Selasa, 10 September 2013

Aku, Kamu dan Bintang-Bintang di Bawah Telapak Kaki Kita

"Terakhir kali, please... Masa aku pulang ke Surabaya tapi ga bisa sama kamu? Tinggalkan semua kesibukanmu. Kamu packing, bawa sleeping bag dan aku jemput kamu, kita ke kampus bareng."

Aku hanya menghela napas saja mendengar nada memaksa dari seberang sana. Acara camping tahunan yg rutin diselenggarakan oleh kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Acara yg sudah absen kita ikuti dua tahun ini karena kita mulai sibuk dengan pekerjaan setelah lulus.

"Tapi, 'Ri... Apa ga aneh? Kita sudah alumnus loh," kataku mencoba membantah. 
Bukannya aku tak suka, sejak SMP aku justru tak pernah melewatkan kegiatan alam seperti ini. Hanya saja kalau memikirkan tanggung jawab pekerjaan...

"Para junior itu sendiri yang mengundang kita, Wa. Mereka ingin kita hadir. Ga cuma angkatan kita kok, senior kita juga akan ada beberapa yang datang. Kan kita bisa sekalian reuni?" Paksamu lagi.


Reuni? Setelah kita berpisah sejak kamu lulus dua tahun yang lalu dan jarang bertemu, kenapa justru harus bertemu di acara ramai begini? Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan kamu, kalau bisa.


Seakan bisa membaca isi hatiku, aku mendengar kamu tertawa kecil di seberang sana, "Akan ada waktu untuk kita, aku berjanji. Di puncak gunung nanti aku akan memetikkan banyak bintang untuk kamu. Aku yakin bisa. Setelah ini aku akan membuat janji juga dengan para bintang itu, agar tak melayang jauh dari pucuk-pucuk cemara."


Spontan tawaku lepas, mendengar kamu yang slengean bicara puitis begitu sungguh terdengar lucu di telingaku, "Kamu lagi baca buku panduan merayu ya?" Ejekku.


Dia ikut tertawa kencang, "Kok tahu? Entah catatan siapa yang tertinggal di meja kamarku ini, aku cuma baca aja karena kupikir tulisannya juga pas buat ngerayu kamu," jawabmu asal.


Sekali lagi aku tertawa. Eri Satria, teman sekelasku di bangku kuliah. Pria unik yang akhirnya menjadi sahabat terdekatku, lalu menjadi kekasihku hingga saat ini. Kukatakan unik karena dibalik sifatnya yang acuh dan masa bodo itu tersimpan pemikiran yang begitu dewasa.

Tak banyak yang mengetahui hubungan kami, teman-teman yang lain selalu berpikir kalau hubungan kami tak lebih dari persahabatan saja. Itu karena kami selalu ribut dan bertengkar setiap kali bertemu. Selera humornya yang tinggi sering kali justru membuat kami seperti sedang mengadakan pertunjukan lawak dadakan. Tapi saat sedang berdua, dia bisa menjadi kekasih yang baik, yang sempurna, walau sisi romantisnya begitu tipis.

"Oke ya, Wa? Aku anggap kamu oke karena kamu diam aja dari tadi," paksamu lagi.


Dan aku kembali menghela napas, "Ya udah, tapi cuma dua malam kan? Setelah itu kamu langsung antar aku pulang ya? Aku ga mungkin ga masuk kerja senin paginya," negoku.


"Siiiip... As you wish, my love," rayunya senang.






Terdampar juga akhirnya di tempat ini. Aku melihat sekeliling, tiga buah tenda besar sudah berdiri di tengah lahan kosong yang dikelilingi hutan. Satu tenda perempuan, satu tenda laki-laki, dan satu lagi tenda campuran untuk senior dan dosen.


Kutaruh ras ransel dan sleeping bag biruku di sudut tenda, tempat yang dipilih Eri untuk angkatan kami.


"Capek?"


Suara penuh semangat itu serta merta membuatku menoleh. Kuamati wajah yang masih begitu kurindukan itu dengan seksama. Jenggot tipis menghias dagumu yang runcing. Pipimu sedikit memerah karena berkeringat, mirip seperti tomat. Kacamata bening duduk manis di pangkal hidungmu. Kacamata yang baru saja kamu kenakan beberapa bulan ini. Dan entah kenapa aku selalu suka melihat pria berkacamata.


