. Dan tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sebuah tempat di dalam restoran Italia yang tampak terang dari luar yang sudah gelap. Dia melihat Alvin sedang menikmati makan malamnya, dan dia tidak sendiri. Ada Maura yang duduk dengan manis di depan pria itu.
Tanpa bisa ditahan butiran bening pun meluncur deras dari sepasang manik Laura. Hatinya terasa begitu perih, dia menahan isak di antara sesak, menikmati luka yang merajam dada. Harapannya musnah, lebur, dan tak lagi berbentuk. Rasa cinta yang dimilikinya hancur untuk kedua kalinya. Cinta? Ya... dia mencintai Alvin entah sejak kapan.
Marissa mengernyit heran melihat Laura terpaku di depan mobilnya. Lalu dia mendekati adik iparnya itu dan dia terkejut saat mendapati kalau gadis itu tengah menangis dalam diam, "Ra... kamu kenapa, dek?" tanya Marissa.
Laura tak menjawab, bahkan dia tak mendengar pertanyaan Marissa. Pandangannya masih tertuju pada dua insan di dalam restoran Italia itu. Dimana Maura tampak tertawa bahagia sementara Alvin tersenyum pada sekretaris barunya.
Marissa mengikuti arah pandangan Laura, dan saat itu tahu lah dia kenapa adiknya menangis. Sambil menghela nafas panjang Marissa membimbing lembut bahu Laura untuk masuk ke dalam mobil. Dia mengambil alih kunci dari tangan Laura dan memutuskan kalau dia lah yang harus memegang kemudi kali ini. Marissa pun merasakan kesedihan Laura, hingga dia memilih diam sepanjang perjalanan pulang. Dibiarkannya Laura tenggelam dalam lamunannya.
Isak Laura semakin keras manakala mobilnya melewati restoran China tempatnya dan Alvin dulu pernah makan malam bersama. Dia ingat bagaimana lembutnya Alvin malam itu. Banyak tawa dan senyum yang mereka bagi, rasa bahagia yang sudah lama tak dirasakannya. Dia ingat rasa nyaman yang menyelimutinya kala pria itu menyampirkan jasnya di bahunya. Ingat saat pria itu mengusap kepalanya.
Tangis Laura pecah, dia memilih untuk memeluk tubuhnya sendiri agar rasa sakit ini tak meledakkan raganya.
.
#
.
Sejak saat itu Laura seringkali mendapati Alvin menghabiskan waktu berdua dengan Maura. Dan lagi-lagi Laura memilih menghindar. Jarak di antara mereka semakin lebar, bahkan Laura selalu meminta Maura yang memberikan semua laporan pada Alvin. Pikirnya toh sama saja sekarang atau nanti, pada akhirnya memang Maura yang akan menggantikannya.
Laura menghentikan langkahnya di depan pintu ruangannya saat dia mendengar Maura tengah menelpon seseorang, mungkin temannya.
"Lis... lu tau ga? Pak Alvin bakal ngajakin gue malam Natal besok. Dia bakal ngajakin gue kencan setelah kami menghadiri pernikahan sahabatnya. Gilaaa... impian gue banget tau ga sih?"
Laura terhenyak, sekali lagi hatinya terasa begitu sakit seperti tercabik. Bahkan Alvin akan mengajak Maura datang ke pernikahan kakaknya. Yang berarti pria itu akan mengumumkan secara tak langsung pada publik kalau dia dan Maura memiliki hubungan khusus. Apalagi kedua orangtua Alvin juga akan hadir di sana.
Laura merasa dadanya sesak, nafasnya seakan berhenti seperti harapannya yang putus. Gadis itu hanya mampu bersandar pada dinding di belakangnya, dan sekali lagi airmatanya tumpah. Ini hari terakhir dia bekerja di sini, dan mungkin sudah saatnya dia mengucapkan selamat tinggal pada Alvin. Selamat tinggal, bukan sampai jumpa.
Kakinya lemas, tubuhnya luruh ke lantai. Dan dia hanya mampu menelan isaknya yang tertahan. Sekali lagi hatinya terluka.
"Laura? Laura, kamu kenapa?"
Laura tak menjawab, bahkan mungkin dia tak mendengar panggilan Alvin yang kini sudah berlutut di hadapannya.
"Laura, kamu kenapa? Sakit? Bagian mana yang sakit? Kamu pusing?"
Alvin tak mampu menyembunyikan rasa cemasnya. Sekian lama dia menahan diri untuk tidak mendekati Laura dan memanfaatkan keberadaan Maura untuk melupakan gadis itu, tapi melihat Laura seperti ini hatinya tak sanggup untuk tak peduli.
Laura mengangkat wajahnya, dan rasa sakit itu semakin perih saat dia melihat wajah Alvin di hadapannya. Dia benci, tapi dia rindu. Dia marah, tapi juga rindu. Dia ingin memaki, tapi lidahnya hanya mampu merapalkan rindu dalam bisu. Dadanya sesak oleh rindu yang hampir tak sanggup dibendungnya lagi. Dia merindukan pria di hadapannya ini, sungguh.
Alvin segera memeluk Laura dengan erat saat tangis gadis itu pecah. Dia sangat ingin melindungi gadisnya, dia tak ingin Laura seperti ini, tak ingin Laura terluka ataupun tersakiti walau itu oleh tangannya sendiri.
"Kamu kenapa, Ra? Siapa yang membuatmu begini?" Tanya Alvin lembut sambil mengayun tubuh Laura di dalam dekapannya.
Laura hanya mampu menggeleng sambil meremas lengan kemeja biru Alvin. Dia ingin menolak, ingin berontak dan melepaskan diri dari pelukan pria itu, tapi kali ini otak dan hatinya bekerjasama untuk melemahkan keinginannya.
"Ikut aku ke ruanganku, ya? Kita bicara di sana," bujuk Alvin.
Sekali lagi Laura menggeleng.
Alvin tampak berpikir sejenak, lalu dia ingat sebuah tempat dimana dia sering melihat Laura menghabiskan waktunya sendiri, "Kita ke atap gedung? Kau suka tempat itu, kan?"
Laura terhenyak, darimana Alvin tahu kalau dia suka tempat itu? Memandang kesibukan Ibukota dari ketinggian tanpa perlu mendengarkan suara bisingnya memang selalu mampu membuatnya tenang. Dan akhirnya dia menurut saja saat Alvin memaksanya untuk berdiri. Lengan kokoh Alvin menopang bahunya, menahan tubuh lemasnya agar tak luruh lagi ke lantai. Langkahnya tertatih saat menaiki tangga yang menuju atap gedung. Hingga akhirnya dadanya yang terasa begitu sesak bisa sedikit lega saat pria itu membuka pintu besi dan membiarkan angin siang ini menerpa wajahnya. Langit yang mendung membuat cuaca menjadi sejuk.
Laura melepaskan diri dari rengkuhan Alvin lalu berjalan menuju pagar pembatas. Matanya menatap ke bawah, dimana semua benda tampak seperti semut, begitu kecil. Dibiarkannya angin mengacak rambut ikalnya yang terurai.
Alvin mengamati tubuh bagian belakang Laura yang mungil, gadisnya entah kenapa tampak begitu rapuh. Ada keinginan untuk merengkuh tubuh itu dan membuatnya nyaman dalam dekapannya. Tapi bisa kah?
Dada Alvin berdebar keras saat Laura membalikkan tubuhnya lalu menatapnya. Cantik. Itu yang pertama kali diucapkan oleh otaknya yang terasa buntu. Ya, Laura begitu cantik, begitu berbeda. Tanpa polesan make up tebal pun sudah membuatnya begitu sempurna di matanya, dan dia mengakui kalau selama ini dia tak pernah bosan memandangi wajah Laura, kacamata beningnya tak mampu menghalangi pesona gadis itu. Walau semua orang bilang kalau Laura terlalu lugu dan sederhana, tapi baginya disitulah kelebihannya.
"Kak..."
Alvin terhenyak. Baru kali ini Laura mau memanggilnya kakak lagi setelah beberapa minggu mereka menjauh. Apalagi ini di kantor, Laura tak pernah ingin memanggilnya begitu.
Alvin mendekati gadis itu dan berdiri di hadapannya. Tanpa sadar tangannya bergerak sendiri untuk menyampirkan rambut ikal Laura yang dipermainkan angin. Terasa begitu lembut di tangannya.
Jantung Laura seakan ingin lompat dari tempatnya. Dipejamkannya matanya, menikmati debaran hatinya untuk yang terakhir kalinya. Kali ini dia harus bisa melupakan segalanya, termasuk perasaannya.
"Ya, Ra?" Jawab Alvin lembut.
Laura membuka matanya yang langsung disambut oleh tatapan Alvin. Gadis itu mencoba tersenyum walau hatinya menyuarakan tangis.
"Ini hari terakhir aku bekerja di sini," katanya.
Alvin menarik tangannya dari rambut Laura dan memasukan keduanya ke kantong celana hitamnya. Ucapan Laura kembali menorehkan luka yang akhir-akhir ini berusaha dilupakannya.
Laura merasa ada yang hilang saat Alvin melepaskan kontak fisik mereka. Garis mirispun tercipta di antara senyumnya.
"Terima kasih untuk semuanya," katanya lagi dengan sedikit terbata. "Dan maaf kalau pada kenyataannya aku justru sering merepotkan kakak."
Alvin menatap mata bening yang sangat disukanya itu. Ingin rasanya dia menahan gadis itu dan memintanya untuk tetap tinggal di sisinya. Tak apa jika memang Laura tak bisa mencintainya, tapi setidaknya dia bisa terus melihat dan merasakan keberadaan gadis itu di dekatnya. Tapi dia tak memiliki keberanian untuk itu, dia tak memiliki hak apapun atas Laura.
Alvin hanya mengangguk singkat, "Kapan kamu akan berangkat?" justru pertanyaan seperti itu yang keluar dari bibirnya.
Lagi-lagi Laura harus menikmati perih pada sudut hatinya. Bahkan Alvin pun seakan tak sabar untuk melihatnya pergi.
"Sesuai dengan rencana kak Daniel, tanggal 25 sore, kak," jawabnya lirih.
Setelahnya hanya ada hening di sekitar mereka. Hingga langitpun mulai gerimis.
"Kak..." panggil Laura lagi.
Alvin tak menjawab, dia hanya menatap mata gadis itu yang mulai nampak basah.
Laura membalas tatapan pria itu. Sekelumit kenang membayang di kepalanya. Dia ingat saat pertama kali Daniel mengenalkan Alvin padanya. Di otak Laura kecil saat itu langsung tersemat julukan pangeran. Alvin terlihat seperti pangeran berkuda di buku-buku dongeng yang dia baca, karena itulah dia selalu merasa malu jika lelaki di hadapannya itu datang ke rumahnya. Laura selalu memilih mengunci diri di kamar karena dia tak ingin terlihat konyol dan tidak cantik.
Dia ingat bagaimana dulu sahabatnya menjuluki dia pemimpi karena terus terpesona pada Alvin. Sampai akhirnya sahabatnya menjodohkan dia dengan seorang lelaki teman kuliah mereka dan akhirnya mampu membuatnya jatuh cinta pada lelaki itu sampai pada kenyataannya sahabatnya sendiri lah yang menjadi duri dalam hubungan mereka.
