Minggu, 06 Oktober 2013

Tak Berubah



Dan lagi...

Keraguan itu kembali datang setelah sebuah keputusan hampir tercipta.

Serupa mendung yang tak juga menurunkan hujan,

menggantung tebal pada bayang-bayang senja yang membias jingga.


Lagi...

Aku memilih terkurung dalam sangkar bernama bimbang.

Saat sayap-sayap mulai terentang dan aku siap terbang,

lagi-lagi aku memilih diam saat yang terlihat hanya serupa gersang.


Aku mencintaimu,

seperti bintang yang selalu menemani bulan.

Aku merindukanmu,

seperti siang yang terus mengejar malam.

Aku membutuhkanmu,

seperti kemarau yang menanti hujan.


Tapi ternyata semua begitu melelahkan, percayalah...

Aku ingin berlari dan menghilang

Karena rapalan namamu saja mampu mencipta luka


Tapi lagi-lagi aku diam, gerak maupun lisan.


Tak berubah,

selalu pada akhirnya keraguanlah yang menjawab

dan aku masih tetap di sini, pada tempat yang selalu ingin kutinggalkan...





Berhenti Mencinta

Kosongkan semuanya...
Aku ingin menjadi buta, tuli bahkan bisu
Menutup mata, telinga dan mulut... juga hati

Berhentilah berpikir...
Sesekali bersikap egois itu tak mengapa
Karena aku menghargai diriku sendiri

Berhentilah merasa...
Habiskan semua waktu untuk memanjakan hati
Karena akupun menyayangi diriku sendiri

Diam, dan berhentilah bicara...
Karena aksara yang kucipta melalui bibirku
sama bernilainya dengan kecantikan jingga di ujung senja

Dan hentikan laju airmata yang merusak keindahan kornea
Karena hujanku tak selalu datang sesuai pinta

Lalu berhentilah mencinta, selagi lubang yang tergali belum begitu dalam...