"Aku makin cakep ya?" Tanyamu penuh percaya diri saat menyadari kalau aku masih terus memandangimu tanpa suara.


Aku langsung mengernyitkan keningku dan tertawa terbahak. Mataku melihat sebuah sedotan air mineral dalam kemasan gelas di dekatku, kuambil, kututup satu mataku lalu langsung kudekatkan ujungnya pada mataku yang terbuka, "Iya, cakep banget," jawabku menggoda.


Handuk kecil berwarna biru langsung dilemparnya ke arahku, dan kita mulai ribut. Lagi-lagi pertunjukan lawak dadakan pun banyak penontonnya.


"Tak berubah, tetap saja seperti Tom and Jerry," celetuk seorang senior yang cukup dekat dengan kita.


"Biarin, mas, kalau mereka ga ribut ga bakalan seru," sambut salah seorang sahabatku.


Kamu hanya tertawa renyah sambil mengacak rambutku dan melepaskan ikatannya. Kamu selalu tak suka melihat rambutku terikat, "Ke air terjun yuk?" Ajakmu.


"Ayuk...!" Jawabku bersemangat. Teman-teman yang lain pun sepertinya tertarik dan ingin ikut. 


"Eh... Kalian nanti aja, setengah jam lagi nyusul ya? Ini waktuku dan Hawa," katamu sambil mengerling nakal ke arahku. Dan lagi-lagi semua tertawa melihat betapa merahnya wajahku saat itu. Keributan season kedua pun dimulai. 






Sepertinya kamu benar, sekali-sekali aku memang harus keluar dari rutinitasku di kantor. Nyatanya aku sangat menikmati saat-saat seperti ini, bersama teman, sahabat, dan kamu. 

Menikmati saat-saat dimana aku bisa mendengar tawa kamu, celoteh-celoteh riang kamu, keusilan kamu yang kerap kali membuatku menjadi sorotan dari banyak mata yang tertawa. Cck... kamu memang tak pernah bisa membiarkanku duduk manis dan diam, selalu saja menyulut keributan. 

"Minggu depan aku dipindah ke kalimantan," katamu setelah semua kekacauan itu reda dan setiap orang asik dengan kegiatannya masing-masing.


"Kalimantan?" tanyaku meyakinkan. Aku menatap matanya yang duduk bersila di sampingku. Dibawah rindangnya pohon tak jauh dari api unggun. 


Kamu mengangguk, "Jauh ya?" katanya seakan membaca hatiku. 


Aku hanya menghela napas panjang sebelum kembali menatap lurus ke arah kerumunan orang yang bercanda riang di depan perapian. 'Dia di Jakarta yang dekat saja begitu jarang pulang, apalagi ini?' batinku.


Agak lama kami terdiam. Aku masih asik memeluk lututku sambil melamun, sedangkan kamu bersandar di batang pohon sambil tanganmu memainkan rambut panjangku yang tak terikat. 

"Aku ga mungkin bisa nolak, Wa. Kamu tahu sendiri kan, aku masih termasuk baru di perusahaan ini."

Aku masih terdiam, lidahku terasa kelu. Entah kenapa kali ini terasa begitu berat melepasmu. 


"Makanya itu aku memaksa kamu untuk ikut acara ini. Aku ingin bersama kamu di saat-saat terakhir sebelum aku pergi semakin jauh dan..."


"Aku benci kata-kata terakhir, Ri. Jarak ini saja sudah terlalu jauh, jangan kamu tambah lagi dengan kata terakhir," bentakku pelan agar tak terdengar yang lain.


Kamu tersenyum, tidak kesal ataupun marah mendengar bentakanku, "Maaf ya? Nggak akan lagi," jawabmu lembut. 

"Jangan sedih dong, kan masih banyak pesawat yang terbang? Aku masih bisa pulang seperti biasa," rayumu masih sambil memainkan ujung rambutku di jemarimu. "Kamu mau dibawain apa nanti? Oleh-oleh khas Kalimantan apaan sih? Aku taunya cuma kayu, manik-manik, rotan, mmmh... sama monyet."

"Kok monyet?" tanyaku bingung. 