Laura tersenyum miris, dia masih kecewa pada peristiwa itu, tapi dia tak lagi merasa terluka. Karena pada kenyataannya luka yang sesungguhnya adalah yang saat ini berada di hadapannya. Kehilangan Alvin adalah bentuk luka yang sebenarnya.
"Kak Alvin... Selamat tinggal."
Ucapan Laura diiringi suara gemuruh langit siang itu yang telah menggelap. Alvin terhenyak, selamat tinggal? Mampukah dia jauh dari gadis itu?
Laura tersenyum dengan begitu cantik, memiringkan sedikit kepalanya sembari berkata, "Kakak harus bahagia, ya? Promise me," katanya lagi. Lalu gadis itu memeluk Alvin sebentar sebelum akhirnya melepaskannya lagi untuk berlari meninggalkan pria itu sendirian di atap, dimana gerimis mulai merapat.
Alvin merasa hatinya kosong, pintu besi yang berdebam keras di belakangnya seakan menjadi pertanda kalau semuanya telah berakhir. Semuanya telah hilang. Tak ada lagi Laura untuknya. Gadisnya benar-benar memilih pergi meninggalkannya.
Pria itu menatap langit dengan hampa, membiarkan gerimis membasahi wajahnya. Bahkan rasanya dia terlalu malu untuk menangis.
Menangis? Matanya terbelalak. Walau sekilas tapi tadi dia melihat Laura menangis. Gerimis tak mampu menyamarkan airmata gadis itu. Apakah Laura merasakan hal yang sama dengannya?
Alvin berbalik dan berlari sekencangnya, dia harus menyusul Laura. Dia harus mengatakan perasaannya. Entah berbalas atau tidak tapi dia ingin meyakinkan dirinya sendiri akan perasaan gadis itu padanya.
#
Laura melangkahkan kaki menuju ruangannya. Tadi dia sudah sampai di mobil, tapi dia ingat kalau ada sesuatu yang tertinggal di laci mejanya. Pelan dia membuka pintu ruangannya yang tertutup, tapi pemandangan yang dilihatnya saat itu membuatnya tak mampu mengeluarkan suara, hanya cekat yang tertahan di ujung lidah. Matanya terbelalak melihat Alvin dan Maura yang tengah berpelukan dengan erat.
Merasa kalau ada orang lain di ruangan itu Alvin pun mengangkat wajahnya yang terbenam di bahu Maura. Jantungnya seakan berhenti saat melihat Laura berdiri di depan pintu. Segera saja dia melepaskan pelukannya pada Maura dan menjauhkan tubuh gadis itu darinya.
"Ra," panggilnya sambil mendekati Laura.
Sambil menahan sakit pada dadanya Laura pun mencoba tersenyum, "Maaf, saya hanya ingin mengambil buku yang tertinggal di laci," katanya sambil berjalan menuju mejanya dan mengambil buku kecil dari lacinya.
"Kirain mbak udah pergi jauh tadi. Ganggu aja ih."
Ucapan Maura seakan menjadi taburan garam di atas luka Laura.
Alvin kembali mencoba mendekati Laura, "Ra... itu tadi..." entah kenapa rasanya Alvin harus menjelaskan semua pada Laura, tapi kata-katanya seperti hilang saat melihat luka menganga pada mata gadisnya.
Laura hanya tersenyum saja, "Permisi, Pak," katanya sambil berlalu dari ruangan itu dengan membawa rasa sakit yang tak terperi di dadanya. Dia menyesal kenapa tadi harus kembali lagi, menyesal karena harus melihat kejadian itu.
Gadis itu melangkah cepat, sebisa mungkin tangisnya tak pecah sebelum dia keluar dari gedung ini. Tidak... dia tidak boleh menangis.
Sementara Alvin semakin panik hingga otaknya tak bisa diajak bekerjasama. Dia ingin mengejar Laura, tapi dia takut gadis itu marah. Tapi jika tak dikejar maka dia akan kehilangan satu-satunya kesempatan untuk memiliki adik dari sahabatnya sendiri itu.
"Udah deh, Pak. Paling juga mbak Laura iri lihat Bapak peluk saya tadi."
Ucapan Maura serta merta mengembalikan akal sehatnya, dia merasa begitu kesal dengan gadis itu, gadis yang selalu menyudutkan Laura, "Memeluk kamu? Kamu yang menahan saya untuk mencari Laura, dan kamu yang menarik saya dengan paksa tadi!" berangnya.
Maura tersentak. Dia tak menyangka kalau Alvin akan membentaknya. Dia berpikir kalau dia sudah berhasil menarik perhatian pria itu. "Kok marah? Kan saya cuma ingin memeluk Bapak? Baju Bapak basah jadi saya pikir..."
"Saya cuma butuh Laura, bukan yang lain."
Desisan Alvin menahan langkah Maura untuk semakin mendekati dan merayu pria itu. Ternyata benar dugaannya, pria yang ditaksirnya itu menaruh hati pada Laura.
"Bapak menyukai mbak Laura? Lalu apa maksud bapak mendekati saya akhir-akhir ini?" tanya Maura dengan kesal.
Alvin mendengus, "Coba kamu ingat kapan saya mendekati kamu terlebih dahulu? Bukankah kamu yang selalu ribut dan memaksa?"
Maura terbelalak, dia ingin membantah tapi lidahnya terasa kelu.
Alvin tak memedulikan sekretaris barunya itu dan membalikkan tubuhnya untuk mengejar Laura.
"APA SIH ISTIMEWANYA CEWEK CULUN ITU DIBANDING SAYA? BAGIAN MANA DIA YANG LEBIH BAGUS DARI SAYA? DIA NGGAK CANTIK, KAMPUNGAN!!!"
Teriakan Maura menghentikan langkah Alvin, pria itu tak ingin terpancing emosinya dan membuang waktunya yang hanya tinggal sedikit ini. Pelan dia kembali memutar tubuhnya dan menatap Maura dengan tajam, "Kelebihannya?" tanyanya sambil menahan geram.
Maura tak menjawab, dia hanya menantang tatapan Alvin.
Alvin melangkah pelan mendekati gadis itu, "Kelebihannya adalah... semua kekurangan yang kau sebutkan tadi telah mampu membuatku jatuh cinta padanya. Puas?"
Maura menelan ludah dengan susah payah, dan dia hanya mampu menatap punggung Alvin yang menjauhinya dan membanting pintu ruangannya dengan keras.
#
Marissa yang menunggu di lobby segera saja menghampiri Laura saat dia melihat gadis itu keluar dari lift, "Ra, sudah diambil yang tertinggal?" tanyanya.
Laura hanya mengangguk sambil menahan laju airmatanya agar tak jatuh.
Marissa mengernyit bingung saat adik iparnya itu terus berjalan meninggalkannya, bahkan menembus hujan lebat di luar sana, "Ra... Laura kamu kenapa?!!" teriak Marissa yang berusaha menghentikan langkah Laura.
Tapi Laura seakan tak mendengar. Dia terus saja berjalan menuju mobilnya yang terparkir agak jauh di halaman gedung yang luas ini. Bajunya basah kuyub, dia tak peduli, dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Dia ingin mengakhiri semuanya, termasuk perasaannya. Biar saja, biar hujan meleburkan segalanya.
"Laura!!!" Marissa ingin segera menyusul gadis itu, tapi sebuah tangan menahan lengannya.
"Biar aku, Sa."
Marissa semakin bingung saat orang yang menahan tangannya tadi berlalu begitu saja menembus hujan dan mengejar langkah kecil Laura. Tapi segera saja otak cerdasnya bisa menangkap semua dengan cepat. Wanita yang sebentar lagi akan menyandang status Nyonya Wiriawan itu kembali berteriak, "Hentikan tangisnya, Vin. Awas kalau gagal!!!" ancamnya pada pria yang baru saja satu jam yang lalu tidak menjadi atasannya lagi.
Alvin yang masih bisa mendengar teriakan Marissa hanya mengacungkan ibujarinya saja tanpa menghentikan langkahnya.
Marissa terkekeh sambil menggeleng. Dia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari para karyawan yang menyaksikan hal tersebut.
#
"Ra..."
Laura menepis tangan Alvin yang sudah berhasil mencekal lengannya.
"Ra, dengar dulu," pinta Alvin di antara derasnya hujan.
Laura menggeleng, airmatanya tak mampu lagi dibendungnya.
Alvin kembali merengkuh kedua lengan gadis itu lalu memutar tubuhnya agar menghadapnya, "Apa yang kamu lihat tadi tak seperti yang kamu bayangkan, Ra."
"Kalaupun iya itu juga bukan urusanku kan, kak? Kakak ga perlu jelasin apa-apa kok," jawab Laura sambil menunduk. Dia enggan menatap pria itu. Hatinya masih terasa terbakar.
Alvin menangkup pipi gadis itu, "Lalu kenapa kamu menangis?" tanyanya lembut.
Laura berusaha melepaskan tangan Alvin dari pipinya tapi tak bisa.
"Jawab, Ra... kenapa kamu menangis kalau memang itu bukan urusan kamu?" paksa Alvin lagi.
Laura hanya menggeleng pelan.
"Kalau hal tadi tidak berpengaruh untuk kamu berarti kamu tak memiliki alasan apapun untuk menangis, kan?" tekan Alvin.
Laura semakin terisak, dia kehilangan kekuatan untuk menyangkal. Dan akhirnya dia pasrah pada apa yang akan terjadi setelah ini. Dia hanya merasa lelah, lelah bersembunyi dan berlari dari perasaannya sendiri.
"Kakak berhak kok melakukan apa saja, dengan siapa saja. Toh selama ini kakak juga cuma menganggap aku sebagai adik, bahkan tak lebih dari seorang sekretaris, jadi kakak nggak perlu jelasin semuanya ke aku," katanya lagi di antara isaknya. Laura tak peduli walau sekujur tubuhnya basah oleh hujan. Dia hanya ingin menumpahkan semua isi hatinya.
Alvin tersenyum, diusapnya airmata gadis itu dengan ujung ibu jarinya. Dia memilih diam dan mendengarkan semuanya.
Laura meneruskan kata-katanya, "Kakak tanya kenapa aku menangis? Karena kakak nggak pernah tahu seperti apa rasanya tak dianggap, kakak nggak tahu gimana rasanya cuma bisa melihat orang yang kakak suka dari jauh. Nggak tahu, kan? Kakak nggak pernah harus terpaksa menyimpan semua perasaan kakak di dalam hati, dan menahan sakit saat kakak melihat orang yang kakak sayang makan malam bersama gadis lain di depan mata kakak sendiri," racau Laura. Dia tak peduli walau kepalanya mulai terasa pusing.
"Kakak nggak pernah jadi aku, kak... jadi kakak nggak akan pernah tahu sebesar apa luka ini saat aku harus melihat orang yang selama ini aku suka terus bersama gadis lain, bahkan.... bahkan memeluknya. Sakit, kak... sakit banget."
