Senin, 17 Februari 2014

Arti Diamku (By. Aya)

"Pulang sekarang juga!"

Aku sedikit mengerutkan kening membaca sms dari separuhku itu. Apa maksudnya dengan seenaknya memintaku pulang sementara dia tahu dengan baik betapa sibuknya aku, terlebih menjelang akhir tahun seperti ini. Aku bukan dia yang seorang penulis dengan jam kerja yang bisa dia atur semaunya.


"Jangan bertanya apapun. Pulang sekarang!"


Muncul sms kedua. Damn, gadis satu itu bisa saja membaca pikiranku. Apa yang harus kulakukan? Menuruti keinginan gadis aneh yang kuklaim sebagai separuhku yang otomatis membuatku juga terlihat aneh itu, atau tetap berkutat dengan pekerjaanku? 

Apa yang harus kukatakan dengan Big Boss, atasan super galakku? Aaaaarggghhh, kau membuatku tak punya pilihan, Aya!

Kusambar tasku, memasukkan beberapa barang penting, lalu menyambar kunci motorku. Ucapkan selamat tinggal untuk kertas-kertas berisi draft pekerjaan itu, Wa, batinku.


Aku memutuskan untuk menuruti permintaan gadis itu. Setelah kupikir kembali, Aya tidak akan pernah memintaku melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas.


"Kau terlambat 10 menit 15 detik," sambutnya saat aku tiba di muka pintu.


Demi jenggot Dylan, kekasih on off-nya, ingin sekali kukemplang kepala gadis itu dengan tas tanganku.

"Kau pikir aku tidak perlu melimpahkan pekerjaanku kepada staffku sebelum pergi?" aku menggertakkan gigi, menahan geram.

"Seharusnya tak perlu. Dengan bakat aktingku aku sudah menghubungi Pak tua, boss galakmu itu dengan mengatakan bahwa aku teramat sangat memerlukanmu saat ini. Dia bahkan mengijinkanmu libur sehari," jawabnya enteng sambil tersenyum.


"Apa?!! Katakan sekali lagi!" 

Gadis nekad, batinku. Dia melakukan itu? ck...

"Masuklah, ganti pakaianmu, lalu ikut aku," perintahnya, "Dan aku tak menerima pertanyaan apapun."

Dia sukses membungkam mulutku yang baru saja hendak meloloskan sebuah tanya.

Aku berganti pakaian santai dengan cepat, lalu menemuinya yang selalu terlihat pas dengan kaos putih bergambar Mickey Mouse dipadukan dengan celana 3/4 serta sepatu kets, dandanan kebanggannya yang tak pernah ribet soal penampilan.

Gadis itu memasangkan ransel di punggungnya, entah apa isinya. Jangan sampai dia mengajakku kemping lagi, kataku membatin.

"Jangan kuatir, aku gak akan mengajakmu kemping kok," katanya santai tanpa melihatku.

Tuh kan? Apa gadis itu menanam chip di otakku agar mudah terbaca?

Aku mengikuti langkah ringannya yang mengajakku entah kemana. Kami berjalan dalam diam, menelusuri jalan kecil di belakang rumah. Setahuku, hanya ada bukit dengan pepohonan yang jarang yang akan kami temui di depan.


"Taraaaaaaaa..... Kita sampai!!!" seru gadis itu dengan nada riang setelah hampir setengah jam lebih kami memutari bukit itu.

Pemandangan yang terhampar di depan mata membuatku ternganga. Sebuah padang ilalang luas yang sedang berbunga. Pucuk-pucuknya memutih, bunga-bunganya seperti kapas, tampak lembut jika disentuh.

"Indah, bukan?" bisiknya saat aku telah berdiri tepat di sampingnya. Aku tak menjawab, tapi aku yakin dia puas melihat binar mataku saat melihat padang di depan kami itu.

"Aku gak sengaja menemukannya saat mengejar Francois beberapa waktu yang lalu," katanya sambil tertawa renyah. 
Francois? aku langsung teringat pada anak anjing dengan bulu tebal berwarna putih pemberian Dylan, kekasihnya.

"Menurut artikel yang kubaca, sekarang adalah saat puncak ilalang-ilalang ini berbunga. Besok mereka sudah mulai berguguran. Karena itu aku memaksa kau kesini hari ini," jelasnya sambil menurunkan ransel. 


"A-aku..." kata-kataku terpatah, aku tak tahu kata apa yang harus kupilih untuk mewakili perasaanku.


Gadis mungil di sampingku itu tersenyum sembari menyatukan jemarinya padaku, "Tak usah berterima kasih. Aku tau hanya ini yang kau butuhkan saat ini. Beristirahatlah sejenak, bebaskan pikiranmu. Aku mau mengabadikan pemandangan langka ini melalui tinta lukisku.


Aku mengerutkan kening, "Kau mau melukisku?" tanyaku sambil melepaskan tautan jari kami dan duduk di antara bunga ilalang yang berwarna putih, mencoba mencari posisi senyaman mungkin.


"Aku tak bilang ingin melukismu, tapi kalau kau ingin jadi relawan yang menyumbangkan separuh badan untuk obyek lukisanku, aku sih gak keberatan," balasnya dengan nada menyebalkan


Aku terbahak dan langsung berlari untuk menggelitiki pinggangnya karena gemas. Dan tawa kamipun terbang terbawa angin padang ilalang yang berhembus kencang. 


Sungguh kau separuhku, kau bahkan mampu mengartikan diamku dengan sempurna.