"Ya kan dekat hutan? Aku bisa bawain kamu satu kalau mau? Gimana?" tawarmu sambil mengangkat sebelah alis. 


Aku tersenyum geli, "Boleh, terus nanti aku kasih nama dia Eri ya?" godaku. 


Kamu memiringkan bibirmu seakan berpikir, "Kalau tidurnya sama kamu sih ga apa-apa," balasmu sambil mendekatkan wajah padaku. 


Kali ini aku terbahak keras, "Kamu minta aku tidur sama monyet? Nggak...!!!" jawabku keras sambil menarik hidungmu dengan kesal. 


"Kan kamu bisa peluk dia kalau rindu? terus bisa panggil dia dengan namaku," jawabmu tak mau kalah.


"What?? Tapi nggak sama monyet juga kali, Ri...!!" kataku di antara derai tawa kita. Itulah kamu, kamu tak pernah memberi kesempatan pada airmata untuk mengalir di pipiku. 


"Aku langsung berangkat dari Jakarta, ga apa-apa kan?" tanyamu setelah tawa kita reda. 


Aku menghela napas panjang, diam sebentar, lalu mengangguk, "Iya. Sudah kamu siapkan semua yang mau dibawa?" tanyaku. 


"Belum." 


Dan aku hanya bisa menahan kesal melihat cengiran tak bersalah di bibirmu. 


Seakan tahu kalau aku akan meledak lagi, kamu langsung memberi seribu alasan, "Abisnya ga ada kamu sih. Dulu waktu aku mau ke Jakarta kan kamu yang bantu aku siapin semua, Wa.. kamu yang ingatin aku apa-apa aja yang perlu dibawa. Kamu juga yang masukin semua ke dalam koper." 


"Perasaan aku dah mirip mbok Inah aja ya?" jawabku ketus sambil menyebut nama pembantu di rumah kamu.


Dan kamu kembali tergelak sambil merangkulkan sebelah lenganmu ke bahuku, "Pasti beres kok, believe me, honey," bisikmu sambil memberi kecupan singkat di keningku sebelum akhirnya kamu berdiri dan menarik tanganku untuk bergabung kembali dengan yang lain. Sayup telingaku mendengar senandung lirih dari bibirmu, "Aku masih di sini untuk setia." Aku tersenyum, lagu Setia dari Jikustik yang akhir-akhir ini menjadi lagu favoritmu.






Malam kedua di perkemahan ternyata tak mulus, gerimis turun saat acara puncak hampir selesai, membuat udara menjadi semakin beku. Aku melihat kamu berlari kecil menuju ke arahku, "Kita pergi sebentar yuk?" ajakmu. 

Aku mengernyitkan kening, "Kemana? Masih gerimis, Ri."

"Ayolah, aku kan belum tepatin janji sama kamu?" jawabmu sambil menarik tanganku setengah memaksa.

'Janji?' tanyaku dalam hati, sedikit bingung dengan maksudmu. 
Setelah berpamitan sebentar dengan rekan lain, kamu langsung mengajakku berlari menembus gerimis ke tempat parkir mobil di bawah area perkemahan. Sedikit sulit karena gelap dan licin. Lalu kamu memacu mobilmu perlahan ke arah jalan beraspal. 

"Kita mau kemana?" tanyaku bingung. 

"Ke atas sedikit, siapa tahu di atas nggak hujan," jawabmu tanpa melepaskan pandangan dari jalan. 

Aku makin bingung, "Memangnya kita mau ngapain sih?" 

Kamu hanya tersenyum sambil terus berkonsentrasi pada jalan gunung yang menanjak dan berliku. Setelah itu kita hanya diam, sambil sesekali kamu melihat ke arahku hanya untuk mengusap pipi atau kepalaku. 
Lalu aku mendengar kamu mendesah sedikit kesal dan menepikan mobilmu di pinggir jalan, di dekat warung-warung kecil yang menjual jagung rebus dan minuman panas "Masih gerimis juga," gumammu. 

"Kamu kenapa sih, Ri? Mau nepatin janji apa?" tanyaku lagi untuk kesekian kalinya. 

Kamu belum menjawab, "Kita ke sana yuk?" katamu sambil menunjuk sebuah tempat duduk kayu di pinggir jurang yang dibatasi pagar besi dan dilindungi oleh payung besar. 