Alvin memeluk erat tubuh Laura yang mulai menggigil kedinginan. Ada rasa sedih juga bahagia menyusup ke dalam hatinya. Perlahan dia tahu bagaimana perasaan gadis itu. Diusapnya rambut basah Laura dengan lembut. "Ra, aku..."
"Bahkan saat orang yang kusayang sama sekali tak menahan kepergianku... itu rasanya seperti kehilangan harapan, kak. Aku seperti kehilangan separuh hidupku saat aku tahu kalau aku tak pernah memiliki arti apa-apa untuknya." Tangis Laura kembali pecah dalam dekapan Alvin.
Alvin memeluk gadis itu semakin erat, memberikan semua kehangatan untuk tubuhnya yang gemetar kedinginan. Pelan dia membimbing Laura menuju ke mobilnya yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri dan membukakan pintu penumpang. Setelah yakin Laura sudah duduk dengan nyaman pria itupun berputar menuju pintu pengemudi.
Laura berusaha menghentikan tangisnya, tapi isakan belum juga hilang dari bibirnya. Dengan kesal dia mengusap airmatanya dan menyandarkan punggungnya. Wajahnya dialihkan keluar jendela, dia merasa malu untuk menatap pria yang duduk di sampingnya itu.
Alvin tersenyum, rasanya begitu bahagia bisa melihat Laura kembali duduk di sampingnya. Pria itu meraih selembar selimut tebal dari kursi tengah mobilnya untuk menutupi tubuh Laura yang basah.
Laura masih tak mau memandang ke arah Alvin sampai akhirnya pria itu meraih dagunya dan memaksanya untuk menoleh. Dia tercekat saat mendapati wajah Alvin sudah cukup dekat dengannya.
"Sudah selesai curhatnya?" goda Alvin masih sambil tersenyum.
Wajah pias Laura sedikit memerah, dia segera memalingkan wajahnya lagi.
Alvin terkekeh dan kembali meraih dagu gadis itu agar menatapnya, "Berarti sekarang giliranku, kan?" tanyanya lembut.
Laura tak menjawab, dia hanya diam saat Alvin melepas kacamatanya yang basah lalu meletakkannya di dashboard mobil.
Alvin kembali menatap lurus manik indah Laura, telapak tangannya mengusap pipi gadis itu dan menyampirkan beberapa rambut ikalnya yang menempel di pipi.
Laura memejamkan matanya, menikmati rasa hangat yang ditinggalkan oleh jari-jari Alvin di kulitnya. Matanya terbuka lagi saat ujung jari Alvin menyentuh lembut bibir bawahnya.
"Tapi tahukah kamu kalau seorang pria itu selalu susah mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata?"
Laura mencoba mencerna ucapan pria itu, lalu mengangguk pelan walau dia sendiri kurang begitu mengerti.
Alvin tertawa pelan, "Kalau begitu kamu pahami ini, ya? Rasakan dengan hatimu."
Laura hanya bisa menahan nafas saat bibir pria itu menyentuh bibirnya dan memberikan sedikit kecupan di sana.
Alvin menjauhkan sedikit bibirnya untuk melihat reaksi Laura. Pria itu mengulum senyum sembari menahan debaran dadanya yang kian bergejolak saat tahu kalau Laura tak marah. Gadis itu masih tampak terperangah seakan tak percaya akan apa yang baru saja terjadi.
Tak ingin menahan dirinya lagi Alvin pun kembali meniadakan jarak di antara bibir mereka. Alvin kembali memagut bibir Laura dengan begitu lembut seakan takut melukai kulitnya yang merah jambu.
Sementara Laura tak mampu lagi menutupi perasaannya, dia hanya pasrah, lagipula ini ciuman pertamanya dan dia tak tahu harus melakukan apa sehingga dia membiarkan Alvin yang memimpin. Debaran jantungnya yang diluar batas membekukan fungsi otaknya. Akhirnya gadis itu memilih untuk memejamkan matanya dan menikmati kehangatan yang ditawarkan bibir Alvin.
Laura kembali tersadar saat Alvin menyudahi ciumannya. Akal sehatnya kembali. Sesak itu datang lagi, kenapa Alvin menciumnya? Bukankah pria itu tak mencintainya? Bukankah Alvin adalah kekasih Maura? Apakah Alvin hanya ingin mempermainkannya? Dan sebutir airmata lepas dari mata beningnya.
"Ra? Maaf, kamu marah?"
Alvin panik saat gadis itu menunduk dengan bahu yang sedikit bergetar.
Laura tak menjawab, dia masih sibuk menata kepingan hatinya.
"Ra?" panggil Alvin lagi sambil berusaha membuat gadis itu mendongak dengan menyentuh dagunya.
"Kenapa?" tanya Laura saat dia tak memiliki alasan lain selain membalas tatapan pria itu.
Alvin mengernyit, "Maksud kamu?"
Laura menguatkan hatinya, menantang tatapan mata Alvin yang tajam, "Ke-kenapa kakak melakukan... hal itu? Apa kakak ingin membuatku semakin hancur?"
Alvin semakin tak mengerti, "Hancur gimana sih, Ra? Apa maksud kamu?"
Laura berdecak, "Kenapa kakak cium aku? Bukankah kakak sudah memiliki kekasih? Apa kakak ingin mempermainkan aku sebelum aku pergi?"
Mulut Alvin terbuka tanpa suara.
"Jawab!!" Kata Laura dengan kesal.
Alvin menggeleng tak mengerti, "Jawab apa, Ra? Kekasih yang mana? Siapa?" tanyanya.
Laura memukul bahu Alvin dengan keras hingga pria itu mengaduh, "Maura!!! Dia kekasih kakak, kan?" tanyanya.
Alvin membelalakkan matanya, tak lama diapun tersenyum tipis, "Kamu cemburu?" godanya sambil mengusap lembut pipi gadis itu.
Laura menepis tangan Alvin dan kemudian tangannya meraih handle pintu. Dia lelah dengan rasa sakitnya dan ingin menyudahi semua hingga di sini saja.
Avin segera meraih tangan Laura, menahan gadis itu agar tak keluar dari mobilnya, "Ra..."
"Lepas, kak... aku mau pulang sendiri," kata Laura sembari memberontak.
Alvin semakin mengeratkan cekalannya, "Aku yang akan antar kamu pulang," katanya.
"Nggak usah!!!" tolak Laura sambil terus berusaha melepaskan cekalan tangan Alvin lagi.
Alvin berdecak dan meraih bahu Laura, memaksa gadis itu untuk diam dan menatapnya, "Dengar ya? Aku sama sekali tak ada hubungan apapun dengan Maura. Sama sekali tidak ada apa-apa, Ra," jelasnya tegas.
Avin segera meraih tangan Laura, menahan gadis itu agar tak keluar dari mobilnya, "Ra..."
"Lepas, kak... aku mau pulang sendiri," kata Laura sembari memberontak.
Alvin semakin mengeratkan cekalannya, "Aku yang akan antar kamu pulang," katanya.
"Nggak usah!!!" tolak Laura sambil terus berusaha melepaskan cekalan tangan Alvin lagi.
Alvin berdecak dan meraih bahu Laura, memaksa gadis itu untuk diam dan menatapnya, "Dengar ya? Aku sama sekali tak ada hubungan apapun dengan Maura. Sama sekali tidak ada apa-apa, Ra," jelasnya tegas.
Laura terdiam, dia masih tak percaya. Bagaimana bisa pria itu mengatakan kalau dia dan Maura tak memiliki hubungan apa-apa padahal akhir-akhir ini mereka tampak dekat. Bahkan Alvin sudah mengajak Maura untuk hadir di pernikahan kakaknya besok malam?
Alvin mengusap kedua pipi gadis itu lalu menangkup kedua sisi wajahnya dengan telapak tangannya, "Aku akan jelaskan semua di apartemen kamu, tidak di sini, karena aku tidak mau kamu sakit dan mendapatkan tendangan dari Daniel kalau kamu sampai tak datang ke pestanya besok," pria itu mencoba bergurau.
Tapi Laura tak tertawa, dia justru bertanya, "Dan kakak sudah mengajak Maura untuk datang bersama, kan?"
Alvin terdiam, dia menatap Laura yang lagi-lagi matanya mengguratkan sebaris luka. Dengan lembut pria itu memeluk Laura dan mencium ujung kepalanya, "Akan aku jelaskan di apartemen, oke?"
Laura merasa sedikit kecewa, dia lalu menjauhkan tubuh Alvin dan kembali bersandar di kursi mobilnya. Gadis itu malas berdebat, mungkin pulang dan tidur adalah pilihan terbaik saat ini. Sekali lagi dia mengalihkan pandangannya keluar jendela, lalu diam.
Alvin menghela nafas panjang, setidaknya dia lega karena gadis itu tak mencoba lari lagi darinya. Pelan dia memacu mobilnya ke jalan besar, irama hujan mengiringi kediaman mereka.
#
Daniel mengernyitkan keningnya saat dia melihat Laura dalam keadaan basah memasuki ruang tengah dan diikuti oleh Alvin di belakangnya, "Kamu kenapa, sayang?" tanyanya tanpa beranjak dari sofa empuk di ruangan itu.
Laura yang sebelumnya tak menyadari kehadiran Daniel di ruangan itu menghentikan langkahnya. Tubuhnya masih terbungkus selimut tebal dari mobil Alvin, "Kakak kapan datang?" tanyanya sambil mendekati pria itu. Sementara Alvin memilih berdiri diam tak jauh dari mereka.
Daniel berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh adiknya yang menggigil kedinginan, "Baru saja," jawabnya sambil memberikan kecupan sayang di kening gadis itu. "Apa kalian baru selesai syuting film India? Kok bisa hujan-hujanan berdua?" guraunya.
Alvin dan Laura hanya saling melemparkan tatapan tanpa ingin menjelaskan apapun pada pria itu.
Daniel hanya bisa menggeleng saja melihat tingkah sahabat dan adiknya itu, "Kamu mandi dulu sana, pakai air hangat supaya tidak sakit. Setelah itu kita makan malam bersama, sebentar lagi Marissa datang," katanya.
Laura hanya mengangguk dan berjalan melewati Alvin begitu saja untuk menuju ke kamarnya.
Alvin tersenyum geli, "Ra... nanti malam kita harus bicara," tahannya sebelum tangan gadis itu meraih handle pintu kamarnya.
Laura membalikkan tubuhnya dan menatap mata tajam Alvin. Sebenarnya dia sudah tak begitu kesal lagi pada pria itu, penjelasan singkatnya di mobil tadi jujur saja cukup membuatnya lega dan berpikir kalau apa yang dipikirkannya selama ini mungkin saja salah. Tapi terlalu mudah mengalah juga tak ingin dia lakukan, "Malas," jawabnya sebelum masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.
Alvin terkekeh pelan, wajah Laura saat cemberut begitu benar-benar menggemaskan. Kalau saja tak ada Daniel di situ mungkin dia akan mengejar gadis itu dan memeluknya dengan erat.
"Kau kemanakan adikku yang lugu dan lembut, hah?" tanya Daniel pada Alvin yang masih asik tersenyum sendiri.
Alvin hanya menggeleng dan kembali tertawa pelan, "Sebenarnya aku kesal kau ada di sini saat ini, tapi kalau ingat mungkin saja sebentar lagi kau akan menjadi kakak iparku mau tak mau ya aku mencoba memaklumi," jawab Alvin sambil melenggang keluar.
Daniel membuka mulutnya, "WHAT???" teriaknya sambil mengejar langkah Alvin.
Alvin hanya tertawa sambil menutup pintu sebelum Daniel berhasil menahan langkahnya. Dia ingin segera mandi, ganti baju, lalu kembali ke apartemen di depannya itu untuk kembali bertemu dengan gadis kesayangannya.
.
#
.
Pesta di Ballroom Hotel yang dipesan Daniel untuk pesta pernikahannya tampak meriah, tak begitu mewah tapi tampak begitu hangat. Nuansa merah dan emas menghiasi setiap sudutnya. Marissa yang memilih warna beralasan selain cantik untuk pesta pernikahan perpaduan warna itu juga sangat cocok untuk Natal, karena pesta mereka diadakan tepat pada saat malam Natal.
Laura berdiri sendirian di sudut ruangan, gaun berwarna peach berpotongan A Line yang dikenakannya tampak serasi dengan warna kulitnya yang putih bersinar. Panjangnya yang hanya sampai sedikit di atas lutut mempertegas kaki rampingnya yang mengenakan wedges bertali dengan warna senada. Rambut ikalnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja, hanya diberi hiasan jepit di kanan dan kirinya. Sementara kacamata yang selalu bertengger di batang hidungnya telah digantikan lensa kontak bening yang mengekspos mata indahnya. Polesan lipstick berwarna natural dan basah tampak begitu segar di bibirnya yang ranum.
Cantik. Sempurna. Itu yang dipikirkan para pria yang hadir di ruangan itu. Bahkan tamu yang sebagian besar adalah rekan kerjanya di kantor tak percaya kalau Laura bisa menjelma menjadi gadis yang begitu indah. Tapi karena pembawaan Laura yang tertutup gadis itu justru merasa risih dengan perhatian yang diberikan para pria itu untuknya.
Laura sedikit menggerutu, Marissa yang memaksanya untuk mengenakan semua itu, bahkan wanita yang saat ini sudah menjadi kakak iparnya itu telah mempersiapkan semua itu jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi wajah cemberutnya segera berganti senyum saat dia melihat ke arah pelaminan betapa bahagia wajah kakak semata wayangnya itu. Dia melihat Daniel tak henti-hentinya tersenyum dan selalu memandang kearah Marissa dengan penuh cinta, jelas terlihat kalau pria yang begitu memanjakannya itu bersyukur bisa bersanding dengan wanita yang dipujanya. Ada perasaan iri terselip di sudut hatinya, akankah ada pria yang akan sungguh-sungguh mencintainya seperti Daniel yang mencintai pengantin wanitanya itu?
Alvin mengusap kedua pipi gadis itu lalu menangkup kedua sisi wajahnya dengan telapak tangannya, "Aku akan jelaskan semua di apartemen kamu, tidak di sini, karena aku tidak mau kamu sakit dan mendapatkan tendangan dari Daniel kalau kamu sampai tak datang ke pestanya besok," pria itu mencoba bergurau.
Tapi Laura tak tertawa, dia justru bertanya, "Dan kakak sudah mengajak Maura untuk datang bersama, kan?"
Alvin terdiam, dia menatap Laura yang lagi-lagi matanya mengguratkan sebaris luka. Dengan lembut pria itu memeluk Laura dan mencium ujung kepalanya, "Akan aku jelaskan di apartemen, oke?"
Laura merasa sedikit kecewa, dia lalu menjauhkan tubuh Alvin dan kembali bersandar di kursi mobilnya. Gadis itu malas berdebat, mungkin pulang dan tidur adalah pilihan terbaik saat ini. Sekali lagi dia mengalihkan pandangannya keluar jendela, lalu diam.
Alvin menghela nafas panjang, setidaknya dia lega karena gadis itu tak mencoba lari lagi darinya. Pelan dia memacu mobilnya ke jalan besar, irama hujan mengiringi kediaman mereka.
#
Daniel mengernyitkan keningnya saat dia melihat Laura dalam keadaan basah memasuki ruang tengah dan diikuti oleh Alvin di belakangnya, "Kamu kenapa, sayang?" tanyanya tanpa beranjak dari sofa empuk di ruangan itu.
Laura yang sebelumnya tak menyadari kehadiran Daniel di ruangan itu menghentikan langkahnya. Tubuhnya masih terbungkus selimut tebal dari mobil Alvin, "Kakak kapan datang?" tanyanya sambil mendekati pria itu. Sementara Alvin memilih berdiri diam tak jauh dari mereka.
Daniel berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh adiknya yang menggigil kedinginan, "Baru saja," jawabnya sambil memberikan kecupan sayang di kening gadis itu. "Apa kalian baru selesai syuting film India? Kok bisa hujan-hujanan berdua?" guraunya.
Alvin dan Laura hanya saling melemparkan tatapan tanpa ingin menjelaskan apapun pada pria itu.
Daniel hanya bisa menggeleng saja melihat tingkah sahabat dan adiknya itu, "Kamu mandi dulu sana, pakai air hangat supaya tidak sakit. Setelah itu kita makan malam bersama, sebentar lagi Marissa datang," katanya.
Laura hanya mengangguk dan berjalan melewati Alvin begitu saja untuk menuju ke kamarnya.
Alvin tersenyum geli, "Ra... nanti malam kita harus bicara," tahannya sebelum tangan gadis itu meraih handle pintu kamarnya.
Laura membalikkan tubuhnya dan menatap mata tajam Alvin. Sebenarnya dia sudah tak begitu kesal lagi pada pria itu, penjelasan singkatnya di mobil tadi jujur saja cukup membuatnya lega dan berpikir kalau apa yang dipikirkannya selama ini mungkin saja salah. Tapi terlalu mudah mengalah juga tak ingin dia lakukan, "Malas," jawabnya sebelum masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.
Alvin terkekeh pelan, wajah Laura saat cemberut begitu benar-benar menggemaskan. Kalau saja tak ada Daniel di situ mungkin dia akan mengejar gadis itu dan memeluknya dengan erat.
"Kau kemanakan adikku yang lugu dan lembut, hah?" tanya Daniel pada Alvin yang masih asik tersenyum sendiri.
Alvin hanya menggeleng dan kembali tertawa pelan, "Sebenarnya aku kesal kau ada di sini saat ini, tapi kalau ingat mungkin saja sebentar lagi kau akan menjadi kakak iparku mau tak mau ya aku mencoba memaklumi," jawab Alvin sambil melenggang keluar.
Daniel membuka mulutnya, "WHAT???" teriaknya sambil mengejar langkah Alvin.
Alvin hanya tertawa sambil menutup pintu sebelum Daniel berhasil menahan langkahnya. Dia ingin segera mandi, ganti baju, lalu kembali ke apartemen di depannya itu untuk kembali bertemu dengan gadis kesayangannya.
.
#
.
Pesta di Ballroom Hotel yang dipesan Daniel untuk pesta pernikahannya tampak meriah, tak begitu mewah tapi tampak begitu hangat. Nuansa merah dan emas menghiasi setiap sudutnya. Marissa yang memilih warna beralasan selain cantik untuk pesta pernikahan perpaduan warna itu juga sangat cocok untuk Natal, karena pesta mereka diadakan tepat pada saat malam Natal.
Laura berdiri sendirian di sudut ruangan, gaun berwarna peach berpotongan A Line yang dikenakannya tampak serasi dengan warna kulitnya yang putih bersinar. Panjangnya yang hanya sampai sedikit di atas lutut mempertegas kaki rampingnya yang mengenakan wedges bertali dengan warna senada. Rambut ikalnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja, hanya diberi hiasan jepit di kanan dan kirinya. Sementara kacamata yang selalu bertengger di batang hidungnya telah digantikan lensa kontak bening yang mengekspos mata indahnya. Polesan lipstick berwarna natural dan basah tampak begitu segar di bibirnya yang ranum.
Cantik. Sempurna. Itu yang dipikirkan para pria yang hadir di ruangan itu. Bahkan tamu yang sebagian besar adalah rekan kerjanya di kantor tak percaya kalau Laura bisa menjelma menjadi gadis yang begitu indah. Tapi karena pembawaan Laura yang tertutup gadis itu justru merasa risih dengan perhatian yang diberikan para pria itu untuknya.
Laura sedikit menggerutu, Marissa yang memaksanya untuk mengenakan semua itu, bahkan wanita yang saat ini sudah menjadi kakak iparnya itu telah mempersiapkan semua itu jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi wajah cemberutnya segera berganti senyum saat dia melihat ke arah pelaminan betapa bahagia wajah kakak semata wayangnya itu. Dia melihat Daniel tak henti-hentinya tersenyum dan selalu memandang kearah Marissa dengan penuh cinta, jelas terlihat kalau pria yang begitu memanjakannya itu bersyukur bisa bersanding dengan wanita yang dipujanya. Ada perasaan iri terselip di sudut hatinya, akankah ada pria yang akan sungguh-sungguh mencintainya seperti Daniel yang mencintai pengantin wanitanya itu?
Lagi... perasaan resah itu bertamu di hatinya. Teringat kejadian kemarin saat Alvin memeluknya di bawah hujan, lalu menciumnya. Apakah itu hanya permainan Alvin saja? Bahkan saat mereka makan malam bersama di apartemennya pun Alvin tak juga mengungkapkan maksudnya. Pria itu hanya asik memandangnya sepanjang malam dengan senyum yang tak bisa diartikan. Bahkan saat kakaknya bertanya apa yang dilakukan pria itu padanya, Alvin hanya tersenyum dan tertawa kecil. Sungguh bukan seperti Alvin yang selama ini mereka kenal. Dan hal itu juga yang membuatnya kembali kesal dan marah pada pria itu.
"Laura? Itu kamu, sayang?"
Laura segera mencari sumber suara yang memanggil namanya dan memecah lamunannya. Sepasang wanita dan pria setengah baya sudah berdiri di sampingnya. Segera saja mata Laura melebar, senyum merekah di bibirnya yang lembut, "Om Theo, tante Sophia," sapanya sambil menyalami dan mencium tangan dua orang yang sekarang berdiri di hadapannya tersebut. Dua orang yang tak lain adalah orangtua dari pria yang dicintainya.
"Ya Tuhan... lihatlah peri kecil kita, pa. Dia sudah tumbuh menjadi bidadari tercantik di ruangan ini," kata Sophia pada suaminya. Wanita itu masih tampak begitu cantik di usianya yang tak bisa dibilang muda lagi. Tangannya sibuk membelai rambut Laura dengan sayang, ada binar rindu di matanya yang indah.
"Laura? Itu kamu, sayang?"