Aku mengangguk dan keluar dari mobil. Kudengar kamu memesan dua gelas teh panas juga jagung bakar pada pemilik warung terdekat.

Aku berdiri sambil memegang pagar besi yang kokoh itu. Agak merinding juga sebenarnya. Dan aku sedikit terkejut saat tiba-tiba kamu memelukku dari belakang, dengan diam. 
Aku masih bingung dengan sikapmu yang mendadak aneh ini, tapi kudiamkan saja. Aku hanya menautkan jari-jari kita yang menempel di perutku. 

"Maaf," bisikmu akhirnya. 

"Untuk apa?" 

"Karena tak bisa memetik bintang yang banyak untuk kamu. Bintangnya ternyata tak menepati janji." 

Aku terhenyak, 'soal itu? Bahkan akupun tak ingat lagi,' batinku. Aku memandang ke arah langit, pekat, bahkan bulanpun mengalah pada mendung. Aku tersenyum dan makin menyandarkan punggungku di dadamu, "Tak apa, mungkin para bintang sedang menjalankan tugas di tempat lain," hiburku agar kamu tak sedih. 

kamupun tertawa pelan sambil menggesekkan ujung dagumu yang ditumbuhi jenggot tipis ke ubun-ubunku. "Mau kuganti dengan bintang yang lain?" tanyamu. 

Aku tersenyum, mendekap tangannya yang masih melingkari perutku dengan erat lalu mengangguk sambil mendongakkan kepala untuk menatapmu. Aku memejamkan mata saat bibir merahmu yang sama sekali tak tersentuh rokok mengecup ujung dahiku sedikit lama. 
"Lihat ke bawah," bisikmu lagi. 

Aku memberanikan diri untuk memandang ke arah jurang yang begitu dalam itu, tapi bukan rasa ngeri yang kudapat, melainkan takjub. Lampu-lampu kota malang tampak begitu indah dari atas sini, seperti lautan bintang.

"Tak kalah kan cantiknya dengan bintang-bintang yang ada di atas? Bintang-bintang yang ada di bawah sana akan tetap menyala walau hujan," katamu lagi. 

Aku nyaris terisak, kamu tak pernah begini, tak pernah seromantis ini. Tapi aku tak ingin merusak malam ini dengan airmata, apapun bentuknya itu. Aku hanya bisa membalikkan tubuhku dan memeluk pinggangmu dengan erat, tanpa melepaskan pandangan dari lautan bintang di bawah telapak kaki kita. 

"Untuk kepulanganku yang pertama mungkin belum bisa dua bulan ke depan, mungkin harus menunggu sekitar lima atau enam bulan dulu, nggak apa-apa ya?" katamu pelan sambil mengusap punggungku. 

Aku hanya bisa mengangguk. Kita bukan remaja lagi yang hanya memikirkan kesenangan.

"Setelah itu aku janji akan segera pulang dan kita pergi lagi ke tempat ini, untuk memandang bintang dari dua arah," katamu dengan yakin. 

Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dalam pelukanmu. Setelahnya kita hanya diam, membiarkan angin malam pegunungan membekukan kulit kita. Biar saja, toh hati kita tetap terasa hangat, kan? 





Lima bulan setelahnya kamu pulang, tapi ada yang berbeda. Wajahmu begitu pucat, pipimu yang biasanya memerah tampak pias. Bibirmu yang biasanya tertawa ceria kini terkatup rapat. Bahkan matamu yang selalu berbinar jenaka pun tak terbuka. Sama sekali tak memandangku yang terus membisikkan namamu. Tidurmu terlalu lelap, di sana, di dalam peti berwarna cokelat itu. Kamu diam, sama sekali tak mempedulikan isakku.


Kamu yang selalu menciptakan senyum dan tawa dari bibirku, kali ini kamu kalah. 

Kamu yang tak pernah membiarkan airmata mengalir di pipiku, kali ini kamu kalah. 
Kamu yang selalu menepati janji sekecil apapun, kali ini kamu kalah. 

Kamu memang pulang, benar-benar pulang. Tapi bukan untukku... 