Laura segera mencari sumber suara yang memanggil namanya dan memecah lamunannya. Sepasang wanita dan pria setengah baya sudah berdiri di sampingnya. Segera saja mata Laura melebar, senyum merekah di bibirnya yang lembut, "Om Theo, tante Sophia," sapanya sambil menyalami dan mencium tangan dua orang yang sekarang berdiri di hadapannya tersebut. Dua orang yang tak lain adalah orangtua dari pria yang dicintainya.
"Ya Tuhan... lihatlah peri kecil kita, pa. Dia sudah tumbuh menjadi bidadari tercantik di ruangan ini," kata Sophia pada suaminya. Wanita itu masih tampak begitu cantik di usianya yang tak bisa dibilang muda lagi. Tangannya sibuk membelai rambut Laura dengan sayang, ada binar rindu di matanya yang indah.
"Menurut papa dia justru satu-satunya gadis tercantik di mata papa, selain mama pastinya," sambung Theo sambil mengedip pada istrinya dan disambut tawa oleh dua perempuan di hadapannya itu.
"Om dan tante kapan datang dari New York?" tanya Laura.
"Kami sampai di Indonesia sudah sejak tiga hari yang lalu, tapi kami memilih untuk bulan madu dulu ke Bali," jawab Theo.
"Dan langsung ke sini setelah dari bandara," lanjut Sophia.
Laura tersenyum, "Masih tetap romantis aja, bikin iri," godanya.
Theo merangkul bahu istrinya sambil tertawa renyah.
"Tante berharap keromantisan kami akan menular pada Alvin dan calon istrinya," kata Sophia dengan mata berbinar.
Laura tercekat, ucapan dari ibu Alvin itu seolah membuat jantungnya berhenti untuk beberapa detik, 'Calon istri? Kak Alvin akan menikah?' tanyanya dalam hati. Laura ingin meyakinkan diri akan apa yang baru saja dia dengar, tapi dia takut jika jawaban kedua orangtua Alvin akan membuatnya lebur saat ini juga.
"Kemana anak kita, pa? Katanya dia ingin memperkenalkan calon istrinya? Kok dari tadi belum kelihatan?"
Laura ingin menangis rasanya, ingin berlari dan menghilang dari muka bumi, lalu tenggelam di dasar lautan hingga karam saat dia melihat Alvin memasuki ruangan dengan seorang gadis di sisinya. Gadis yang begitu dia kenal, Maura.
Ingin rasanya Laura berteriak, menumpahkan sejuta kesal dan marah yang menumpuk di dadanya, meledakkan seribu kecewa yang menyesakkan hatinya. Jadi semua ini... semua yang terjadi di antara mereka selama ini hanya permainan Alvin saja? Semua kata-kata yang diucapkan kemarin di tengah hujan... hanyalah sekedar omong kosong?
Langkah Alvin tampak tergesa hingga Maura kesulitan menyamakan langkahnya. Pria itu melihat kedua orangtuanya di sudut ruangan, bersama Laura. Dan dari tatapan mata gadis itu dia tahu kalau sesuatu yang buruk dan kesalahpahaman yang sangat fatal telah terjadi di sana.
"Ma, pa..." sapanya saat sudah sampai di depan Theo dan Sophia. Nafasnya sedikit tersengal karena langkahnya yang terburu-buru sejak dia turun dari mobilnya.
"Ma, pa..." sapanya saat sudah sampai di depan Theo dan Sophia. Nafasnya sedikit tersengal karena langkahnya yang terburu-buru sejak dia turun dari mobilnya.
Sophia tersenyum pada putra sematawayangnya itu, "Inikah calon menantu mama?" tanyanya pada Alvin sambil menatap Maura yang berdiri tepat di belakang putranya.
Alvin segera mengikuti tatapan mata ibunya, "Ma... bukan, aku..."
Maura yang mendengar kata-kata Sophia segera saja memasang senyum selebar mungkin, otaknya segera mencari cara pintar untuk memperkenalkan diri, apalagi ada Laura di situ, "Anda ibu pak Alvin? Ah maksud saya Alvin. Ya... perkenalkan saya adalah calon istri Alvin," jawabnya sambil mencium tangan Sophia lalu mencium kedua pipi wanita itu dengan sok akrab.
Kali ini Laura mengalah, dia mengalah oleh airmatanya. Dia mengalah untuk menyerahkan kembali hatinya pada luka. Dia kalah, dan dia menyerahkan semua kebahagiaannya di tangan takdir.
"Ma... bukan, ini... ini..." Alvin tampak panik menjelaskan semua di hadapan ibunya. Dan saat kedua orangtua Alvin fokus pada Maura tak ada yang menyadari airmata Laura kecuali dia, "Ra... aku..."
Segera saja Laura menepis kasar tangan Alvin yang ingin menyentuhnya. Di antara derai airmatanya sebuah senyum tampak begitu dipaksakan dengan sebuah ukiran luka di atasnya.
Theo memandang heran pada Laura yang menangis, dan sebagai seorang pengusaha handal yang telah berhasil mendirikan puluhan perusahaan besar hanya dengan kemampuan otaknya, dia segera tahu jika ada sesuatu yang salah di sini. Dan kalau apa yang sedang dipikirkannya adalah benar maka dia akan menjadi ayah yang begitu bangga akan pilihan putranya.
"Laura? Kamu kenapa menangis, sayang?" tanya Sophia yang ikut memandang heran pada Laura dan Alvin yang tampak tegang.
"Biarin aja, tante... Laura bisanya memang cuma nangis, makanya Alvin selalu kesal sama dia," Maura mencoba mengalihkan perhatian kedua orangtua Alvin untuk kembali fokus padanya. "Dari sejak awal saya kenal dia memang dia itu selalu saja merepotkan Alvin dengan segala kelemahan dan kemanjaannya, sampai saya nggak habis pikir kok bisa sih jadi perempuan nggak mandiri banget," celoteh Maura.
"DIAM KAU!!!" bentak Alvin yang segera saja membuat gadis itu pucat dan bungkam. Sementara Theo dan Sophia begitu terkejut mendengar kekasaran putra mereka terhadap seorang gadis.
Laura tak lagi bisa menahan isaknya, diapun memutar tubuhnya dan berlari menjauh dari keluarga Alvin dan Maura.
"Laura!!!" panggil Alvin. Pria itu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia tak tahu harus berbuat apa.
"Kejar dia, anak bodoh!" Theo menegur keras.
Alvin menatap ayahnya dengan bingung, begitu juga Sophia.
"Pilih. Kau kejar dia dan dapatkan dia untuk menjadi menantu papa, atau kau biarkan dia pergi untuk menjadi milik pria lain yang seribu kali lebih pintar darimu?"
Mata Alvin terbelalak, memikirkan Laura bersama lelaki lain membuat emosinya meninggi, "Aku akan dapatkan dia untuk menjadi istriku, pa... lihat saja," jawabnya sambil berlari menyusul gadisnya.
Theo menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, "Lambat," gerutunya.
Sementara Sophia tersenyum begitu lebar saat dia akhirnya bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Saat Maura berkata buruk tentang Laura tadi sebenarnya dia sudah ingin menampar mulut gadis itu dan berharap Alvin berubah pikiran untuk menjadikannya istri. Dan ternyata melihat kepanikan Alvin dan luka di mata Laura membuat dia berharap akan ada kebahagiaan luar biasa setelah Alvin berhasil membujuk Laura nantinya.
"Sepertinya kita harus menghampiri Daniel, ma. Kita sampai lupa ini acaranya siapa. Lihat itu... Daniel sudah melotot dari atas pelaminan," kata Theo yang masih tertawa geli sambil menarik tangan istrinya. Meninggalkan Maura sendirian di sudut ruangan.
#
Laura terus berlari keluar gedung, dia tak tahu kemana kakinya melangkah. Karena menangis kontak lensanya mungkin terlepas, dan ketika pandangannya menjadi semakin kabur diapun tak mampu lagi mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Sebelum tubuhnya terhempas ke lantai ada sepasang tangan yang menahan lengannya, "Nona, kau tak apa-apa?" tanya suara seorang pria di belakangnya.
Laura menggeleng dan berusaha melepaskan diri dari cekalan pria itu. Dia tak ingin menoleh untuk melihat siapa yang menolongnya karena dia terlalu malu karena nyaris terjatuh di hadapan banyak orang.
"LEPASKAN DIA!!!" suara Alvin menggelegar karena marah, dia tak suka Laura disentuh oleh orang lain, apalagi seorang pria.
#
Laura terus berlari keluar gedung, dia tak tahu kemana kakinya melangkah. Karena menangis kontak lensanya mungkin terlepas, dan ketika pandangannya menjadi semakin kabur diapun tak mampu lagi mengendalikan keseimbangan tubuhnya. Sebelum tubuhnya terhempas ke lantai ada sepasang tangan yang menahan lengannya, "Nona, kau tak apa-apa?" tanya suara seorang pria di belakangnya.
Laura menggeleng dan berusaha melepaskan diri dari cekalan pria itu. Dia tak ingin menoleh untuk melihat siapa yang menolongnya karena dia terlalu malu karena nyaris terjatuh di hadapan banyak orang.
"LEPASKAN DIA!!!" suara Alvin menggelegar karena marah, dia tak suka Laura disentuh oleh orang lain, apalagi seorang pria.
"Whoaa...sabar, bro... aku cuma menahan nona manis ini agar tak terjatuh".
Alvin semakin geram saat pria yang tak dikenalnya itu menyebut Laura dengan panggilan manis, "Jaga mulutmu," desisnya sambil mengambil paksa Laura dan melepaskan lengan gadis itu dari tangan pria asing yang menjadi tamu di pesta Daniel.
Kembali Laura berusaha melepaskan diri dari dekapan Alvin. Dia benar-benar tak ingin melihat pria itu.
Alvin mengajak Laura menjauh dari keramaian dengan sedikit memaksa. Sepanjang langkah mereka Laura tak bersuara, bahkan dia terus berusaha lepas dari cekalan Alvin.
"Ra... kita harus bicara," bujuk Alvin setelah mereka sampai di halaman samping Ballroom hotel tempat pernikahan Daniel dan Marissa.
Laura tetap bersikukuh diam dan terus memberontak, dia muak dengan semuanya.
"Ra..."
"Cukup, kak... aku malas mendengar kebohonganmu lagi!!" Bentak gadis itu sambil menyentakkan tangannya dengan keras hingga terlepas dari cekalan Alvin.
"Aku tak pernah berbohong, Ra. Kamu saja yang tak pernah mau mendengar semua penjelasanku," bantah pria itu.
Laura membelalakkan matanya yang bulat, emosinya kembali terpancing, "Jadi sekarang aku yang salah, kak?" tanyanya penuh amarah. Selama ini dia selalu mampu mengendalikan emosinya, dia selalu bisa bersikap tenang, tapi kalau sudah berurusan dengan Alvin dan hatinya entah kenapa semua pertahanannya seolah runtuh.
"Kakak menyalahkanku karena tak pernah mau mendengarkan semua penjelasan kakak, begitu?" tanyanya lagi.
"Ra... dengar dulu, aku..."
"Menurut kakak apakah yang aku dengar dari kakak kemarin sesuai dengan apa yang aku lihat hari ini? Atau jangan-jangan kakak sudah lupa apa yang kakak ucapkan kemarin di parkiran kantor?" potong gadis itu.
Alvin tak menjawab, dia hanya mampu menatap gadis itu, membiarkan semua emosinya meluap.
"Kali ini kakak ingin menyampaikan kebohongan seperti apa lagi? Apa kakak belum puas membuatku sakit dan terus berharap, hah?! Jawab, kak!!! Kakak ingin membuat aku menangis seperti bagaimana lagi?!!" Kali ini Laura berteriak, airmatanya kembali tumpah tak tertahankan. Isak terdengar keras dari bibirnya yang basah. Bahunya berguncang oleh tangis.
Alvin mengusap rambutnya dengan keras, sungguh dia tak ingin membuat Laura seperti ini, "Ra... please," katanya sambil memegang kedua bahu Laura.
Alvin mengusap rambutnya dengan keras, sungguh dia tak ingin membuat Laura seperti ini, "Ra... please," katanya sambil memegang kedua bahu Laura.
Laura ingin menepis lagi tangan Alvin, tapi tenaganya terlalu lemah karena menangis.
"Kali ini saja dengarkan aku, please. Kupertaruhkan seluruh kebahagiaan yang akan kudapat jika aku berbohong padamu. Dengarkan aku, Ra... oke?" bujuknya.
Merasa tak punya pilihan lain Laura pun tak lagi memberontak, dan diamnya diartikan Alvin sebagai persetujuan. Dengan lembut dibimbingnya gadis yang masih terisak itu untuk duduk di sebuah bangku kayu yang diletakkan di bawah pohon cemara besar yang telah dihias sebagai pohon natal raksasa.
Merasa tak punya pilihan lain Laura pun tak lagi memberontak, dan diamnya diartikan Alvin sebagai persetujuan. Dengan lembut dibimbingnya gadis yang masih terisak itu untuk duduk di sebuah bangku kayu yang diletakkan di bawah pohon cemara besar yang telah dihias sebagai pohon natal raksasa.
Alvin berlutut di depan gadis itu, menyelimuti kedua tangan Laura yang masih gemetar dengan kedua tangannya yang besar. Dengan menghela napas panjang dia mencoba untuk meredakan kegugupannya.
"Ra..." panggil Alvin pelan, dan setelah gadis itu bersedia menatap matanya diapun melanjutkan kalimatnya, "Aku mencintaimu," ucap pria itu akhirnya setelah dia mengumpulkan seluruh keberaniannya.
Isak Laura semakin keras, dia memejamkan mata lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seakan ingin menolak percaya untuk apa yang sedang disampaikan pria itu.
Alvin menangkup wajah Laura dengan kedua tangannya, "Aku bersumpah, Laura. Aku sudah mencintaimu sejak dulu, entah sejak kapan, mungkin sejak kau beranjak remaja dan semakin dewasa. Aku mencintaimu setiap hari sejak saat itu hingga hari ini," tekan Alvin.
Laura masih memejamkan matanya sambil menangis, dia ingin percaya tapi dia takut terluka lagi. Dia ingin percaya, tapi dia takut tersakiti lagi.
"Aku bersumpah kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu, Ra," Alvin terus berusaha meyakinkan gadisnya.
"Kau tahu bagaimana perasaanku saat kau memutuskan untuk berpacaran dengan teman kuliahmu dulu? Rasanya aku benar-benar ingin membuatnya menyesal seumur hidup karena telah membuatmu terluka dan menangis. Menghantam wajahnya saja tidak cukup, Ra. Lalu bagaimana bisa aku tega membohongimu selama ini kalau melihatmu menangis saja sudah cukup membuatku hancur?"
"Kau tahu bagaimana perasaanku saat kau memutuskan untuk berpacaran dengan teman kuliahmu dulu? Rasanya aku benar-benar ingin membuatnya menyesal seumur hidup karena telah membuatmu terluka dan menangis. Menghantam wajahnya saja tidak cukup, Ra. Lalu bagaimana bisa aku tega membohongimu selama ini kalau melihatmu menangis saja sudah cukup membuatku hancur?"
Laura membuka matanya yang basah, 'Benarkah? Benarkah dia telah mencintaiku selama ini?' tanyanya dalam hati. Dia mulai meredakan emosinya.
"Kamu begitu tertutup, Ra... kamu mudah terluka. Kamu selalu menyendiri, kamu memiliki zona sendiri dimana kamu merasa nyaman dengan kesendirianmu. Kamu tak suka jika ada orang yang terlalu mencampuri hidupmu. Kau selalu berusaha keras melakukan semuanya sendiri, kau tunjukkan pada semua orang kalau kau mandiri dan tak bergantung dengan siapapun. Dan kau berhasil. Kau perempuan hebat yang bahkan tak membutuhkan bantuanku sebagai kakak atau sebagai siapapun. Lalu apa yang bisa aku lakukan selain menjagamu dari kejauhan? Kalau memang membatasi kedekatan kita mampu membuatmu nyaman maka aku akan melakukannya untukmu, Ra. Karena apa? Karena aku ingin kamu bahagia, karena akupun tak pernah mengijinkan diriku sendiri untuk menyakitimu," jelas Alvin lagi.
Laura kembali menutup matanya dan menggigit bibirnya yang mulai kembali terisak. Itukah alasan Alvin tak mendekatinya secara terang-terangan selama ini?
"Kau tahu seperti apa bentuk kecewaku saat kau bahkan tak mengatakan apapun padaku ketika dua perempuan itu menekanmu? Melukaimu? Aku kecewa, Ra... kecewa pada diriku sendiri karena aku ternyata tak mampu melindungi orang yang begitu aku cintai. Aku merasa begitu tak pantas berada di dekatmu," lanjut Alvin sambil mengusap airmata yang masih mengalir di pipi gadis itu.
"Aku juga begitu terkejut dengan keputusanmu yang akan pergi bersama Daniel, aku sebenarnya ingin menahanmu, tapi aku sadar kalau aku tak memiliki hak apapun akanmu, aku bukan siapa-siapa untukmu, Ra. Aku hanya menganggap kalau memang itu pilihanmu untuk bahagia maka aku akan berusaha mewujudkannya untukmu," jelas Alvin.
Laura membuka matanya dan menatap lurus pada mata tajam milik Alvin, ada kejujuran di sana, juga luka.
"Percayalah, aku sungguh-sungguh mencintaimu," bisik Alvin tanpa keraguan.
"Lalu Maura?" Laura bertanya dengan suaranya yang terdengar berat dan serat akibat menangis sejak tadi. Dia menanyakan hal terakhir yang masih membuatnya ragu akan kata-kata Alvin.
"Kalau kau bertanya tentang Maura... aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun padanya, aku bersumpah. Aku memilih dia sebagai sekretaris awalnya karena dia mengingatkanku akan kamu, Laura."
Laura terkesiap, dia memandang Alvin dengan tajam.
Alvin tersenyum samar, ingatannya kembali di hari itu saat Laura mengajukan beberapa map berisi lamaran pekerjaan ke mejanya, "Dia memiliki rambut ikal seperti rambutmu, usianya tak berbeda jauh denganmu, dan... berkacamata. Awalnya kupikir jika kamu benar-benar pergi akan ada gadis yang menyerupaimu di sisiku, tapi aku salah. Bahkan seujung kukupun dia tak mampu mengalahkan pesonamu di mataku, dan hatiku."
Laura berusaha keras agar tak tersenyum. 'Jadi itu alasannya memilih Maura dari beberapa pelamar yang diajukannya hari itu?' batinnya.
"Dia yang terus memaksa untuk mendekatiku, berbagai cara dia lakukan agar aku terpesona padanya. Sebenarnya aku malas meladeni dia, tapi aku tak suka saat dia terus merepotkanmu dan membuatmu kesal, karena itulah aku berusaha menjauhkan dia darimu."
Laura menahan nafasnya, sebesar itukah Alvin menjaganya?
"Lalu waktu kau melihat kami makan bersama... itu karena kau menolakku untuk makan di apartemenmu bersama Marissa. Aku tak punya pilihan lain selain menyetujui ajakan Maura makan di luar daripada dia terus memaksaku untuk membiarkannya datang ke apartemenku."
Setelah itu Alvin jeda sejenak untuk mengambil nafas. Laura hanya menatapnya, kali ini rasa percaya mulai tumbuh di hatinya.
Alvin melanjutkan penjelasannya, "Dan saat kamu melihat kami berpelukan... saat itu aku mencarimu ke ruanganmu, tapi kamu sudah pergi. Aku ingin mengejarmu, mengatakan kalau aku tak ingin kamu pergi, Laura. Tapi lagi-lagi Maura menahanku, dia menarikku dan memelukku tepat disaat kamu masuk ke dalam ruangan."
Laura menghela napas panjang dengan tetap terus menatap pria itu, "Lalu hari ini?" tanyanya.
Alvin menatap gadisnya dengan lembut, ujung telunjuknya menyusuri sisi wajahnya yang lembab sembari menyingkirkan sisa anak-anak rambut yang menempel di sana. Wajah gadis itu tampak sedikit pucat tapi tak mampu mengurangi kecantikannya. Laura tak membutuhkan make up untuk meluluhkannya.
Laura memukul pelan dada Alvin, "Kalau kakak seperti ini terus aku yakinkan pekerjaan kita tak akan pernah selesai," katanya kesal.
Alvin tertawa renyah. Pria itu lalu memeluk Laura dengan begitu posesif, mencium rambutnya yang halus dan harum, "Aku mencintaimu, Laura... selamanya," ungkapnya dengan bersungguh-sungguh.
Laura tersenyum dalam dekapan kekasihnya sembari berdoa semoga akan ada kata selamanya untuk mereka menghabiskan sisa umur bersama.
"Tadi pagi aku menelpon mama yang masih berada di Bali, aku bilang kalau malam ini aku akan memperkenalkan seorang gadis pada mereka, gadis yang akan datang bersamaku di pesta Daniel. Sengaja tak kusebutkan namanya karena aku ingin menjadikan ini sebagai kejutan untuk mereka," jelasnya.
"Karena terlalu bersemangat aku sampai lupa kalau aku belum mengajakmu. Kupikir kita berempat pasti akan datang bersama ke tempat resepsi. Ternyata sore tadi saat kutelpon Daniel... dia sudah berada di hotel bersama Marissa dan kamu. Jelas saja aku panik, bagaimana bisa dia tak mengatakan apa-apa semalam. Seharusnya dia bilang kalau kalian sudah harus bersiap di sini sejak sore jadi aku bisa ikut sekalian," kali ini nada suara Alvin tampak kesal.
Tanpa sadar Laura tertawa pelan, semalam memang kakaknya tidak bilang apa-apa tentang jadwal hari ini, dia saja harus mandi dengan terburu-buru karena mengejar waktu. Sadar kalau Alvin tengah menatapnya Laura pun segera menghentikan tawanya, "Apa lihat-lihat? Teruskan ceritanya," katanya lagi dengan memasang raut muka cemberut.
Alvin merasa lega, begitu lega melihat senyum gadis di hadapannya itu. Pria itu mencium kedua tangan Laura yang telah berada kembali di genggamannya.