-Untuk kamu, dan kenangan kita-

Kini kutahu tak mungkin ada waktu
Untuk mencintaimu lagi
Lirih - Chrisye )



Mantan Terindah

By. Hawa & Nara

Hujan tiba-tiba bertandang tanpa diundang. Memberi ketukan-ketukan dengan irama senada pada kaca jendela yang perlahan mengembun. Pada petak-petak ubin di luar, telaga-telaga mungil yang tersamar seolah berlomba menampakkan rupa. Buru-buru kututup tirai berwarna hijau lumut yang menggeliat manja dicumbu angin, lalu beralih menatap seorang gadis yang ku-klaim sebagai separuh jiwaku, yang berbaring menelungkup di atas ranjang beralaskan satin sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.

Sebuah album usang bersampul biru dengan warna yang mulai memudar terhampar di depannya. Kuarahkan kakiku,mendekatinya, lalu duduk di tepi pembaringan.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan rasa penasaran membuncah, menampar-nampar sisi benak.

“Membuka kembali lembar kenang,tentangku dan Eri,” sahutnya tanpa mengalihkan pandang. Tangan kanannya yang semula menopang dagu perlahan turun dan mulai membalikkan satu-persatu halaman album foto itu.

“Ah…! Mantan terindah!” seruku dengan raut wajah menunjukkan ketertarikan. “Ceritakan kembali padaku soal dia,”pintaku bersemangat sembari menyandarkan punggung di kepala tempat tidur.

Gadis itu menghentikan gerakannya, lalu menatapku. Nuansa suram mendadak menyelimuti pancaran matanya yang seolah berkata kau-tahu-betapa-sakitnya-menguak-kenang. Kuberikan senyum terbaikku yang selama ini tak pernah gagal untuk meyakinkannya, bahwa semua akan baik-baik saja. Akan kubuat ia menanak kenang tak lagi dengan belanga duka.

“Aku akan ceritakan tentang Eri,kalau kau juga mau menceritakan padaku tentang Shin-mu,” tawarnya. “Kau tahu, aku sangat penasaran dengan mantanmu yang satu itu. Kau sangat pelit untuk menyulam tutur kalau sudah menyangkut Shin.”

Deg!

Aku terdiam sesaat. Sedikit keberatan, namun akhirnya kuanggukkan kepalaku. Menyetujui tawarannya.
Perlahan gadis itu menghela napas panjang, sebelum mulai bertutur. “Eri adalah satu-satunya kekasih yang pernah menulis puisi untukku. Tak seperti kau yang beruntung medapatkan mantan dengan keahlian meramu kata bak pujangga, mantan-mantanku tak ada yang berjiwa seni. Dan kembali pada puisi yang Eri tulis, isinya sangat pas dengan kata pepatah:jauh panggang dari api, alias gak nyambung,” tuturnya sambil sedikit tersenyum.

“Eh? Kok bisa?”

“Tentu saja. Dia membuatkan sebuah puisi saat kami sedang berada di pinggir pantai dan memakan semangkok ice cream berdua. Alih-alih menulis keindahan pantai dan kebersamaan kami, dia malah menulis tentang warna dan rasa ice cream di dalam mangkok,”terangnya sambil cemberut. Mataku membulat sempurna mendengar penjelasannya, sebelum akhirnya tawaku pecah, menyaingi derap hujan.

“Hahaha, well, setidaknya dia sudah berusaha, walau gagal,” jawabku sambil terus tertawa.

Separuhku ikut tertawa, sebelum melanjutkan ceritanya. “Aku dan Eri itu seperti Tom dan Jerry. Kami ribut tanpa mengenal tempat. Meskipun begitu,teman-teman kami tahu kalau kami berdua saling menyayangi. Yaaah, cara kami berdua mengungkapkan perasaan memang sedikit berbeda dari pasangan lainnya.Kalau menggunakan persentase, maka sisi romantis kami hanya 20 persen, sisanya ngelawak,” katanya memberi jeda sambil terkekeh pelan. “Dia tipikal pria yang acuh tak acuh di depan orang banyak, tapi pada saat sedang berdua dia bisa berubah menjadi sosok yang begitu posesif,” lanjutnya.

Gadisku memiringkan tubuhnya menghadapku, dengan tangan kiri menopang kepalanya. “Lalu Shin-mu? Bagaimana dia?” tanyanya sambil tersenyum menggoda.