Laura merasa jengah, tapi dia tak bisa menahan debaran yang kembali bertalu di dadanya. Bibir Alvin terasa begitu hangat di jemarinya, begitu lembut. Dia merasa ada seribu kupu-kupu terbang di perutnya.
"Aku langsung bersiap secepatnya, dan macet di jalan raya benar-benar membuatku naik darah," lanjut Alvin.
"Begitu tiba di sini aku segera memarkir mobil dan berlari masuk. Sialnya aku justru bertemu Maura di Lobby. Dia sengaja menungguku karena aku pernah bilang kalau malam Natal aku ada acara di hotel ini."
Segera saja Laura teringat saat dia mendengar Maura menelpon temannya di kantor, "Bukankah kakak yang mengajaknya untuk datang ke pesta kak Daniel? Aku mendengar dia bicara di telpon dengan temannya."
Alvin menggeleng, "Aku tak pernah mengajaknya, Laura. Dia memaksa ingin menghabiskan malam Natal denganku, tapi kutolak. Aku bilang kalau sahabatku akan menikah, tapi dia terus memaksa. Bahkan dia ingin ikut denganku ke acara ini begitu dia tahu kalau mempelai wanitanya adalah salah satu karyawanku. Karena Maura termasuk karyawan baru di kantor maka Marissa tak mengundangnya. Apalagi Marissa tahu seperti apa sikap Maura. Karena itu Maura kesal dan terus memaksa agar aku mau mengajaknya datang, jelas saja aku tak mau, apalagi aku tahu kalau papa dan mama pasti hadir," jelasnya dengan berapi-api.
Laura tercenung, "Berarti Maura berbohong?" tanyanya.
Alvin menghela nafas dengan kasar, "Entah, dan aku tak peduli. Yang pasti tadi aku tak datang bersamanya. Dia terus mengikutiku sampai aku bertemu kamu."
Laura menatap mata Alvin, "Tapi tadi om dan tante bilang kalau kakak akan memperkenalkan calon istri kakak. Dan aku melihat kakak datang bersama Maura," jelas gadis itu dengan nada bingung.
Alvin semakin mengeratkan genggamannya pada Laura. Pria tampan itu tersenyum dengan begitu lembut, "Maaf kalau aku lancang, sebenarnya... mmmh..."
Laura mengernyit, "Sebenarnya apa, kak?" tanyanya.
Alvin mengusap belakang lehernya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain masih menggenggam tangan Laura.
Laura semakin bingung melihat wajah pria itu yang menjadi sedikit merah, "Kak," panggilnya.
Alvin kembali menghela napas panjang dan mendongak menatap gadisnya. Pria yang masih menopang tubuhnya dengan satu lutut itu semakin maju dan melingkarkan tangannya di pinggang Laura.
Laura hampir saja melonjak, tak pernah ada lelaki yang memperlakukannya seintim ini. Tanpa bisa dicegah wajah gadis itupun merona. Seakan tahu harus bagaimana, kedua tangannya pun otomatis bersandar di kedua bahu Alvin. Wajahnya menunduk untuk membalas tatapan pria itu.
"Maaf kalau aku lancang, aku..." Alvin seakan takut meneruskan ucapannya. Sementara Laura semakin penasaran saja.
"Aku... aku terlalu percaya diri kalau kamu akan menerimaku segampang itu, Ra. Aku bahkan belum mengatakan tentang perasaanku padamu. Hanya saja tadi pagi mulutku seperti bergerak sendiri dengan mengatakan hal itu pada mama. Aku..."
Dada Laura bergemuruh kencang saat tangan Alvin mengusap punggungnya dengan lembut, meninggalkan rasa panas pada jejaknya.
"Yang kumaksud dengan calon istri itu sebenarnya adalah... kamu, Ra," kata Alvin yang segera melanjutkan kalimatnya untuk menutupi kegugupannya, "Maaf kalau aku lancang dan mengatakan hal itu pada mama, aku sungguh-sungguh... Ra? Kenapa kamu menangis?" Alvin menghentikan ocehannya saat dia melihat gadisnya menangis lagi.
Laura menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia sungguh tak menyangka kalau Alvin sudah sejauh itu memikirkan hubungan mereka ke depannya, padahal dia saja masih ragu akan perasaan pria itu tadinya.
"Ra... aku salah, ya? Maaf. Seharusnya aku bertanya dulu akan perasaanmu. Maaf, Ra... tapi aku terlalu mencintaimu. Sejak kau masih remaja dulu... aku... aku mencintaimu, Laura."
Alvin terkesiap saat gadis itu melemparkan diri ke arahnya dan melingkarkan tangannya di bahunya. Isak kembali terdengar dari bibirnya yang merah. Segera saja pria itu membalas pelukan Laura dengan begitu erat, mengayun pelan tubuh gadis itu dalam dekapannya.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang? Kakak tahu berapa lama aku memperhatikan kakak? Bahkan sebelum dulu aku memiliki kekasih. Kenapa kakak cuma diam saja?Kenapa tak melarangku?" tanya Laura bertubi-tubi diantara tangisnya.
Alvin semakin mengeratkan pelukannya, diciuminya rambut gadis itu, menghirup harum baunya dengan rakus, "Aku takut menyakitimu, Ra. Aku tak punya keberanian lebih saat itu, maaf," bisiknya. "Aku ingin menjadi pria yang hebat dulu sebelum aku mengatakan perasaanku padamu, aku ingin bisa menjadi sosok yang bisa kamu banggakan. Maaf kalau selama ini aku cuma bisa memperhatikanmu dari jauh. Maaf," bisik Alvin lagi.
Laura semakin tenggelam dalam tangisnya, kini semuanya sudah jelas. Dibiarkan saja pria itu terus memeluknya, menenangkannya. Mereka sama-sama memilih diam, memilih memutar kembali semua kenangan sejak pertama kali mereka bertemu. Beginikah cinta?
Alvin tersenyum, dia tak menginginkan apa-apa lagi, memeluk Laura seerat ini adalah mimpinya. "Aku mencintaimu," bisiknya lagi di telinga gadis itu.
Akhirnya Laura menjauhkan tubuhnya. Gadis itu menatap bola mata Alvin, dan dia melihat kesungguhan di sana. Dengan lembut diusapnya wajah pria itu, wajah yang selama ini selalu hadir di mimpi-mimpinya, wajah yang selalu menemaninya setiap kali dia memejamkan mata.
"Aku juga mencintai, kakak," bisiknya lembut dengan senyum bahagia tersungging di bibirnya.
Kali ini Alvin tersenyum lebar, segera dia menarik Laura untuk berdiri dan memeluk gadis itu dengan begitu erat. Tawa ceria terdengar dari bibir-bibir mereka. "Kamu menerimaku, Ra? Nggak bohong?" tanya Alvin lagi setelah dia melepaskan pelukannya.
Laura tak menjawab, dia hanya mengangguk sambil tertawa. Dan akhirnya dia menjerit saat Alvin mengangkat pinggangnya lalu memeluknya sambil berputar. Laura menatap ke arah langit, begitu banyak bintang, dan pohon cemara dengan hiasan lampu-lampu Natal tampak begitu indah dipandang oleh matanya yang sedikit berkabut.
Alvin menurunkan gadisnya dengan pelan lalu meraih dagu gadis itu dengan ujung jarinya, "Jadilah kekasihku, Laura. Dampingi aku hingga kau siap untuk menjadi istriku. Lalu setelahnya... temani aku hingga usia kita menua. Hingga kelak Tuhan akan mempersatukan kita lagi di surga," pinta Alvin sambil menatap lurus manik mata gadisnya.
Laura tersenyum, sebutir airmata kembali turun. Tapi tak ada lagi kesedihan, dia hanya terlalu bahagia. Tuhan telah mewujudkan mimpinya di malam Natal ini.
"Ya, kak... aku akan terus mendampingimu. Selamanya," ucapnya dengan nada serak tapi tegas dan penuh keyakinan.
Alvin mendekatkan wajahnya, dan dia tersenyum saat Laura memejamkan matanya. Bibir mereka akhirnya tak berjarak, saling bertemu dalam sebuah ikatan rasa yang tak terpisahkan. Keduanya hanyut dengan perasaannya masing-masing, saling memagut dan menyecap apa yang mereka sebut cinta. Dalam hati mereka bersumpah jika rasa ini akan ada untuk selamanya. Bahkan waktu selamanya tak akan cukup untuk mereka.
"Ehem!!!"
Keduanya tersadar saat sebuah deheman menginterupsi kegiatan mereka. Laura segera mendorong tubuh Alvin yang masih memeluknya, wajahnya semerah senja saat, di antara matanya yang kabur karena lensa kontaknya terlepas, dia masih bisa mengenali siapa-siapa saja yang berdiri di dekat mereka.
Alvin berdecak, "Kenapa kalian meninggalkan pelaminan sih? Tak sopan sekali, padahal banyak tamu di sana," gerutunya.
Daniel menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang, "Kau apakan adikku sampai dandanannya kacau balau begitu? Padahal sebentar lagi aku ingin berdansa dengannya," kata pria yang memakai tuxedo hitam itu.
"Sejak sore aku sudah meriasnya dengan begitu sempurna, dan sekarang coba lihat apa yang kau lakukan pada adik iparku?" Marissa ikut menyalahkan Alvin. Tak ada lagi bahasa formal yang biasa dia lakukan pada mantan atasannya itu.
"Papa juga ingin berdansa dengan gadis kecil papa, tapi kau malah mengacaukan semuanya," Theo tak mau kalah dan memarahi putranya.
Sementara Laura merasa begitu malu, dan dia memilih sedikit bersembunyi di belakang pria yang kini telah menjadi kekasihnya itu.
Alvin tersenyum geli, Laura memang tampak sedikit kacau karena riasan di wajahnya nyaris hilang karena airmata. Tapi itu sama sekali tak masalah, karena Alvin selalu suka bagaimanapun penampilan gadisnya. Dia malah kesal kalau Laura tampak begitu cantik di muka umum seperti malam ini. Ingin rasanya dia memaki seluruh tamu pria yang hadir lalu memecat sebagian besar dari mereka yang datang karena undangan dari Marissa yang berarti adalah karyawannya sendiri.
Sophia mendekati Alvin lalu menarik lembut tangan Laura agar keluar dari persembunyiannya. Lalu gadis yang sudah dikenalnya sejak dia masih kecil iti dipeluknya dengan penuh kasih, "Biar mama saja yang merapikan riasan wajah calon menantu mama ini, boleh kan?" tanyanya pada Alvin yang segera saja membuat wajah Laura semakin merah.
Alvin tersenyum, "Kuserahkan calon istriku ini pada mama, jadikan dia cantik hanya untukku ya, ma?" godanya pada Laura yang disambut delikan sebal gadisnya.
Sophia terkekeh pelan sebelum mencium kening Laura, "Ayo, sayang," ajaknya sambil menggandeng Laura agar mengikutinya.
"Aku yang akan berdansa pertama kali dengannya, ma. Jadi tolong jauhkan Laura dari dua laki-laki ini!!!" Teriak Alvin pada ibunya.