Aku tersenyum kecil dan menerawang, mencoba menggali kenanganku bersama lelaki itu. Shin-ku. Ah, bahkan sekedar menyebut ulang namanya di dalam hati membuatku ingin tersenyum.

“Mmmm…, Shin-ku tipikal lelakiyang jarang mengumbar kata cinta. Dia lebih memilih mengungkapkan perasaannya melalui lirik-lirik lagu yang ia ciptakan. Ia tak menyukai kekasih yang posesif, bahkan terkadang menolak perhatian. Di awal-awal hubungan kami, aku cukup sering mengiriminya sms sekedar menanyakan apakah ia sudah makan atau belum,dan sejenisnya, dan kau tahu reaksinya? Ia terus terang mengatakan ketidaksukaannya. Sejak saat itu aku tak lagi mengiriminya sms ataupun menelpon, hingga akhirnya 5 hari kemudian dia yang blingsatan menghubungiku,hahaha,” aku tertawa renyah mengingat kembali tentang lelaki itu.

“Kok bisa? Kalau Eri…, handphone-ku bisa meledak kalau sehari saja aku nggak kasih kabar ke dia. Hampir sama sih denganku, aku selalu panik kalau dia tak memberi kabar,” jelas gadis berkacamata di depanku itu. Ya, aku percaya. Separuhku itu memang memiliki sifat panik yang kadarnya menurutku berlebihan. Entahlah, itu salah satu kelebihannya atau kekurangannya.

Gadis itu lalu kembali menelungkup dan membuka lembar lain dari albumnya. “Lihat ini, Eri-ku sangat menjaga penampilan. Bukan maksudku memuji berlebihan, tapi dia selalu rapi dan wangi. Dia suka pakai parfum atau cologne, dan selalu ribut kalau dua barang itu habis,” katanya sambil menunjuk pada sebuah foto sambil tertawa.

“Kebalikan dari Shin,” sambungku.“Shin suka tampil seadanya. Cenderung slebor, menjurus ke slengean. Celana jeans berkaki lebar dengan kaos putih kurasa penampilan terbaiknya. Terkadang, dia akan memanjangkan jenggotnya,membuat tampangnya terlihat semakin menyeramkan. Dengan rambut ikalnya yang mirip sarang burung itu, ditambah jenggot pula, kurasa kau bisa membayangkan seperti apa rupanya. Tapi entah kenapa, aku selalu takluk dengan pria model begitu,” kataku.

Gadis yang selalu mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda itu terpingkal-pingkal mendengar penuturanku.

“Kau tahu, Shin itu memiliki tubuh yang tinggi menjulang seperti jerapah. Kalau berjalan bersisian, kami akan terlihat seperti jari jempol dan telunjuk. Hal itu yang terkadang membuatku sering berjalan mendahuluinya,” lanjutku sambil menutup mulut,menahan tawaku yang juga ingin meledak mengakhiri penjelasanku yang cukup panjang.

Kedua bola mata soulmate-ku itu membulat.

“Benarkah?!” serunya. Dia membalik posisi tubuhnya menjadi telentang. Kelopak matanya terpejam sebentar sebelum kembali terbuka untuk meneruskan ceritanya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang dibiarkan polos tanpa polesan pemerah bibir.

“Kalau kumat genitnya, Eri juga suka pelihara jenggot. Nggak tebal sih, cuma tipis aja. Dia selalu suka menggesekkan ujung dagunya di ubun-ubunku saat dia sedang memelukku dari belakang. Satu hal yang tak pernah dia lewati saat kami sedang berdua,”kenangnya. “Orang yang melihat kami begitu pasti akan merasa seperti sedang mendapatkan pertanda buruk, mengingat kami yang biasanya selalu ribut di mana saja kapan saja,” katanya lagi sambil tertawa.

“So sweet,” balasku. Aku ikut merasakan kegembiraannya saat menceritakan masa lalunya bersama orang yang sangat ia cintai, mungkin hingga hari ini.

“Shin tak terlalu suka melakukan kontak fisik di depan publik, palingan hanya sebatas berpegangan tangan saja. Tapi itu sudah sangat luar biasa untukku. Aha, ciuman pertamaku dan Shin di depan umum itu terjadi pada suatu senja saat kami menikmati keindahan purnama yang tercetak sempurna di atas Danau Toba. Aku yakin saat itu wajah kami sama-sama memerah. Tapi untunglah suasananya cukup gelap. Kalau tidak aku tak bisa membayangkan betapa kikuknya kami saat melewati pasangan lain yang juga sedang menikmati suasana serupa,” ujarku.

Tiba-tiba aku terlonjak, setengah tertawa aku bertanya pada separuhku. “Kau sadar nggak sih kalau kita benar-benar soulmate?”

“Maksudmu?” tanyanya bingung seraya mengerutkan kening.

Aku melipat kedua kakiku di atas ranjang dan duduk bersila sambil menatapnya. “Coba kau dengar ini, Eri Satria dan Herry Shinatria, mirip kan? Walau aku selalu kesal kalau mengingat nama Satria,” sungutku.

“Kesal kenapa?”

“Namanya sama dengan lelaki yang terus berusaha merebut perhatianmu itu. Lelaki yang selalu mengirimimu puisi itu,” aku menjawab sambil cemberut.

Kali ini dia kembali tertawa. “Oh ayolah, kau masih kesal dengan dia? Satria yang itu, aku berteman dengannya di facebook karena kupikir dia akan bisa sedikit saja menggantikan Eri-ku karena nama akhirnya yang sama, tapi ternyata cuma namanya saja yang sama."

“Aissshhh…, dasar kau,” kataku sambil ikut tertawa dan mencubit lengannya pelan.

“Sayang sekali ya hubunganmu dengan Shin harus berakhir? Padahal aku ingin bisa mengenal seorang pria yang menyukai puisi seperti kita,” katanya dengan nada sedikit sedih.

Aku mengangguk sambil tersenyum.“Itu yang terbaik buat kami berdua. Ada satu hal yang sangat mendasar yang membuat kami tidak bisa bersama. Lagipula, setelah hampir 2 bulan menjalin kasih, kami mulai kehilangan getar-getar perasaan yang membuat kami pada awalnya berpacaran. Kami merasa hubungan kami tak seindah seperti sebelum kami memutuskan untuk berada pada satu komitmen berpacaran. Maka berpisah adalah jalan terbaik yang kami pikirkan pada saat itu.”

“Tapi kau tahu? Setelah putus dengan Shin-ku, aku berhubungan lagi dengan seorang lelaki yang mungkin hampir mirip dengan Eri-mu.”

“Oh ya?” tanyanya dengan antusias.

Aku mengangguk. “Dia sangat menjaga penampilan. Of course, itu modalnya untuk menarik perhatian wanita, bukan? Tapi selama 6 bulan menjalin hubungan denganku, dia kerap kali meributkan masalah alat vitalnya yang berukuran kecil. Dia takut sekali tak bisa memuaskan pasangannya. Dan akhirnya aku hanya bisa berujar sok bijak bahwa kebahagiaan itu tidak dilihat dari seberapa besar ukuran alat vitalnya. Oh gosh, betapa salah besarnya aku ketika mengucapkan kata-kata itu,” kuluruskan kembali kakiku, lalu berbaring menelentang sepertinya. Kurasakan tempat tidur bergerak sedikit liar ketika tiba-tiba gadis itu membangunkan tubuhnya.

“Wakakakakaka. Kau tahu? Itu M-A-S-A-L-A-H, Ayaaa! Tujuh huruf dengan kapital. Ukuran itu menentukan kerasan atau enggaknya kita sama dia. Hahaha, kebalikan sama mantanku setelah Eri yang justru selalu membanggakan miliknya yang besar dan panjang. Ya Tuhaaan, aku beneran tak bisa menahan tawa!
” 

Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi miring hingga wajah kami saling berhadapan. Untuk sejenak kami hanya saling berpandangan sebelum akhirnya derai tawa meluncur dari sudut bibir seolah hendak mengalahkan gemuruh hujan di luar sana. Kami sama terpingkal demi mengingat kembali obrolan kami yang sudah merembet kemana-mana, hahaha. 

Tapi setidaknya aku membuktikan kalau teoriku benar pada gadis itu,bahwa tak selamanya menguak kenang akan menghadirkan kristal bening yang menyulam renda di sudut bulu mata. Right?