Sophia tertawa keras tanpa menghentikan langkahnya, sementara Laura hanya memandang kekasihnya dengan pandangan mengancam. 'Terus saja menggodaku', gerutunya dalam hati. Kesal memang, malu, tapi rasa bahagia inj tak mampu dipungkirinya.
"Kau bahkan belum melamarnya padaku, Vin. Seenaknya saja kau klaim adikku sebagai calon istrimu," kata Daniel sambil meninju pelan bahu sahabatnya itu.
Alvin tertawa sambil melihat ke arah ayahnya, "Please, pa... bantu aku untuk meluluhkan hati calon kakak iparku ini," candanya.
Theo ikut tertawa, "Papa yakin Daniel tak akan keberatan kalau Laura kelak akan menjadi menantu papa, iya kan, Dan?" tanyanya dengan ringan, tapi Daniel tahu kalau pria itu serius. Dia sudah hapal bagaimana sifat masing-masing keluarga Alvin.
Daniel mengangkat bahu sambil memeluk pinggang Marissa, "Kalau om yang bilang begitu bagaimana aku bisa menolak, iya kan, sayang?" tanyanya pada Marissa yang dibalas anggukan oleh istrinya itu.
"Kita akan bicarakan ini dengan lebih serius lagi setelah om berunding dengan tante kapan sebaiknya kami melamar Laura secara resmi padamu sebagai walinya," sambung Theo lagi.
Daniel menghela nafas panjang, ada perasaan lega dalam hatinya, lega karena dia yakin adik yang begitu disayanginya akan berada di tangan pria yang tepat, pria yang telah menjadi sahabatnya sendiri sejak lama. Pria itu menatap Alvin dan dia melihat kesungguhan di sana.
"Aku akan menjaga Laura, Dan... aku bersumpah. Jadi kumohon jangan bawa dia ke Perth," pinta Alvin.
Daniel tersenyum, "Kalau memang itu keinginan Laura maka aku tak akan pernah memaksanya. Tapi ingat... aku tak akan pernah memaafkanmu kalau kau sampai menyakitinya," ancam pria itu.
Alvin mengangguk, "Ya... jika itu terjadi kau bisa membunuhku, Dan," jawabnya dengan nada penuh keyakinan.
"Kupegang kata-katamu," jawab Daniel sebelum melepaskan istrinya lalu berganti memeluk Alvin dengan erat.
Alvin membalas pelukan Daniel dengan tak kalah eratnya, "Thanks, Dan," bisiknya.
.
#
.
Laura memandang sekeliling ruangannya, banyak yang berubah, Alvin menyulap ulang ruangan itu agar menjadi nyaman untuknya. Dia duduk di kursi kerjanya, menyandarkan bahunya dengan santai sambil memejamkan mata. Teringat lagi apa yang terjadi padanya dan Alvin saat malam Natal itu, Alvin mencintainya, bahkan melamarnya di depan kakaknya saat mereka mengantar Daniel dan Marissa ke bandara. Alvin sudah memintanya pada Daniel dan bersumpah akan menjaga dan mencintainya dengan seluruh hidupnya, bahkan pria itu juga sudah menyematkan cincin pertunangan di jarinya di hadapan kakaknya, Marissa, dan kedua orangtuanya yang juga ikut mengantarkan kepergian Daniel dan istrinya, bukankah itu sudah sangat bagus? Walaupun semua itu dilakukan di bandara dan disaksikan oleh banyak orang yang tak mereka kenal. Laura tertawa sendiri saat mengingat hal itu.
Apalagi setelah pertunangan dadakan itu kedua orangtua Alvin tak ingin menunggu terlalu lama untuk menjadikannya sebagai menantu di keluarga mereka, apalagi yang lebih luar biasa dari itu?
Ya... Laura tidak jadi ikut Daniel dan Marissa untuk tinggal di Perth, Daniel membatalkan tiketnya sembari mengancam Laura agar tak termakan bujuk rayu Alvin sebelum mereka menikah. Daniel juga melarang Laura untuk masuk sendirian ke apartemen Alvin, serta beberapa nasehat over protektif lainnya.
Dan pagi ini setelah dia kembali bekerja di perusahaan Alvin semua juga berubah, tak ada yang tak tahu hubungan mereka sejak Alvin berdansa dengannya di pesta Daniel malam itu, bahkan secara terang-terangan Alvin mengumumkan ke seluruh karyawan kalau dia adalah calon istrinya. Semua yang selama ini mencemoohnya mulai memasang topeng manis, para pria yang sering memanggilnya cupu pun bungkam. Tapi statusnya yang kini telah resmi menjadi kekasih Alvin tak lantas membuatnya merubah penampilan. Alvin tak suka jika dia tampil terlalu mencolok, pria itu benar-benar pencemburu.
Terakhir... Alvin memindahkan Maura ke bagian arsip dan pendataan, tapi gadis itu menolak dan akhirnya memilih keluar dari perusahaan, "Haaah... kuharap tak ada lagi kejadian seperti itu, melelahkan," desahnya pelan.
"Apa aku membuatmu lelah, sayang?"
Laura terlonjak dari duduknya, dan setelah dia duduk dalam posisi yang benar dia melihat Alvin sudah berdiri di depan pintu, "Ma-maaf... saya..."
"Berhentilah bersikap formal saat kita sedang berdua walaupun itu di kantor. Aku tak meragukan keprofesionalitasanmu terhadap pekerjaan walaupun kamu sekarang adalah kekasihku," potong Alvin sambil berjalan mendekati gadisnya, "Cuma rasanya aneh saat mendengar kalau... calon istriku yang cantik ini berkata begitu formal padaku," rayu Alvin sambil mengusap lembut satu sisi wajah Laura yang sudah memerah.
Laura berdecak, pria itu sekarang jadi sering menggodanya, "Gombal," gerutu Laura sambil memajukan bibir bawahnya.
Alvin terkekeh, dirasa tak mampu menahan diri lagi diapun mencium bibir Laura dengan gemas, memagutnya dengan rakus seakan semua ini tak cukup untuk menunjukkan seberapa besar perasaannya pada gadis itu, "Rasanya aku ingin segera mengurus pernikahan kita, sayang. Berada di dekatmu benar-benar membuatku sulit menahan diri," bisiknya parau di telinga Laura setelah dia melepaskan ciumannya.
.
#
.
Laura memandang sekeliling ruangannya, banyak yang berubah, Alvin menyulap ulang ruangan itu agar menjadi nyaman untuknya. Dia duduk di kursi kerjanya, menyandarkan bahunya dengan santai sambil memejamkan mata. Teringat lagi apa yang terjadi padanya dan Alvin saat malam Natal itu, Alvin mencintainya, bahkan melamarnya di depan kakaknya saat mereka mengantar Daniel dan Marissa ke bandara. Alvin sudah memintanya pada Daniel dan bersumpah akan menjaga dan mencintainya dengan seluruh hidupnya, bahkan pria itu juga sudah menyematkan cincin pertunangan di jarinya di hadapan kakaknya, Marissa, dan kedua orangtuanya yang juga ikut mengantarkan kepergian Daniel dan istrinya, bukankah itu sudah sangat bagus? Walaupun semua itu dilakukan di bandara dan disaksikan oleh banyak orang yang tak mereka kenal. Laura tertawa sendiri saat mengingat hal itu.
Apalagi setelah pertunangan dadakan itu kedua orangtua Alvin tak ingin menunggu terlalu lama untuk menjadikannya sebagai menantu di keluarga mereka, apalagi yang lebih luar biasa dari itu?
Ya... Laura tidak jadi ikut Daniel dan Marissa untuk tinggal di Perth, Daniel membatalkan tiketnya sembari mengancam Laura agar tak termakan bujuk rayu Alvin sebelum mereka menikah. Daniel juga melarang Laura untuk masuk sendirian ke apartemen Alvin, serta beberapa nasehat over protektif lainnya.
Dan pagi ini setelah dia kembali bekerja di perusahaan Alvin semua juga berubah, tak ada yang tak tahu hubungan mereka sejak Alvin berdansa dengannya di pesta Daniel malam itu, bahkan secara terang-terangan Alvin mengumumkan ke seluruh karyawan kalau dia adalah calon istrinya. Semua yang selama ini mencemoohnya mulai memasang topeng manis, para pria yang sering memanggilnya cupu pun bungkam. Tapi statusnya yang kini telah resmi menjadi kekasih Alvin tak lantas membuatnya merubah penampilan. Alvin tak suka jika dia tampil terlalu mencolok, pria itu benar-benar pencemburu.
Terakhir... Alvin memindahkan Maura ke bagian arsip dan pendataan, tapi gadis itu menolak dan akhirnya memilih keluar dari perusahaan, "Haaah... kuharap tak ada lagi kejadian seperti itu, melelahkan," desahnya pelan.
"Apa aku membuatmu lelah, sayang?"
Laura terlonjak dari duduknya, dan setelah dia duduk dalam posisi yang benar dia melihat Alvin sudah berdiri di depan pintu, "Ma-maaf... saya..."
"Berhentilah bersikap formal saat kita sedang berdua walaupun itu di kantor. Aku tak meragukan keprofesionalitasanmu terhadap pekerjaan walaupun kamu sekarang adalah kekasihku," potong Alvin sambil berjalan mendekati gadisnya, "Cuma rasanya aneh saat mendengar kalau... calon istriku yang cantik ini berkata begitu formal padaku," rayu Alvin sambil mengusap lembut satu sisi wajah Laura yang sudah memerah.
Laura berdecak, pria itu sekarang jadi sering menggodanya, "Gombal," gerutu Laura sambil memajukan bibir bawahnya.
Alvin terkekeh, dirasa tak mampu menahan diri lagi diapun mencium bibir Laura dengan gemas, memagutnya dengan rakus seakan semua ini tak cukup untuk menunjukkan seberapa besar perasaannya pada gadis itu, "Rasanya aku ingin segera mengurus pernikahan kita, sayang. Berada di dekatmu benar-benar membuatku sulit menahan diri," bisiknya parau di telinga Laura setelah dia melepaskan ciumannya.
Laura memukul pelan dada Alvin, "Kalau kakak seperti ini terus aku yakinkan pekerjaan kita tak akan pernah selesai," katanya kesal.
Alvin tertawa renyah. Pria itu lalu memeluk Laura dengan begitu posesif, mencium rambutnya yang halus dan harum, "Aku mencintaimu, Laura... selamanya," ungkapnya dengan bersungguh-sungguh.
Laura tersenyum dalam dekapan kekasihnya sembari berdoa semoga akan ada kata selamanya untuk mereka menghabiskan sisa umur bersama.
END
Akhirnya kelar jugaaaaaaa....... #tepar. Sist Agnes yang cantik dan baik hati... maap yak kalau hadiahmu ga keren gini, hik... aku desperet. Salahkan kerjaan akhir dan awal tahun yang memecah konsentrasiku #halaaah #nyarikambinghitam xDD
Jangan minta kado beginian lagi yak? Klo nekat ntar aku bikinin yang super angst loh #ngancam

